“Mas, maaf ya, bukannya mengusir... tapi ini sudah larut malam. Mas Arjuna harus pulang sekarang,” desak Jingga cemas, menatap suaminya yang masih bertengger santai di kursi kayu. “Bahaya di jalan jam segini, banyak begal. Lagipula kalau Mas tidur di sini, kasurnya tidak akan muat. Ini cuma single bed, Mas.”Arjuna menyandarkan punggungnya, menatap Jingga dengan raut tenang yang sengaja dibuat-buat. “Kalau begitu, kamu saja yang tidur di luar. Aku tidur di sini. Aku menyetir sendiri ke sini, badanku juga capek dan mengantuk.”Jingga mendecak sebal, merapatkan bibirnya. “Ck! Mas, aku kan juga masih sakit! Masa aku ditelantarkan tidur di luar? Mau tidur sama Ibu juga tidak mungkin, yang ada aku diomeli habis-habisan karena dituduh nyuekin suami.”“Ya sudah, tidur di situ saja bersamaku. Masih cukup, kok,” sahut Arjuna santai.Sebelum Jingga sempat menyemburkan bantahan lagi, Arjuna sudah lebih dulu bangkit dari kursinya. Jemari Pria itu bergerak cekatan melepas kancing kemejanya satu pe
Terakhir Diperbarui : 2026-10-07 Baca selengkapnya