LOGIN"Tolong jujur sama saya, Nyimas. Siapa ayah dari bayi yang Anda kandung?" desak Dokter Sabrina saat itu, menatap Ratih dengan pandangan menyelidik yang begitu tajam di balik kacamata bingkai tipisnya.Ratih menggigit bibirnya erat-erat, dadanya bergemuruh oleh keraguan yang menyiksa. Haruskah ia berterus terang?"Apakah orang yang sama dengan pemilik donor sperma untuk bayi tabung Anda?" lanjut Dokter Sabrina tanpa memberikan jeda bagi Ratih untuk mengelak.Ratih memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas berat yang gemetar."Ini demi keselamatan janin di dalam rahim Anda, Nyimas," dokter wanita itu menegaskan dengan suara serius. "Jika mereka memiliki ayah biologis yang sama, hal itu bisa lebih menjamin keselamatan mereka di dalam rahim."Ratih tersentak kecil, matanya mendadak membelalak kaget. "M-maksud Anda ... kalau mereka bukan dari ayah yang sama, itu bisa berbahaya?""Ya," Dokter Sabrina mengangguk perlahan. "Kalau pun berhasil disatukan dan tumbuh dalam rahim Anda, ad
Dimas tak terlalu terkejut dengan kehadiran Ratih di ujung lorong. Wanita anggun itu menatapnya dengan pendar mata yang berbeda—melihat sosok Dimas yang lain, bukan Dimas yang lemah, penurut, dan selalu menunduk pasrah seperti yang selama ini dianggap oleh seisi rumah joglo.Ada kekaguman yang terpancar jernih di kolam mata Ratih menyaksikan pemandangan itu. Sebuah senyum tipis yang amat halus terukir di bibirnya. Dimas yakin, ini bukan pertama kalinya Ratih melihat sisi dominan dan aura kanuragan di dalam dirinya bangkit.Pak Kirno yang ketakutan setengah mati setelah diancam Dimas akhirnya bergegas pergi dengan tubuh gemetar, setengah berlari melintasi lorong menuju halaman luar.Namun, alih-alih menghampiri Dimas seperti biasanya—dengan godaan halus atau bisikan sensualnya—Ratih justru berbalik. Dengan langkah-langkah anggun dan tenang, wanita itu memilih berjalan pergi menuju kamarnya di bangunan utama.Dimas berdiri mematung di tempatnya, mendadak merasa terusik oleh sikap Ratih.
"Kamu ngobrol apa sama Ratih?" "Cuma soal pameran hari ini!" Ia tak merasa gugup karena memang obrolan mereka tentang hal itu. Sama sekali tak menyinggung hal yang lebih intim. "Pameran? Kamu ikut pameran? Dapat uang dari mana buat bayar stand?" cecar Rahayu curiga. Ia sudah memotong uang Dimas bulan ini. Mana mungkin Dimas punya uang? "Pak Rahmat yang kasih kuota." Rahayu menyipitkan mata seolah tak percaya, memang tak percaya. Meski ia tahu dosen pembimbing Dimas itu adalah salah satu yang baik pada Dimas. Tapi mana mungkin sebaik itu sampai memberikan kuota stand gratis? "Jangan bohong!" Dimas memejamkan mata sejenak. "Bu, bisa tidak tak perlu kepo? Yang penting Dimas nggak pake uang Ibu!" "Kamu sudah mulai berani ya! Asal kamu tahu, Dimas. Selama kamu masih tinggal di kediaman ini ... semua urusan kamu harus lapor sama Ibu!" "Kakek kasih Dimas hak yang sama dengan mas Baskoro, tapi ibu yang selama ini mengubah semua itu setelah Kakek meninggal! Apa salah Dimas? Kenapa Ibu
"Emange kamu mau apa dariku?" Hendra menatap pesan itu, ia tak butuh uang. Keluarganya punya banyak uang. Tapi keluarga Ivan punya peternakan kuda. Hendra : "Berikan kuda terbaik kamu ke aku!" Ivan : "Maksud kamu si Samson?" Hendra : "Yang mana lagi, kuda kamu itu yang paling hebat!" Ivan : "Anjing! Minta yang laen!" Hendra : "Aku cuma mau Samson." Ivan : "Asu tenan Kowe! Njing!" Hendra malah tertawa membaca balasan Ivan. Sebenarnya ia tak terlalu butuh bantuan Ivan, ia juga punya uang untuk menyewa preman kalaucima mau melenyapkan Dimas. Tapi ia butuh alibi. Jika ia mengajak Ivan, nantinya kalau terjadi sesuatu ia bisa cuci tangan dan melimpahkan semuanya kepada Ivan. Baginya teman sejati itu tak ada, yang ada hanya partner. Sekutu. Mereka janjian bertemu di sebuah kedai kopi sederhana. "Jadi ... piye?" tanya Ivan. "Kamu punya rencana?" "Bentar lagi kita pergi outbound kan?" Kening Ivan mengerut, ada amarah juga. "Kalau kita nunggu outbound itu kelam
Dimas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, senyum tipis terlukis di wajah sawo matangnya. "Ayah dan kakakku menganggap seni hanya buang-buang waktu. Mereka lebih sibuk mengembangkan bisnis yang lain, hanya aku ... di keluarga Jayaningrat ... yang masih menggeluti seni rupa. Itu artinya ... jika ada yang membantuku, mungkin hantu dari kakekku, atau kakek buyutku." Jawaban Dimas membuat semua orang terbengong. "Lalu ... jika hantu itu benar ada, harusnya kalian berfikir 10 kali sebelum menggangguku. Mungkin saja nanti malam arwah kakekku akan mendatangi kalian!" Mendengar kata hantu, bulu kuduk Hendra meremang, tapi ia tak kau terlihat semua orang kalau dirinya takut dengan hantu. "Hantu itu cuma mitos, tidak pernah ada!" "Kalau sudah tahu, kenapa masih menyudutkanku?" imbuh Dimas dengan senyum penuh arti. Hendra menelan ludah, ia tetap tak mau kalah. "Kalau begitu, ayo tunjukan karya senimu yang hancur itu!" "Ayo, Dimas! Tunjukan bahwa apa yang mereka katakan itu ti
Tangan Dimas tiba-tiba terasa gatal, ingin sekali ia meraih dua gundukan kenyal di depan matanya. Tapi ia segera menggeleng. Mencoba tetap mempertahankan kewarasaanya. Dimas sengaja membuang muka. "Keluarlah, Mbak. Tidak pantas seorang wanita bersuami masuk ke kamar pria lain!"Ratih tampak menggertakan gigi, kenapa Dimas seolah sengaja menjatuhkan harga dirinya? Apakah di mata Dimas ia serendah itu? Ratih menjauhkan diri, menatapnya dengan sorot yang sulit Dimas mengerti. Dimas tahu, ia sudah melukai hati wanita itu. Tapi ia tak bisa membiarkan skandal mereka terus berlanjut. Ratih masih sah sebagai istri kakak tirinya, bukan wanita lajang. Karena jika Ratih lajang, maka ia pasti akan mengejarnya sampai dapat. "Baiklah, Dimas. Tapi aku akan memastikan ...," ia menyentuh perut ratanya. "Janin yang akan tumbuh di rahimku ini ... bukanlah hasil bayi tabung!"Dimas menolehnya seketika, apa niat kakak iparnya itu? Apakah wanita itu masih ingin mencari cara untuk berhasil menyeret mer







