Share

11. Sadar Diri

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-08-17 08:01:53

            Sena terdiam. Ia menyadari betul betapa dalamnya rasa cinta dan ketakutan pria ini akan kehilangan Karina.

            Tak tega melepas cengkeraman itu secara kasar, Sena memilih bertahan duduk di tepi ranjang, membiarkan jemarinya digenggam erat hingga napas Aldi kembali teratur dan pria itu tertidur lelap.

        &nb

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   198. Udah Gak Jahat Lagi

    Suara deru mesin mobil yang memasuki area halaman rumah memecah keheningan sore di lantai bawah. Tak lama kemudian suara-suara akrab yang langsung memenuhi koridor kamar utama."Tante Sena!" Pintu kamar terbuka lebar. Freya melangkah masuk dengan ransel tersampir di satu bahu, memimpin rombongan kecil di belakangnya dengan pembawaannya yang tenang dan terkontrol. Zio berlari kecil sambil menyeret tas sekolahnya, sementara si bungsu Chika berlari tertatih-tatih mengejar abangnya sambil memeluk boneka kesayangannya erat-erat."Tante Sena!" panggil Chika dengan suara cempreng, langsung merengek manja begitu sampai di sisi ranjang. Sena yang tadinya bersandar lemah seketi

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   197. Diam-Diam Perhatian

    Pertanyaan itu mengambang di udara, membuat suasana kamar utama mendadak kaku. Aldi terdiam di tempatnya. Ia tahu betul bahwa memperpanjang perdebatan di hadapan Sena hanya akan memicu stres dan memperburuk kondisi fisik istrinya. Alhasil Aldi mengurungkan niatnya untuk membalas. Ia memilih langkah yang lebih aman. Dengan tenang, Aldi menatap ibunya sekilas sebelum beralih menangkup wajah Sena, lalu mendaratkan ciuman singkat di kening istrinya."Saya pergi sebentar ya," pamit Aldi lembut, mengabaikan ketegangan yang masih tersisa. Tanpa menoleh lagi ke arah ibunya, pria itu langsung melesat pergi. Begitu pintu tertutup rapat dan suara mobil Aldi berlalu meninggalkan halaman, suasana di dalam kama

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   196. Ada Yang Tersinggung

    "Bunda harus beneran pulang hari ini ya?" suara Sena tercekat, matanya berkaca-kaca menatap Hana yang sedang merapikan tas terakhirnya di atas nakas. Hana menghentikan gerakannya, lalu tersenyum hangat seraya menghampiri ranjang, menggenggam jemari istri Aldi itu erat-erat. "Iya, Sayang. Maaf ya? Di Jakarta Bunda juga ada urusan yang harus diselesaikan.” Namun, Sena menggeleng pelan, tak kuasa lagi menahan isak tangis yang mendesak di tenggorokannya. Ia merengkuh lengan Hana erat-erat seolah enggan melepaskan satu-satunya jangkar emosional terkuat dalam hidupnya. "Sena bakal kangen banget loh nanti."“Bunda juga, Sayang. Sini peluk dulu,” ucap Hana yang langsung merentangkan kedua tangannya.“Makasih ya, Bun udah ngerawat Sena. Makasih banget,” isak Sena yang mulai sesenggukan.“Ka

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   195. Tidak Akan Mengambil Kesempatan

    Sena menggigit bibir bawahnya, merasakan jemari hangat Aldi yang merayap perlahan dari kancing piyama menuju area belakang tubuhnya. Ketika ujung jemari kokoh itu mulai menyentuh pengait pakaian dalamnya, aliran listrik aneh seolah melompati saraf-saraf tubuh Sena."Mas..." rengek Sena manja. Tangannya refleks terangkat, menahan lengan kekar Aldi tepat saat pria itu mulai menanggalkan pengait bra-nya. Sentuhan mendadak itu membuat pergerakan Aldi terhenti seketika. Aldi sontak mengubah posisinya. Pria itu kini terduduk tegak di samping Sena, menatap wajah istrinya yang sudah memerah padam dengan binar mata menggodanya yang begitu gemas."Hmmm, sudah hampir dua minggu kita tidak olahraga panas. Apa kamu mau menggoda saya, Senara Adisti?" goda Aldi dengan suar

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   194. Waktunya Pulang

    Udara sejuk sore itu menyambut kepulangan Sena dari rumah sakit. Dengan gerakan yang begitu sigap dan penuh kehati-hatian, Aldi membopong tubuh Sena keluar dari mobil, memindahkannya perlahan ke atas kursi roda yang telah disiapkan. Aldi menggenggam erat jemari Sena seraya mendorong kursi roda itu melintasi jalur landai menuju pintu utama. Hana, ketiga anak Aldi, dan Mbak Ami melangkah mengekor di belakang dengan raut wajah penuh binar bahagia.Ketika daun pintu kayu jati itu terdorong terbuka, napas Sena seketika tertahan. Di ruang tamu yang lapang, sebuah meja bertaplak putih bersih sudah terhias rapi dengan sajian nasi tumpeng hangat di tengahnya. Fahri dan Sofia berdiri tegap di sana, didampingi oleh seluruh pekerja rumah tangga yang berbaris rapi memberikan se

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   193. Kesungguhan Aldi

    Hampir seminggu sudah berlalu. Kini suasana ruang VVIP terasa lebih tenang. Sena yang terbaring lemah masih ditemani Hana yang setia merawatnya. Suasana hangat itu kian lengkap saat pintu terdorong pelan. Mbak Ami masuk bersama ketiga buah hati Aldi."Siang, Eyang Hana..." sapa Freya sopan seraya mencium tangan Hana, diikuti kedua adiknya. Meski ada sedikit rasa canggung karena jarang bertemu, kehangatan hadirnya cucu-cucu Fahri itu meluluhkan suasana.Freya melangkah mendekati ranjang. "Tante Sena... gimana keadaannya?" tanyanya lembut."Sudah lebih baik, Frey. Terima kasih ya..." balas Sena terharu.Zio menyerahkan buket bunga kecil, sementara si kecil Chika mengelus selimut Sena dengan polos. "Tante Sena sakit ya?" cicitnya. Sena menahan isa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status