Meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemburu, Mahesa tetap berusaha berbicara dengan tenang."Oh... begitu. Ya sudah, langsung pulang ke rumah ya, Sayang, jangan mampir ke mana-mana lagi. Rapat Mas sebentar lagi juga selesai.""Iya, Sayang," sahut Ellena diselingi senyum. "Aku tunggu di rumah, ya. Bye.""Bye."Sambungan telepon itu terputus.Seketika itu pula, sisa-sisa kehangatan di wajah Mahesa menguap tanpa bekas.Dengan gerakan lambat, ia meletakkan ponselnya di atas sofa ruang kerja, lalu menyandarkan tubuhnya sembari menghembuskan napas berat. Sorot matanya mendingin, menikam hampa ke depan."Kenzo..." bisiknya, menyebut nama itu dengan nada ganjil. "Ternyata kamu mulai berani menyelinap ke kehidupan Ellena."Mahesa mengusap wajahnya kasar. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya mengeras menahan geram."Tidak..." sergahnya pelan pada diri sendiri, penuh penekanan dingin. "Ellena tidak boleh bergantung pada siapa pun di dunia ini."Ia menyunggingkan senyum miring. "Dia cuma boleh berga
Huling Na-update : 2026-07-23 Magbasa pa