“I-iya, Pak.” Kaira mengangguk, meski tidak yakin akan bagaimana nanti Kaisar mengurusnya. Tapi, jika itu adalah Kaisar, bukankah pria ini bisa dipercaya? Kaira mencuri pandang padanya, rambut hitamnya yang tertata rapi, dan tanpa sengaja manik mereka bertemu. Kaira segera menunduk, menghindarinya. “Kenapa?” tanya Kaisar. “Kamu berubah pikiran?” “T-tidak, Pak,” jawab Kaira dengan cepat. Bagaimanapun … berkat Kaisar lah ibunya bisa selamat. Kaisar masih lurus menatapnya saat Kaira memberanikan diri mengangkat wajah. Pandangannya yang teduh dan sedikit lebih lama itu membuat Kaira mengingat bagaimana pria itu menyentuhnya tadi malam. Usapan lembut yang singgah di bibir dan pipi, jejak basah yang ditinggalkan di leher dan dadanya. Semuanya terlintas begitu cepat, mendebarkan jantungnya. Kaira berdeham, ia segera mengalihkan pembicaraan. “I-ini laporannya sudah saya bawa, Pak. Mau diselesaikan sekarang?” tanyanya. Kaisar mengangguk, “Boleh, duduklah!” Satu per satu Kaira sampai
Terakhir Diperbarui : 2026-07-29 Baca selengkapnya