Lana memiringkan kepala. Dia pandangi Tama yang tengah memperbaiki jendela kamarnya. Cara bekerjanya, gesture tubuhnya. Selera makan, bahkan ekspresi wajahnya adalah Aro sekali."Mungkinkah?" Dia bergumam.Selain itu ada sesuatu tak biasa dalam diri Lana saat berhadapan dengan Tama alias Aro. Ada keinginan untuk bicara. Benar, Lana selalu terpancing ingin mengeluarkan suaranya jika sedang berinteraksi dengan Tama."Nyonya, apa di sini ada tangga. Saya ingin memperbaiki atap yang bocor.""Memang asbesnya sudah ada?"Lihat, Lana siap membuka suara ketika tangannya buru-buru membuat tanda isyarat. "Sudah, tadi Pak Pur yang belikan. Nyonya tinggal ganti saja ke beliau.""Tapi ini sudah petang. Besok saja. Berdoa saja semoga malam ini tidak hujan."Aro manut saja. Dia beresi alatnya. Untuk kemudian pamit pada Lana. Sang istri mengangguk sopan setelah menyerahkan satu kantong berisi bakpao yang masih hangat.
Last Updated : 2026-09-27 Read more