Dimas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, senyum tipis terlukis di wajah sawo matangnya. "Ayah dan kakakku menganggap seni hanya buang-buang waktu. Mereka lebih sibuk mengembangkan bisnis yang lain, hanya aku ... di keluarga Jayaningrat ... yang masih menggeluti seni rupa. Itu artinya ... jika ada yang membantuku, mungkin hantu dari kakekku, atau kakek buyutku." Jawaban Dimas membuat semua orang terbengong. "Lalu ... jika hantu itu benar ada, harusnya kalian berfikir 10 kali sebelum menggangguku. Mungkin saja nanti malam arwah kakekku akan mendatangi kalian!" Mendengar kata hantu, bulu kuduk Hendra meremang, tapi ia tak kau terlihat semua orang kalau dirinya takut dengan hantu. "Hantu itu cuma mitos, tidak pernah ada!" "Kalau sudah tahu, kenapa masih menyudutkanku?" imbuh Dimas dengan senyum penuh arti. Hendra menelan ludah, ia tetap tak mau kalah. "Kalau begitu, ayo tunjukan karya senimu yang hancur itu!" "Ayo, Dimas! Tunjukan bahwa apa yang mereka katakan itu ti
Last Updated : 2026-09-20 Read more