Beranda / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 30. Target Berikutnya

Share

Bab 30. Target Berikutnya

Penulis: Elsa Mahesa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-26 20:01:21
Perjalanan pulang berlangsung dalam sunyi.

Mahesa tak mengucap sepatah kata pun sejak melangkah keluar dari pemukiman warga tadi. Ia memilih bersandar pasrah di kursi belakang, membiarkan sang sopir membelah kepadatan jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan sore.

Tatapannya menembus kaca jendela, menatap kosong ke luar.

Namun, pelukan hangat dan binar mata bocah kecil tadi masih berputar jelas di kepalanya.

"Om itu malaikat buat kami."

Mahesa menghembuskan napas panjang. Sudut bi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 34. Gerbang Para News Anchor

    Lampu indikator merah di atas pintu ruang kontrol seketika menyala terang.Seluruh kru di dalam ruangan langsung bergerak sigap mengikuti komando."Kamera satu, standby!""Kamera dua, ambil wide shot penonton!""Opening VT... play!"Di deretan layar monitor, video pembuka berdurasi tiga puluh detik mulai meluncur. Cuplikan atmosfer ruang redaksi yang sibuk, kesibukan reporter di medan banjir, hingga gemerlap lampu studio berganti kilat dengan iringan musik bertempo cepat yang memacu adrenalin.Sesaat kemudian...Visual beralih ke panggung utama. Tepuk tangan riuh langsung membahana memenuhi studio.Dua presenter kondang melangkah anggun ke tengah panggung, mengumbar senyum profesional ke arah kamera."Selamat datang di NTV News Anchor Search!""Untuk pertama kalinya, NTV membuka ruang seluas-luasnya bagi talenta muda terbaik bangsa untuk menjadi ikon baru di dunia jurnalisme televisi."Kamera bergerak mulus menyorot jajaran peserta yang duduk rapi dalam balutan busana formal. Wajah-wa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 33. Start Pertarungan

    Keesokan paginya...Mahesa sengaja datang jauh lebih awal ke kantor ALTV.Begitu menyelesaikan beberapa dokumen mendesak, ia langsung masuk ke ruang kerjanya. Laptop di atas meja sudah disambungkan ke layar monitor besar untuk virtual meeting pagi ini.Tak butuh waktu lama, layar monitor mulai menyala.Wajah Richard muncul pertama kali di layar."Selamat pagi, Mahesa.""Pagi, Richard.""Michael sebentar lagi masuk," ucap Richard sembari mengecek koneksinya.Mahesa mengangguk singkat.Beberapa detik berselang, layar kembali berkedip memperlihatkan frame baru. Seorang pria paruh baya berwajah tegas muncul. Rambutnya yang mulai memutih justru makin memperkuat aura karismatiknya. Di latar belakang ruangan Michael, terpampang logo timbul sebuah jaringan televisi raksasa ternama di Amerika.Richard langsung memandu perkenalan. "Mahesa, kenalkan ini Michael Carter. Salah satu petinggi sekaligus Executive Producer di jaringan TV kami."Mahesa mengulas senyum tipis. "Pleasure to finally meet y

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 32. Satu Konsep, Dua Strategi

    Perlahan, sudut bibir Mahesa terangkat tipis. Sebuah rencana baru langsung tersusun rapi di kepalanya.Ia merogoh ponsel, lalu menggeser layar mencari satu nama yang sudah cukup lama tersimpan di daftar kontaknya. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama, sambungan telepon itu terhubung."Hello?" Suara berat seorang pria dengan aksen Amerika kental terdengar dari seberang.Mahesa tersenyum miring. "Good evening, Richard.""Mahesa?" Nada suara Richard terdengar agak terkejut. "Long time no see, Man! Aku hampir mikir kamu sudah lupa sama kawan lama.""Mana mungkin saya lupa sama orang yang pernah banyak bantu saya?"Richard terkekeh pelan di seberang sana. "So, ada angin apa nih mendadak nelepon?"Mahesa menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Saya cuma butuh masukan kamu.""Soal apa?""Konsep acara TV baru."Sembari berbicara, jemari Mahesa lincah melayangkan berkas konsep tersebut lewat surat elektronik. Detik berikutnya, terdengar klak-klik ketukan keyboard dan j

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 31. Takdir dan Ambisi

    Sementara itu di ruang kerjanya, Mahesa masih bergelut dengan satu teka-teki yang belum menemukan titik terang.Konsep acara itu memang sudah aman di tangannya. Namun, mengeksekusinya di lapangan adalah urusan yang sangat berbeda. Ia sadar betul, format unik ini butuh sentuhan dingin dari seseorang yang benar-benar paham seluk-beluk industri penyiaran Jepang.Dan cuma ada satu nama yang melintas di kepalanya: Kenzo.Mahesa mengembuskan napas panjang. Mustahil, pikirnya. Mana mungkin ia menurunkan gengsi dan merangkul orang yang justru paling ingin ia singkirkan?Di tempat lain, suasana kantor NTV perlahan kembali kondusif.Gara-gara insiden raibnya berkas kemarin, sistem keamanan internal langsung dirombak total. Akses data dibatasi ketat dan seluruh alur kerja dievaluasi ulang dari nol.Saat jam makan siang tiba, Kenzo mencolek lengan Halim. "Om, ikut Kenzo sebentar yuk.""Mau ke mana lagi, sih?" gerutu Halim malas. "Om sudah lapar ini.""Bentar doang, Om. Penting."Meski bibirnya te

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 30. Target Berikutnya

    Perjalanan pulang berlangsung dalam sunyi. Mahesa tak mengucap sepatah kata pun sejak melangkah keluar dari pemukiman warga tadi. Ia memilih bersandar pasrah di kursi belakang, membiarkan sang sopir membelah kepadatan jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan sore. Tatapannya menembus kaca jendela, menatap kosong ke luar. Namun, pelukan hangat dan binar mata bocah kecil tadi masih berputar jelas di kepalanya. "Om itu malaikat buat kami." Mahesa menghembuskan napas panjang. Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa ia sadari. Entah sejak kapan... ucapan polos seorang anak kecil bisa mengusik sudut terdalam hatinya, terasa jauh lebih berharga ketimbang sanjungan pamer dari para pebisnis atau pejabat yang biasa mengelilinginya. Mobil terus merayap di tengah kemacetan. Suasana kabin tetap hening. Sampai akhirnya... Bzzzt... Getaran ponsel memecah keheningan. Mahesa menurunkan pandangannya ke layar. Nama Damar tertera di sana. ["Pak, konsep audisi news anchor NTV yang s

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 29. Malaikat di Mata Mereka

    Tak sampai dua puluh empat jam, polisi berhasil meringkus Arga di tempat persembunyiannya. Tanpa waktu lama, statusnya langsung dinaikkan menjadi tersangka.Malam itu juga, Mahesa menyempatkan diri datang ke kantor polisi.Ia berdiri beberapa langkah di hadapan Arga yang duduk tertunduk dengan kedua tangan terikat borgol.Pandangan mereka sempat beradu. Anehnya, tak ada sedikit pun raut amarah di wajah Mahesa. Namun justru ketenangan dingin itulah yang memancarkan aura intimidasi begitu kuat."Saya akan mengingat wajah kamu," ucap Mahesa pelan.Arga perlahan menengadah, menatap bosnya dengan sisa-sisa keberanian yang makin meluruh."Bukan karena jumlah uang yang kamu bawa lari," Mahesa mengambil satu langkah mendekat, sorot matanya menyempit tajam. "Tapi karena kamu tega merampas hak anak-anak kurang mampu."Ia menjeda kalimatnya sejenak. "Dan itu jenis kesalahan yang tidak akan pernah saya ampuni."Tak ada argumen balasan. Tak ada pula raut penyesalan dari Arga. Pria itu kembali tert

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status