“Pulanglah. Kau tidak perlu menungguku.” Erlangga menoleh ke arah lain, menolak begitu saja suapan yang ditawarkan Grace. Ia sengaja bersikap kaku dan menjauh, berharap penolakan ini cukup membuat wanita itu tak betah, sadar diri, dan tak lagi berkeras ingin tetap di sana. Sialnya, Grace seolah benar-benar menepati ucapannya. Bagai batu karang yang kokoh berdiri, tak bergeser sedikit pun meski terus diterjang hantaman ombak, ia tetap berdiri teguh di sana. Tak beranjak, tak menyerah, dan sama sekali tak terpengaruh oleh sikap dingin maupun penolakan apa pun yang diberikan Erlangga. “Bukankah sudah kukatakan padamu berulang kali? Aku akan tetap di sini, menunggumu sampai kau pulih sepenuhnya.” Grace tersenyum, seolah tidak takut dengan sorot tajam Erlangga. Sendok berisi makanan yang semula ia sodorkan pada Erlangga, dia tarik kembali dan ia letakkan ke dalam mangkuk sup. Lalu, ucapannya mendadak terkenang, “Dulu, saat kau jatuh sakit, bukankah aku juga yang ada di sini menun
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-12 Mehr lesen