Jantung Nasya berdegup dengan kencangnya ketika mendorong pintu restoran star. Dari kejauhan, ia melihat seorang yang sedang menunggunya. Sebelum mengayunkan langkanya, ia menarik napas pelan, dan mengembuskannya. Berusaha untuk tetap tenang. “Siang, Tante,” sapa Nasya. Mama Helena menatap Nasya. “Duduklah.” Suaranya terdengar dingin. Nasya segera menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya. Perasaannya begitu berdebar. Takut dengan situasi saat ini. “Sepertinya Axel sangat mencintaimu, sampai-sampai dia tidak mau melepaskanmu.” Suara Mama Helena terdengar kembali. Tatapannya lurus pada Nasya yang duduk di depannya. Nasya hanya bisa menelan salivanya. Hanya dirinya yang tahu jika yang dilakukan Axel hanya sandiwara. “Jadi lebih baik aku yang memintamu melepaskan Axel.” Suara Mama Helena terdengar begitu tenang. Nasya terkejut, napasnya seolah terhenti sesaat. Sejujurnya, ia sudah menduga jika Mama Helena akan mengatakan itu, tetapi mendengar langsung, tetaplah mengagetkan sekali.
Last Updated : 2026-10-03 Read more