Layar ponsel di atas konsol tengah mobil berkedip-kedip liar, memancarkan cahaya biru terang di tengah kabin yang gelap. Darius Amarta menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menggeser ikon hijau di layar dan menempelkan gawai itu ke telinganya."Halo..." sapa Darius dengan nada suara yang berhati-hati, mencoba menstabilkan napasnya yang memburu.Di seberang sambungan, suara bariton yang tenang, berat, dan penuh wibawa langsung mengalun memenuhi indera pendengarannya—suara seorang pria yang posisinya berada jauh di atas jangkauannya."Malam,Tuan Darius. Calon besanku," sapa Bima Prasetyo dengan nada yang terdengar sangat ramah dan sopan, namun tetap menyiratkan gravitasi kekuasaan yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan otomatis merasa sungkan. "Bagaimana kabarmu malam ini?"Darius merespons dengan kikuk, "Puji Tuhan baik, Tuan Bima... Ada hal penting apa sehingga Anda menelepon saya selarut ini?""Tidak ada hal b
آخر تحديث : 2026-08-31 اقرأ المزيد