Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 24. Api Cemburu

Share

Bab 24. Api Cemburu

Author: Elsa Mahesa
last update publish date: 2026-07-23 20:00:08

Meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemburu, Mahesa tetap berusaha berbicara dengan tenang.

"Oh... begitu. Ya sudah, langsung pulang ke rumah ya, Sayang, jangan mampir ke mana-mana lagi. Rapat Mas sebentar lagi juga selesai."

"Iya, Sayang," sahut Ellena diselingi senyum. "Aku tunggu di rumah, ya. Bye."

"Bye."

Sambungan telepon itu terputus.

Seketika itu pula, sisa-sisa kehangatan di wajah Mahesa menguap tanpa bekas.

Dengan gerakan lambat, ia meletakkan ponselnya di atas sofa ruang kerja, lalu men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 36. Mental di Balik Kamera

    Rafasya berjuang setengah mati mempertahankan fokusnya."Selamat malam, pemirsa. Berikut informasi prakiraan cuaca untuk sejumlah wilayah di Indonesia..."Suaranya masih terdengar stabil. Namun, tiap kali tangannya terangkat menunjuk ikon cuaca di layar, foto wajah konyolnya sendiri seolah ikut "menyambut" pergerakan tangannya.Gumam tawa kecil mulai samar-samar terdengar dari bangku penonton.Rafasya menarik napas dalam-dalam, berusaha keras abai. Tatapannya kembali mengunci lensa kamera utama."...wilayah Jakarta diprakirakan cerah berawan sejak pagi hingga sore hari..."Ia nyaris berhasil melewatinya.Namun, tepat saat tangannya kembali mengarah ke layar, salah satu foto konyolnya mendadak membesar drastis dengan ekspresi menjulurkan lidah yang sangat absurd.Sudut bibir Rafasya bergetar hebat. Ia menggigit bibir dalamnya sekuat tenaga, mencoba menahan dorongan tawa yang membendung di tenggorokan.Sayangnya... benteng pertahanannya jebol.Sebuah tawa kecil akhirnya lolos begitu saj

  • Obsesi Gila Suamiku   Ujian Fokus

    Satu minggu berlalu.Ajang NTV News Anchor Search resmi menginjak babak eliminasi yang paling mendebarkan.Selama tujuh hari penuh, tiga puluh enam peserta telah dibabat habis lewat serangkaian ujian berat yang menguras fisik, mental, dan konsistensi mereka di depan kamera. Satu per satu gugur dan harus mengubur mimpinya di panggung ini.Kini, tersisa delapan peserta terbaik yang berhasil bertahan.Di balik panggung, kedelapan finalis sudah berbaris di posisinya masing-masing.Lorong sempit itu diterangi sorot lampu putih benderang, memantulkan deretan wajah yang mati-matian menyembunyikan rasa gugup, meski detak jantung mereka terpacu kencang.Ada yang memejamkan mata rapat-rapat sembari mengatur napas, ada yang sibuk merapikan kerah jas untuk kesekian kalinya, dan tak seorang pun bersuara.Sebab mereka paham betul... di babak inilah tempat mereka di balik meja berita utama dipertaruhkan."Peserta pertama, standby di posisi!" Suara tegas Floor Director bergema melalui pengeras suara

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 34. Gerbang Para News Anchor

    Lampu indikator merah di atas pintu ruang kontrol seketika menyala terang.Seluruh kru di dalam ruangan langsung bergerak sigap mengikuti komando."Kamera satu, standby!""Kamera dua, ambil wide shot penonton!""Opening VT... play!"Di deretan layar monitor, video pembuka berdurasi tiga puluh detik mulai meluncur. Cuplikan atmosfer ruang redaksi yang sibuk, kesibukan reporter di medan banjir, hingga gemerlap lampu studio berganti kilat dengan iringan musik bertempo cepat yang memacu adrenalin.Sesaat kemudian...Visual beralih ke panggung utama. Tepuk tangan riuh langsung membahana memenuhi studio.Dua presenter kondang melangkah anggun ke tengah panggung, mengumbar senyum profesional ke arah kamera."Selamat datang di NTV News Anchor Search!""Untuk pertama kalinya, NTV membuka ruang seluas-luasnya bagi talenta muda terbaik bangsa untuk menjadi ikon baru di dunia jurnalisme televisi."Kamera bergerak mulus menyorot jajaran peserta yang duduk rapi dalam balutan busana formal. Wajah-wa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 33. Start Pertarungan

    Keesokan paginya...Mahesa sengaja datang jauh lebih awal ke kantor ALTV.Begitu menyelesaikan beberapa dokumen mendesak, ia langsung masuk ke ruang kerjanya. Laptop di atas meja sudah disambungkan ke layar monitor besar untuk virtual meeting pagi ini.Tak butuh waktu lama, layar monitor mulai menyala.Wajah Richard muncul pertama kali di layar."Selamat pagi, Mahesa.""Pagi, Richard.""Michael sebentar lagi masuk," ucap Richard sembari mengecek koneksinya.Mahesa mengangguk singkat.Beberapa detik berselang, layar kembali berkedip memperlihatkan frame baru. Seorang pria paruh baya berwajah tegas muncul. Rambutnya yang mulai memutih justru makin memperkuat aura karismatiknya. Di latar belakang ruangan Michael, terpampang logo timbul sebuah jaringan televisi raksasa ternama di Amerika.Richard langsung memandu perkenalan. "Mahesa, kenalkan ini Michael Carter. Salah satu petinggi sekaligus Executive Producer di jaringan TV kami."Mahesa mengulas senyum tipis. "Pleasure to finally meet y

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 32. Satu Konsep, Dua Strategi

    Perlahan, sudut bibir Mahesa terangkat tipis. Sebuah rencana baru langsung tersusun rapi di kepalanya.Ia merogoh ponsel, lalu menggeser layar mencari satu nama yang sudah cukup lama tersimpan di daftar kontaknya. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama, sambungan telepon itu terhubung."Hello?" Suara berat seorang pria dengan aksen Amerika kental terdengar dari seberang.Mahesa tersenyum miring. "Good evening, Richard.""Mahesa?" Nada suara Richard terdengar agak terkejut. "Long time no see, Man! Aku hampir mikir kamu sudah lupa sama kawan lama.""Mana mungkin saya lupa sama orang yang pernah banyak bantu saya?"Richard terkekeh pelan di seberang sana. "So, ada angin apa nih mendadak nelepon?"Mahesa menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Saya cuma butuh masukan kamu.""Soal apa?""Konsep acara TV baru."Sembari berbicara, jemari Mahesa lincah melayangkan berkas konsep tersebut lewat surat elektronik. Detik berikutnya, terdengar klak-klik ketukan keyboard dan j

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 31. Takdir dan Ambisi

    Sementara itu di ruang kerjanya, Mahesa masih bergelut dengan satu teka-teki yang belum menemukan titik terang.Konsep acara itu memang sudah aman di tangannya. Namun, mengeksekusinya di lapangan adalah urusan yang sangat berbeda. Ia sadar betul, format unik ini butuh sentuhan dingin dari seseorang yang benar-benar paham seluk-beluk industri penyiaran Jepang.Dan cuma ada satu nama yang melintas di kepalanya: Kenzo.Mahesa mengembuskan napas panjang. Mustahil, pikirnya. Mana mungkin ia menurunkan gengsi dan merangkul orang yang justru paling ingin ia singkirkan?Di tempat lain, suasana kantor NTV perlahan kembali kondusif.Gara-gara insiden raibnya berkas kemarin, sistem keamanan internal langsung dirombak total. Akses data dibatasi ketat dan seluruh alur kerja dievaluasi ulang dari nol.Saat jam makan siang tiba, Kenzo mencolek lengan Halim. "Om, ikut Kenzo sebentar yuk.""Mau ke mana lagi, sih?" gerutu Halim malas. "Om sudah lapar ini.""Bentar doang, Om. Penting."Meski bibirnya te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status