“Buat apa?” tanya Kaira, tak peduli jika itu akan terdengar ketus di telinga Kaisar. Kaisar menatapnya, suaranya tenang saat membalas, “Lukanya perlu diobati, kan?” “Nggak usah, aku baik-baik aja,” tolak Kaira sambil menatap Kaisar dengan kilat kekesalan. Baginya, meskipun pria itu membantu dan bahkan membereskan kekacauan di hall tadi, sikap dingin Kaisar yang sebelumnya ditunjukkan pada Kaira seolah-olah sedang mempermainkan dirinya yang tidak berdaya. “Kalau nggak diobati lebamnya bisa makin parah,” balas Kaisar, tidak memedulikan penolakan itu. “Apa peduli Mas Kaisar? Kenapa Mas melakukan ini?” cecar Kaira, menuntut penjelasan atas sikap Kaisar yang berubah-ubah. “Nanti aja kalau mau tanya, lukamu lebih penting sekarang,” jawabnya. Tanpa banyak bicara, Kaisar berpindah ke sampingnya. “Kasih ke aku obatnya, biar aku obatin sendiri!” Kaira masih bersikeras. “Tolong dengarkan saya, Kaira Arunaya,” ucap Kaisar, lirih yang penuh penekanan. Pria itu menghadapkan tubuh Kaira aga
Terakhir Diperbarui : 2026-08-09 Baca selengkapnya