LOGINNasya hanya bisa pasrah ikut Axel. Ia tidak tahu ke mana Axel akan membawanya. Namun, ia takut jika Axel membawanya ke apartemen lagi. Mengingat kejadian waktu itu. Ia takut menimbulkan masalah lagi. Namun, saat dalam perjalanan, ia melihat jika Axel tidak membawanya ke apartemennya. Mobil terus melaju menuju ke tempat lain yang Nasya tidak tahu. Mobil berhenti di sebuah apartemen mewah. Nasya hanya pasrah ikut Axel. Sampai akhirnya, mereka sampai di satu unit apartemen. Di depan pintu, Axel menekan bel dan menunggu pintu dibuka bersama Nasya. Sesaat kemudian pintu terbuka. Tampak Aletha di dalam sana. Wajahnya tampak terkejut melihat kedatangan Axel dan Nasya. “Ada apa kalian ke sini?” tanyanya. “Aku mau menitipkan Nasya dulu padamu, Kak.” Axel menatap lekat wajah kakaknya. Aletha melihat Nasya yang masih memakai baju kerja dengan wajah yang pucat dan make up yang sudah luntur akibat menangis. Ia yakin terjadi sesuatu dengan Nasya. “Ayo masuk dulu.” Aletha melebarkan pintu.
Tangan Andre semakin keras memegangi pergelangan tangan Nasya. Seolah tidak melepaskan Nasya sama sekali. “Lepaskan aku.” Nasya terus menarik tangannya. Berusaha melepaskan diri. “Kamu ini jual mahal sekali. Apa kamu mau dengan CEO yang lebih kaya, makanya menolakku?” Andrea menarik tangan Nasya. Membuat tubuh Nasya masuk ke dalam pelukan Andre. Tangan Andre langsung mengunci pergerakan Nasya. Hingga wanita itu tidak bisa lepas. “Lepaskan aku!” Nasya berusaha mendorong tubuh Andrea sekuat tenaga. Sayangnya, tenaga Andre lebih kuat, hingga membuat Nasya kesulitan. “Ayolah. Jangan jual mahal. Jika kamu baik-baik, maka aku akan bersikap baik. Aku bisa berikan lebih dari yang Pak Axel berikan.” Andre mengeratkan pelukannya. “Lepaskan saya.” Nasya terus berontak. Sayangnya, Andre semakin mengencangkan pelukannya. Akhirnya Nasya memilih cara lain. Ia menendang kejantanan Andrea agar bisa melepaskan diri. Benar saja, lutut Nasya mengenai kejantanan Andre, seketika pelukan itu terle
Akhirnya lift bisa kembali beroperasi dengan normal. Tepat saat itu juga Axel datang. Semua karyawan membiarkan Axel masuk lebih dulu. Nasya dan Andrea masuk setelahnya. Andre dan Nasya berdiri di depan Axel dan bersebelahan. “Kamu sudah coba restoran di apartemen kita belum?” Tiba-tiba Andre menatap Nasya. Mengajak wanita itu bicara. Nasya sebenarnya tidak enak diajak mengobrol Andre, apalagi ada Axel di belakangnya. Namun, tidak mungkin“Belum, Pak.” Ia menggeleng. “Wah … kamu harus coba. Di sana makanannya enak sekali.” Nasya memaksakan senyumnya. “Iya, saya akan coba, Pak.” Mendengar obrolan Nasya dan Adrea itu, Axel sedikit kesal. “Nasya, mundurlah. Berikan ruang buat mereka yang keluar lebih dulu.” Suara Axel terdengar. Mendengar itu, Nasya langsung mengangguk. “Baik, Pak.” Ia segera mundur.Pintu lift terbuka, satu per satu karyawan keluar dari dalam lift. Semua karyawan keluar, sampai tersisa hanya Axel dan Nasya saja di dalam. “Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat den
Mendapati pertanyaan itu Axel diam. Ia tampak memikirkan hal itu. Namun, sesaat kemudian ia membelai lembut rambut Nasya. Berusaha menenangkan kekasihnya itu. “Aku akan membujuk mama. Jangan khawatir.” Walaupun Axel berusaha untuk menenangkannya, tetap saja Nasya tidak bisa tenang. Ia masih kepikiran dengan orang tua Axel yang tidak menyukainya. Jika dulu, Nasya tenang dan tidak memikirkan hal itu karena yakin kelak hubungannya dengan Axel akan berakhir. Berbeda dengan sekarang, ia benar-benar kekasih Axel. Tidak lagi bisa menghindar dari kebencian dari Mama Helena. Karena sudah larut malam, akhirnya Axel pamit untuk pulang. Ia tidak mau membuat Nasya tidak nyaman dengan berada di apartemen terlalu lama. “Nanti aku akan hubungi.” Axel mendaratkan kecupan sebelum pulang. Nasya mengangguk. Melepaskan kekasihnya itu untuk pulang.Namun, baru beberapa saat Axel keluar, tiba-tiba suara ponsel Nasya berdering. Saat Nasya mengecek ternyata itu adalah Axel. Pria itu melakukan panggilan
Sorenya Nasya sengaja membeli bahan-bahan masakan untuk dipakai membuat makan malam nanti bersama Axel. Rasanya jantung Nasya begitu berdebar ketika membayangkan jika ia akan makan malam ini bersama Axel. Usai membeli bahan masakan, ia langsung pulang. Sesaat setelah sampai di apartemen, Axel datang.“Kamu sudah beli bahan masakan ternyata.” Axel melihat beberapa bahan masakan di atas meja dapur. “Iya, tadi aku sekalian cari bahan masakan.” Nasya tersenyum. “Baiklah, karena kamu sudah beli bahan masakan, maka aku yang akan memasak. Kamu duduk saja.” Axel mendorong Nasya perlahan untuk duduk di kursi di ruang makan kecil di dekat dapur.Kemudian Axel kembali ke dapur. Nasya menunggu Axel dengan tenang. Memerhatikan Axel yang mulai beraksi di dapur. Pria membuka jasnya kemudian, itu menggulung lengan kemejanya. Ia mengeluarkan bahan-bahan masakan yang dibeli Nasya. Tangannya begitu lihai beraksi di dapur. Nasya pernah dengar sendiri jika Axel sering masak makanan sendiri sewaktu
Nasya berdebar-debar menunggu ucapan temannya itu. Ia takut temannya tahu hubungannya karena menghubungkan kejadian tadi.“Apa jangan-jangan kalian bakal kencan bareng?” tanya teman Nasya sambil tertawa. Saat teman Nasya mengatakan hal itu, Nasya langsung bernapas lega. Ternyata temannya tidak berpikir yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan Axel. “Mana bisa aku kencan bareng Pak Axel. Kami beda status. Kalau Pak Axel kencan di tempat mewah, aku paling juga cuma di pinggir jalan.” Nasya tertawa. Berusaha untuk tetap tenang agar tidak membuat curiga teman-temannya. “Iya juga.” Teman Nasya ikut tertawa. Akhirnya makan siang yang sedikit menegangkan itu berakhir. Setelah selesai makan, Nasya dan teman-teman bersiap untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing. Namun, langkah Nasya terhenti ketika melihat kue coklat. Tadi dia ingat jika Axel belum makan. Jadi ia berinisiatif untuk membeli kue tersebut. “Sya, kamu belum kenyang?” tanya salah seorang teman. “Iya, aku masih lapa







