“Maksudku... terima kasih,” ralat Arjuna cepat. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Pria itu berdehem kaku, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyerang kepalanya. Sebenarnya, ada desakan kuat di dalam hatinya yang ingin menahan Jingga agar tetap tinggal di kamarnya malam ini. Namun, ingatan tentang status pernikahan mereka segera menyadarkannya. Ia tidak berhak menuntut lebih pada Jingga untuk saat ini. “S-sama-sama, Mas,” balas Jingga pelan. Ia menyadari perubahan raut wajah Arjuna yang mendadak kembali tertutup, walau tatapan mata pria itu masih hangat. “Kalau begitu... aku balik ke kamarku ya, Mas? Istirahat yang cukup. Selamat malam, Mas.”Arjuna hanya mengangguk tipis. “Ya. Selamat malam, Jingga.”Jingga menyunggingkan senyum hangat seraya melangkah keluar dan menutup pintu connecting door perlahan.Di dalam kamar yang kembali hening, Arjuna menatap pintu yang baru saja tertutup rapat. Tangannya menggenggam piyama pilihan Jingga, sementara dadanya berdesir ole
Last Updated : 2026-10-13 Read more