Kaira menggeleng, “Nggak perlu, Mas,” katanya lirih. “Aku juga nggak bisa dansa.” Alih-alih kesal karena Kaira baru saja menolaknya, Kaisar justru tersenyum mendengar itu. “Nggak apa-apa, Kaira. Kamu bisa pegang aku aja.” “Tapi—Mas ‘kan bisa ngajak Mbak Davina?” “Dia udah pulang,” jawabnya ringan. “Lagi pula siapapun boleh berdansa di sini. Mahesa sama Zia juga, ‘kan?” Kaira menggigit bibirnya, mencoba meredam kegugupan yang bergemuruh di dadanya. Saat itu, Mahesa dan Zia yang baru saja selesai terlihat duduk di kursi mereka, tak jauh dari Kaira berada. “Ajak aja si Kaira, Mas,” celetuk Mahesa. “Tapi hati-hati, takutnya Mas Kaisar jatuh karena dia emang nggak bisa.” Mendengar itu, Kaira merasa ia semakin mengerdil. Ketidakmampuannya seperti sebuah hal yang bisa dikatakan oleh Mahesa lewat bibirnya dengan tanpa beban. Tapi, Kaisar tidak mengindahkannya. Pria itu tetap teguh di depan Kaira dengan tangan yang terulur. Kaira melirik sekitar yang sepertinya juga sedang menunggunya
Terakhir Diperbarui : 2026-09-12 Baca selengkapnya