“Kamu sudah sadar? Syukurlah,” kata Erlangga. Di memegangi telapak tangan kanan Nora selagi berkata, “Saya pikir kamu akan pergi meninggalkan saya selamanya. Syukurlah kamu baik-baik saja.”, Nora mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya putih ruangan. Hal pertama yang ia tangkap adalah wajah Erlangga yang tampak begitu kusut. Dengan mata menyipit, Nora mengedarkan pandangan, menyadari tempat ini bukanlah kamar mereka. Saat mencoba bergerak, ia merasakan nyeri di punggung tangan kirinya. Begitu melihat selang infus tertancap di sana, keningnya berkerut bingung. Kenapa ia bisa berakhir di rumah sakit? Perlahan, pecahan ingatannya terkumpul. Ia ingat dirinya mandi, merasa pusing, lalu semuanya gelap. “Kamu mau makan? Ini ... sudah pagi,” imbuh Erlangga dengan suara serak. Nora, yang semula tengah berpikir keras, kini mengalihkan tatapannya padapria di hadapannya. Ia tak segera menjawab sebab wajah Erlangga terlihat pucat, menyuratkan kecemasan yang teramat sangat
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-21 Mehr lesen