"Saya cuma refleks," lanjut Aldi dengan nada dingin dan amat datar. Ucapan yang mampu menyapu bersih seluruh ketegangan intim yang baru saja terjadi di antara mereka. "Saya tidak mau kamu sakit dan akhirnya merepotkan semua orang di rumah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Bidan Senara." Sena tertegun di tempatnya. Kalimat dingin barusan terasa seperti tamparan keras yang seketika mengusik harga dirinya. Ada rasa malu yang sempat menyengat kedua pipinya, namun Sena menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria ini. Dengan perlahan, ia menegakkan kepalanya kembali."Saya mengerti, Dokter Aldian," sahut Sena dengan nada suara yang kembali lugas, formal, dan penuh ketegasan.Tanpa ragu, Sena menyodorkan syal abu-abu tebal itu tepat ke hadapan dada Aldi. "Terima kasih atas perhatiannya. Tapi Anda tidak perlu khawatir, saya tahu persis batasan dan di mana posisi saya berada."  
Terakhir Diperbarui : 2026-08-20 Baca selengkapnya