Sorot mata tajam ibuku yang menatap penuh harap membuat Darius Amarta terjepit di antara dua pilihan pahit. Di hadapan para tamu terhormat, kolega bisnis elit, dan pimpinan The Eclipse yang duduk di barisan depan, seorang pengusaha sekelas Darius tidak memiliki keistimewaan untuk menolak sebuah ajakan ramah. Dengan rahang yang masih mengatup rapat dan kepalan tangan yang bergetar hebat di balik lipatan jasnya, Darius menarik napas dalam-dalam. Aroma wiski bercampur keringat dingin menguap dari tubuhnya. Secara perlahan, ia merilekskan otot-otot wajahnya yang kaku, lalu memaksakan sebuah senyuman hambar terukir di bibirnya—senyuman terpaksa yang tampak begitu canggung dan getir, menyerupai topeng retak yang siap runtuh kapan saja. "Tentu saja, Nyonya Arimbi... Mari," ucap Darius dengan nada suara yang ditekan agar terdengar tenang, melangkah kaku bergabung ke panggung utama di sisi keluarga besar Prasetyo. Dari jarak beberapa meter di dekat gazebo, aku berdiri menyandarkan sebela
آخر تحديث : 2026-09-01 اقرأ المزيد