Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 23. Pulang Bersama

Share

Bab 23. Pulang Bersama

Author: Elsa Mahesa
last update publish date: 2026-07-23 16:00:07

Usai rapat evaluasi itu dibubarkan, Kenzo bersiap-siap untuk beranjak pulang.

Jarum jam menunjukkan tepat pukul tiga sore. Langit Jakarta yang sejak siang mendung akhirnya tak sanggup lagi menahan beban; hujan deras pun runtuh, membasahi pelataran Gedung NTV.

Kenzo tak langsung bergegas menuju area parkir. Ia memilih berdiam diri di bawah kanopi lobi, bersandar santai di salah satu pilar sembari menikmati derai air yang turun kian lebat.

"Lumayan sejuk juga..." bisiknya pelan pada diri sendiri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 82. Malam yang Mengusik

    "Kalau Anda mau, saya bisa pasang badan untuk memicu game ini."Mahesa masih membisu. Tawaran provokatif dari Dito belum sepenuhnya sanggup meretas pertahanannya."Tapi Ellena sedang mengandung."Intonasi suaranya mendadak berubah teramat dalam dan serius."Aku tak akan pernah mengambil risiko apa pun jika menyangkut dia dan bayiku."Dito bungkam.Satu pertimbangan sakral itu sudah cukup untuk memutus semua niat provokasinya. Ia paham betul, di balik karakter Mahesa yang dingin, keras, dan obsessif, ada satu garis merah yang tak akan pernah ditawar:keselamatan Ellena dan calon buah hati mereka."Kalau begitu, kendali penuh tetap di jemari Anda." Dito mengangkat gelasnya singkat. "Namun jika suatu saat Anda butuh manuver baru, Anda tahu harus mengetuk pintu siapa."Mahesa tak membalas.Ia mendaratkan gelas alkoholnya ke atas meja kaca, lalu bangkit dari empuknya sofa.Namun baru dua-tiga tapak mengayun, keseimbangannya mendadak goyah.Kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya berputar s

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 81. Menguji Cinta Ellena

    Dito meneguk minumannya perlahan, membiarkan es batu berdenting sebelum kembali meloloskan suara."Selama ini Anda selalu memperlakukan Ellena teramat istimewa, Pak."Mahesa tak menyahut. Tatapannya masih terkunci pada pendar cairan di gelasnya."Anda selalu mengalah. Apa pun yang dia inginkan, sebisa mungkin Anda kabulkan tanpa tapi." Dito memutar gelasnya pelan. "Lama-kelamaan, dia terbiasa mengasumsikan bahwa Anda akan selalu memaklumi segalanya. Bahkan tatkala dia secara sepihak membelakangkan momen penting kalian."Kepala Mahesa sedikit tertunduk.Deretan kalimat itu perlahan meresap, mengacaukan logikanya.Dito melanjutkan, kali ini dengan intonasi yang lebih tajam dan serius."Kalau saja dari awal Anda tak melulu bersikap semalaikat itu, mungkin Ellena akan berpikir seribu kali sebelum berani mengacak-acak agenda sacral kalian."Mahesa masih membisu.Ia tahu betul, ada kebenaran pahit di balik analisis Dito.Selama ini, ia memang terlalu gigih mengukir peran sebagai suami yang

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 80. Jarak yang Terasa

    "Sayang... ada yang mau aku sampaikan."Simpul senyum di wajah Mahesa perlahan menguap, berganti raut heran."Ada apa, Sayang?" tanyanya. Sorot matanya berangsur menajam. "Kelihatannya serius sekali. Aku berharap ini bukan berita buruk buat acara kita."Ellena menelan ludah yang terasa mengganjal. Keraguan sempat menghampiri, namun ia memberanikan diri melepas suara."Hari Sabtu lusa, aku ada meeting ekspansi yang teramat penting. Jadi..." Ia menarik napas pendek, menahan getar di dada. "...bisa tidak kalau perayaan anniversary kita digeser sedikit?"Tautan jemari Mahesa di atas meja perlahan melonggar, lalu terlepas begitu saja.Ellena menyadarinya secara presisi—sebuah sinyal tak kasat mata bahwa suaminya tersinggung."Meeting apa, Sayang?" Suara Mahesa terdengar masih tenang dan terkontrol, namun pendar hangat yang sedari tadi melingkupi tempat itu menguap tanpa bekas. "Sampai-sampai harus mengorbankan hari pernikahan kita?"Mahesa memaku pandangannya, menembus manik mata Ellena."

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 79. Kado yang Tak Terduga

    Malam perlahan mulai turun, membungkus kediaman Ellena dalam kegelapan. Cahaya matahari yang sedari sore menyusup di celah jendela kini telah lenyap, berganti pendar remang lampu taman yang memantul pada kaca jendela.Namun hingga detik ini, Ellena belum juga sanggup menemukan muara atas dilema yang terus menggelisahkan benaknya.Ia melangkah mondar-mandir di ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat kaku di dada. Derap langkahnya sarat ketegangan, sementara pikirannya bekerja keras menimbang-nimbang setiap opsi yang mungkin diambil.Rapat ekspansi itu terlalu krusial untuk dilepaskan begitu saja.Namun di sisi lain, momen ulang tahun pernikahannya bersama Mahesa bukanlah sesuatu yang rela ia korbankan.Ellena mendadak menghentikan langkahnya di tengah ruangan.Keningnya berkerut dalam, memutar ulang tanggal yang terpampang pada kalender proyek.Beberapa detik berselang, binar di matanya mendadak mencuat benderang."Ah..."Simpul senyum perlahan terbit di sudut bibirnya."Kenapa tid

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 78. Rahasia dan Pilihan

    Laura langsung menyelinap masuk ke dalam kamar mandi begitu berhasil meloloskan diri dari Kenzo.Begitu daun pintu terkunci rapat, ia menyandarkan punggungnya pada permukaan dingin dinding keramik, lalu meluruhkan napas panjang yang sedari tadi tertahan di tenggorokan."Oke... rileks, La. Jangan panik. Jangan gugup. Tenang..."Ia menepuk-nepuk kedua pipinya pelan, berjuang menguasai diri."Tenang, oke?"Namun, ritme detak jantung di dalam dadanya masih menolak diajak kompromi.Laura mendongak, memaku pandangan pada bayangannya sendiri di balik cermin di atas wastafel. Rona merah di parasnya masih tercetak amat jelas—terlebih tiap kali ingatannya memutar ulang momen tatkala jemari Kenzo menggenggam benda pribadinya tadi."Kenapa juga aku harus se-panik itu, sih?" gumamnya meratapi kecerobohan sendiri.Ia meraup wajahnya gusar, lalu kembali memompa paru-parunya dengan tarikan napas dalam-dalam.Cukup lama Laura terkurung di dalam kamar mandi, murni demi menetralisasi isi kepalanya yang

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 77. Ketika Perasaan Menjadi Misi

    "Ngomong apa kamu barusan, La?"Laura tersentak kecil, refleks memundurkan bahunya."Laura cuma bergumam, Om. Nggak usah dianggap serius," elaknya cepat, berjuang menetralkan raut wajah.Halim memaku pandangannya selama beberapa detik, menyelidik dengan ketenangan yang intimidatif."Kalau begitu, dari mana kamu bisa tahu Kenzo menyimpan rasa pada Ellena?"Laura seketika bungkam.Seluruh pembelaan yang sudah ia susun di kepala mendadak menguap tanpa sisa di hadapan Halim. Pria paruh baya itu terus menatapnya lurus, hingga akhirnya Laura hanya bisa meluruhkan pandangan, menatap ujung sepatunya sendiri."Saya sudah berulang kali menasihati Kenzo agar mengubur perasaan konyolnya pada Ellena," desah Halim pelan, menyisakan keletihan dalam intonasinya. "Tapi tampaknya anak itu masih saja goyah dan gagal menguasai hatinya sendiri."Laura makin salah tingkah, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Ia sama sekali tak menduga Halim sudah mengantongi rahasia itu lebih dulu."Laura."Suara Halim

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status