LOGINLana memiringkan kepala. Dia pandangi Tama yang tengah memperbaiki jendela kamarnya. Cara bekerjanya, gesture tubuhnya. Selera makan, bahkan ekspresi wajahnya adalah Aro sekali.
"Mungkinkah?" Dia bergumam.Selain itu ada sesuatu tak biasa dalam diri Lana saat berhadapan dengan Tama alias Aro. Ada keinginan untuk bicara. Benar, Lana selalu terpancing ingin mengeluarkan suaranya jika sedang berinteraksi dengan Tama."Nyonya, apa di sini ada tangga. Saya ingin memperbaKamar Aro yang sudah sekian lama tidak ditinggali, mendadak mencekam. Sang empunya kamar berdiri dengan wajah diliputi amarah. Marah luar biasa.Dia yang terakhir kali masuk ke ruangan itu. Dia ingat betul tiap detail kamarnya. Termasuk letak beberapa barang.Instruksinya jelas, selain Radit tidak boleh ada yang masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih. Dia tahu benar cara kerja Radit. Rapi tanpa mengubah apapun di kamarnya.Namun kali ini Aro menemukan hal lain yang mengejutkan. Laci di samping ranjang tidak tertutup sepenuhnya.Seolah ada yang membuka lalu menutupnya dengan terburu-buru.Selain itu kalung dan cincin yang dimaksud Lana, hilang. Kotaknya ada tapi isinya entah ke mana. Terang saja hal itu membuat Aro murka. Radit yang dipanggil, datang tergopoh-gopoh dengan wajah keheranan."Ada apa, Tuan?" Aro menatap tajam pada Radit. Si pencuri laptop dan tablet Lana. Tapi malah dia percaya menjaga kamarnya."Kamu nyuri lagi?"Terkejut Radit mendengar tuduhan sang tuan."Mencuri? Men
Aro urung masuk kamar ketika Arash muncul di toko Lana. Pria itu langsung duduk di depan Lana. Wajah Arash tampak sumringah. Berbeda dengan Aro yang mendung. Siap menumpahkan petir kalau bisa.Arash baru akan bertanya lebih lanjut ketika Aro muncul di depannya."Mau apa kamu?" todong sang gubernur."Aro, kamu di sini?" Arash lumayan terkejut mendapati pria itu ada di toko Lana."Kenapa? Tidak suka?" Aro mengangkat dagu seolah menantang Arash."Bu-bukan begitu. Na, kamu balikan sama dia?""Enggak." Tegas Lana waktu menjawab."Terus dia mau ngapain di sini?""Gak tahu."Tangan Aro terkepal. Dia kesal dengan jawaban Lana. Namun dia kemudian sadar. Kalau dia memang salah. Layak diacuhkan. Pantas untuk diabaikan."Kenapa kamu pulang? Bukannya kamu betah di sana?""Dia gak mau balik ngantor kalau aku gak ikut pulang."Arash terbelalak. Ini mengejutkan, sejak kapan Aro menjadikan Lana prioritasnya."Trik baru ya?" ledek Arash pada Aro."Bukan urusanmu," jawab Aro tajam."Padahal aku sudah s
Tawa menguar dari toko Lana ketika Aro menyentuh handle pintu kaca. Dia urung masuk. Lebih dulu dia perhatikan Lana yang tertawa lebar bersama Mega dan Bintang.Sudah lama Aro tidak melihat Lana tertawa lepas seperti itu.Sangat melegakan ketika Ali berhasil melacak keberadaan Lana. Harusnya pria itu tahu kalau Lana tidak akan ke mana-mana. Jika tidak ada masalah."Dua bulan, Mbak. Gila, ini healing atau mau pindah," celetuk Mega dengan wajah berbinar. Atasannya kembali."Sebenarnya jika tidak dipaksa pulang, aku memang niat tinggal di sana. Enak tahu tempatnya," aku Lana terus terang."Lalu tempat ini bagaimana?" Bintang mengajukan protes."Kan ada kalian. Lihat semua baik-baik saja. Kalian mengelola tempat ini dengan baik. Aku tinggal terima setoran."Mega dan Bintang mendengkus. Walau kemudian mereka terbahak."Capek tahu, jawab pertanyaan Mbak Lana mana. Beuhhh, tiap hari ada aja yang nanya," keluh Bintang yang makin hari kian glowing saja."Jawab aja kabur dari rumah."Ketiganya
"Syukurlah, Aro. Kamu balik, Lana berhasil bujuk kamu."Yang disebut namanya cuma melirik tajam pada sang asisten.Setelah drama Wisnu dan kroconya diusir paksa dari ruangan Aro. Wisnu jelas marah besar. Pria itu bahkan sempat memaki Aro. Namun suami Lana hanya diam. Tak sedikitpun terpancing."Kemarin kalian yang antusias mengirimnya jauh ke luar kota. Sekarang kalian mohon-mohon supaya dia bujuk aku balik.""Itu, itu. Kami cuma bantuin dia. Dia minta tolong. Kami bantulah. Lagian siapa juga yang gak kesel sama kamu."Reza terus mengoceh. Tidak peduli Aro memicing padanya."Selain Lana tidak ada yang boleh mengkritikku."Reza menganga sebelum angkat tangan. "Oke, fine. Asal kamu ingat. Jika kamu ulangi lagi kesalahan yang sama, kita bakal kirim dia ke tempat yang tidak akan bisa kamu temuin.""Dia itu sebenarnya siapanya kalian. Dia istriku, cintanya Laiv mungkin. Tapi kamu, Arash, Gia, Radit. Atas dasar apa ka
"Tidur dulu. Nanti ada yang datang memeriksa.""Gia?" Lana meringis ketika Aro menyentil dahinya."Kamu pikir aku akan membiarkan mereka mendekatimu. Setelah semua yang mereka lakukan."Itu lagi yang dibahas. "Tuan Gubernur, saya pergi karena keinginan saya sendiri.""Tapi mereka memfasilitasi. Aku tidak akan semarah ini jika kamu pergi seperti tahun lalu. Kamu jelas pergi sendiri. Tapi ini, ada Laiv yang membawamu ke kota B. Ada Gia yang membantumu keluar dari rumah sakit. Tanpa persetujuanku.""Tapi Tuan memang tidak peduli."Aro memejamkan mata. Kalah! Dia tidak membantah hal itu."Lana, aku minta maaf."Lana memalingkan wajah. Sungguh sulit melupakan bagaimana Aro membuat lengannya patah. Lantas meninggalkannya begitu saja. "Tuan masih ingat yang saya katakan saat itu, saya benci Tuan."Lana membalikkan badan. Mengubur dirinya dalam selimut. Seperti kebiasaannya. Aro hanya bisa menghela napas. Dia harus lebih bersabar menghadapi Lana. Dia tahu kesalahannya sangat besar. Wajar j
"Kenapa Tuan berubah?"Aro memandang Lana. Ekspresi tidak percaya tersirat nyata di parasnya. "Aku ingin perbaiki semua. Memulai dari awal."Hening membalut keduanya. Hingga tawa Lana meledak. Tawa yang membuat Aro mengerutkan dahi."Tuan jangan bercanda. Pernikahan kita sejak awal sudah ditentukan akhirnya. Tidak perlu diperbaiki, lambat laun kita akan kembali pada kehidupan asal kita.""Tuan sebagai gubernur dengan Nona April sebagai pendamping. Dan saya orang biasa yang berjuang untuk bertahan hidup."Sorot mata Aro menggelap. Detik setelahnya, Lama dibuat jantungan ketika Aro sudah berdiri di hadapannya. Begitu dekat, nyaris tak berjarak. Dua lengan kekar Aro berada di sisi kanan dan kiri Lana. Memenjarakannya tubuh ramping Lana yang kian hari membuat Aro makin hilang kendali."Dilarang mendekat!"Lana gugup. Panik, juga takut. Bayangan malam Aro mengambil kehormatannya kembali muncul. Ia lumayan







