"Maaf, Mas. Jangan membicarakan hal itu," bisik Savana parau di sela-sela batuknya.Bara dengan sigap menggeser duduknya mendekat, menepuk-nepuk pelan punggung Savana seraya menyodorkan gelas air. Dahinya berkerut dalam, memancarkan rasa heran sekaligus kebingungan. "Kenapa, Savana? Kenapa aku tidak boleh membicarakan hal ini? Bukankah wajar jika sepasang suami istri merencanakan kehadiran seorang anak? Lagipula, Mama dan Papaku menginginkannya."Savana meneguk air putihnya hingga tandas, berusaha membasuh rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menepis pelan tangan Bara dari punggungnya, lalu menatap pria itu dengan pandangan dingin."Sejak kamu menolakku berkali-kali, aku sama sekali sudah tidak memiliki rencana seperti itu, Mas," tegas Savana, suaranya terdengar begitu berjarak. "Tidak untuk saat ini, dan tidak juga di masa depan."Bara terbelalak kaget. "Savana, dengar dulu__""Aku sudah kenyang, Mas. Permisi, aku mau ke kamar," potong Savana cepat.Tanpa menunggu balasan ata
Last Updated : 2026-08-18 Read more