Setelah cecaran balik Kaira, tak ada satu orang pun yang menjawab. Mereka bergerak tidak nyaman, menunduk gusar, mencoba menyembunyikan sorot mata yang tidak tenang. Kaira meremas tangan sang Ibu, gemetar seluruh tubuhnya, tak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia bisa bicara selantang itu di hadapan semua orang. Rasanya sangat sesak, menyakitkan sekali dituduh melakukan hal buruk tanpa bukti, sementara semalam ia berjuang mempertahankan harga dirinya mati-matian. Luka lebam di wajah dan lengannya ini, tidakkah cukup bagi mereka untuk mengerti bahwa Kaira lah yang menjadi korban? Atau, mereka hanya sedang mencari pelampiasan karena pesta yang harusnya berjalan dengan baik berubah kacau? Zia tampak mendorong napas lelah, matanya mengarah pada Kaira dan dengan lugunya berujar, “Jangan marah, Mbak … kami cuma—” “Cukup!” sela ayah mertuanya, Altair. Pria itu menepuk pinggiran sofa dengan sedikit keras lalu mendengus. Kedua bahu Zia menjengit, terkejut karena untuk pertama kaliny
Terakhir Diperbarui : 2026-08-23 Baca selengkapnya