“Paksa saja sesukamu. Bukankah selama ini kamu selalu memaksakan kehendak sesukamu, Mas?” tanya Nora sarkas. “Kenapa sekarang tanya-tanya dulu? Biasanya kau langsung saja lakukan apa yang kau mau.” Erlangga tersentak. Ia segera beranjak dari atas tubuh Nora. “Maaf, saya kelewat emosi,” ucapnya rendah, tampak menyesal. Ia berdiri di tepi ranjang, menatap Nora yang membalasnya dengan sorot mata membunuh, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Mendadak, Erlangga takut. Kemarahan Nora yang sebelumnya tampak biasa, namun kali ini kemarahan wanita itu sepertinya tidak main-main. Nora bangkit dari ranjang, kedua tangannya merapikan kemejanya yang kusut akibat ulah Erlangga tadi. Mata birunya memancarkan permusuhan, menatap lurus ke arah manik mata Erlangga. Wanita itu memang tidak menangis, tidak pula meledak-ledak seperti tadi. Namun, keheningan yang ditampilkannya jauh lebih mengerikan dari segala teriakan yang Erlangga dengar. “Nora,” sapa Erlangga, dia sangat gugup ketika melihat sang
Zuletzt aktualisiert : 2026-10-12 Mehr lesen