"Pelan-pelan, Tuan. Sakit. Awww."Dengkusan kesal terdengar."Potong saja.""Eh, jangan. Lama buat manjanginnya.""Di-ekstention kalau begitu.""Gak mau, rambut orang mati yang dipakai. Nanti aku dikejar sama roh mereka.""Tidak masuk akal."Aro mendorong kasar napasnya. Sudah lima menit dia berkutat dengan rambut Lana yang menggulung kancingnya. Menjeratnya dengan kuat."Pelan dikit."Kata Lana dengan mata terpejam. Sama sekali tak berani membukanya. Takut dengan pemandangan di depannya.Di hadapannya ada dada bidang Aro yang mengintip dari balik kemeja yang kancingnya berselimut rambutnya. Terpaksa dibuka hingga otot di dalam sana melambai-lambai penuh goda.Jika dia menunduk, lebih parah lagi. Lana akan segera berhadapan dengan area pribadi Aro yang tersembunyi di balik celana hitam slim fit."Jangan lihat ke sana, tolong. Please."Entah benar atau tidak Lana sempa
Dernière mise à jour : 2026-08-30 Read More