Inicio / Fantasi / Pedagang di Antara Dua Dunia / Chapter 1: Akira Shinzō

Compartir

Chapter 1: Akira Shinzō

Autor: Double Bie
last update Fecha de publicación: 2026-07-30 14:05:24

Tokyo tidak pernah benar-benar tidur.

Bahkan ketika jam digital di sudut kamar menunjukkan pukul 22.47, suara kereta yang melintas masih terdengar samar dari kejauhan—deru ritmis yang naik turun seperti nafas kota yang tak pernah lelah. Cahaya gedung-gedung tinggi memantul di jendela apartemen kecil yang ditempati Akira Shinzō, menari-nari di langit-langit seperti aurora buatan yang terbuat dari lampu neon dan reklame.

Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas panjang sambil membuka satu kancing kemejanya. Kancing yang tadinya terikat sempurna hingga mencekik leher, kini longgar seketika, dan ia bisa merasakan ketegangan di bahunya mulai perlahan luruh.

"Hari yang melelahkan..." gumamnya pada diri sendiri, suaranya terdengar kecil saat langkah itu terhenti di depan pintu rumahnya.

Derit kunci, suara yang setiap hari tersengar saat Akira membuka pintu rumahnya telah menjadi hal yang biasa.

“Mungkin pintu ini lebih tua dari ku” gumamnya.

Ia meletakkan tas kerjanya di lantai dengan bunyi thud yang berat—tanda bahwa ta situ seperti juga sedang kelelahan menemani tuannya. Sepatu kulitnya ia lepas dengan tumit, membiarkannya tergeletak di dekat pintu seperti dua bangkai hitam yang kelelahan.

Langkahnya tertatih menuju dapur kecil di ujung ruangan. Lemari es berwarna putih kusam itu mengeluarkan dengungan rendah saat ia membukanya.

Kosong.

Hanya ada sebotol air mineral yang tinggal setengah dan sekotak susu yang akan kedaluwarsa dalam dua hari. Sebuah telur kesepian tergeletak di rak paling bawah, cangkangnya retak tipis.

Akira tersenyum tipis—senyum yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali ia menghadapi kenyataan.

"Kurasa belanja akhir pekan lagi."

Ia tidak miskin.

Meski tidak memiliki warisan, dia telah memiliki rumah meski masih lajang. Gajinya sebagai karyawan di sebuah toko barang antik ternama di Tokyo tergolong cukup. Cukup untuk membayar sewa, makan, dan sesekali memanjakan diri. Ada saldo yang lumayan di rekening tabungan dari hasil kerjanya yang selama ini tersimpan dengan disiplin setiap bulannya.

Namun ia juga tidak kaya.

Bukan tipe orang yang membelanjakan uang untuk kemewahan. Bukan tipe yang memamerkan status dengan jam tangan mahal atau mobil asing. Hidupnya sederhana—mungkin terlalu sederhana untuk ukuran seorang pria seusianya yang sudah bekerja di dunia barang antik selama 2 tahun 8 bulan.

Selama itu, ia telah menghabiskan waktu di antara rak-rak berdebu yang dipenuhi benda-benda berusia ratusan tahun. Toko tempatnya bekerja bernama Sakura Antiques, sebuah toko kecil di distrik Yanaka yang dikelola oleh seorang pria tua bernama Takeda-san. Setiap hari, Akira membersihkan patung-patung perunggu, memoles perak yang menghitam, dan memperbaiki jam dinding tua yang berhenti berdetak.

Rekan kerjanya sering bercanda bahwa Akira bisa menceritakan sejarah sebuah benda hanya dengan menyentuhnya—dan membuat pelanggan jatuh cinta pada cerita itu hingga mereka rela membayar berapapun harganya.

Meski belum genap 3 tahun bekerja, bagi Akira barang antik bukan sekadar benda mati. Dia seperti mendapatkan berkah sebagai ahli barang antik, meskipun itu hanya berasal dari pengalaman dan pembelajarannya dengan pemilik toko.

Menurut Akira, barang antik adalah jendela menuju masa lalu.

Setiap goresan pada permukaan kayu adalah jejak tangan yang pernah menyentuhnya.

Setiap pudar pada lukisan adalah saksi bisu dari cahaya matahari yang pernah menyinarinya.

Setiap retak pada keramik adalah kenangan akan jatuh yang pernah dialaminya.

Akira memahami semua itu dengan gaya yang hampir spiritual. Dan karena pemahaman itulah ia selalu berhasil meyakinkan pelanggan.

Pengetahuan dan keahliannya dalam menilai barang antik sering dimanfaatkan toko. Koleksi toko terus bertambah dengan benda-benda bernilai tinggi berkat kemampuannya menemukan harta karun tersembunyi di pasar loak. Pelanggan setia terus berdatangan karena rekomendasinya.

Namun gajinya hampir tidak berubah.

Setiap kali ia meminta kenaikan, Takeda-san tersenyum ramah dan berkata, "Tunggu tahun depan, Akira-kun. Saat ini toko sedang fokus mengembangkan penjualan."

Tahun depan terus berganti tahun depan.

Akira menatap langit malam dari balik jendela—lautan lampu kota yang berkelap-kelip, gedung-gedung pencakar langit yang saling mendominasi cakrawala. Di kejauhan, Menara Tokyo bersinar seperti obor raksasa yang menusuk gelap.

"...aku tidak akan pernah punya usaha sendiri jika terus seperti ini," gumamnya.

Cahaya berekor panjang—seperti kilat yang jatuh perlahan—membelah langit malam di Tokyo. Warnanya biru keperakan. Lintasannya meninggalkan jejak tipis yang berpendar beberapa detik sebelum memudar.

Akira menengadah. Tatapannya yang tadinya kosong, tiba-tiba terpaku pada satu titik di langit.

“Bintang jatuh," gumam Akira pelan yang disambut dengan kepalan tangan penuh harap, mata yang perlahan memejam dan mulut yang bergerak komat kamit sejenak.

Akira masih percaya dengan sugesti “Bintang Jatuh” itu. Doanya seakan menembus langit, terbawa oleh Bintang yang jatuh itu. Seakan, bintang itu membawa doanya kepada Dewa Agung agar langsung dapat akses VIP, alias langsung di kabulkan.

Doa Akira

“Dewa, Aku hanya ingin jadi pedagang, kaya raya dan sukses dimanapun aku berada. Berkahi aku dengan keberuntungan yang tidak ada habisnya, dan berikanlah aku kekuatan untuk menggapai kesuksesan itu,”

Mulut yang komat kamit tadi, hanya mengharapkan atau fokus pada satu “KAYA”. Akira menekankan kata itu dengan sangat serius, sinkron dengan bibir-otak dan hatinya.

Itulah impiannya sejak kecil.

Sebelum semuanya hilang dari hidupnya, akira ingin membahagiakan semua orang yang pernah ada dalam hidupnya dengan kekayaan yang dianugerahkan kepadanya. 

Namun, kini, dia hanya sendiri. Di rumah itu, dia hanya berteman dengan dinding dan guling. Bercerita hanya dengan foto yang mati, tidak ada yang mendukungnya lagi.

Meskipun demikian, Akira masih terobsesi untuk menjadi kaya raya. Walaupun semua telah pergi meninggalkanya, dia sangat ingin membahagiakan dirinya sendiri. 

"Aku harus menjadi kaya Dewa," tegas Akira di tengah malam yang sendu itu. 

"Tidak ada lagi yang aku inginkan selain itu dewa. AKU INGIN JADI ORANG KAYA DEWAAAAAAAA" sontak teriakan Akira membuat seluruh tetangganya menghidupkan lampu rumah mereka. Suasana hening itu tiba-tiba berubah menjadi riuh usai teriakan Akira membangunkan tidur tetangganya.

"AKIRA..BODOH! Mengapa Kau Teriak?" ujar seorang kakek yang kesal karena tidurnya terganggu oleh Akira.

Pria bodoh yang otak dan bibirnya tiba-tiba tidak singkron itu langsung menunduk dan bersembunyi. Dengan sigap dia menutup jendela kamarnya dan terjun bebas ke tempat tidurnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 21: Koin Emas Itu Dihargai 1 Juta Yen

    Pagi hari di Tokyo.Akira bangun dengan semangat yang menyala-nyala. Ia bersiap dengan cepat, mengenakan pakaian kerjanya, dan berjalan menuju toko barang antik milik Takeda.Sesampainya di toko, Takeda menatapnya dengan ekspresi heran."Akira? Bukankah kau libur tiga hari?" tanya Takeda, alisnya terangkat.Akira tertegun. "Eh? Tapi aku sudah pergi tiga hari, Takeda-san."Takeda menggelengkan kepala. "Kau pergi kemarin, Akira. Ini baru hari Kedua dan masih sangat pagi."Akira membeku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.“Tiga hari dua malam di Verenthia... dan paginya aku pulang ke Tokyo. Tokyo sudah malam dan aku berfikir besok pagi aku akan bekerja. tapi di Tokyo, malah baru satu hari?” gumam Takeda dalam hati.Perbedaan waktu itu nyata."Tapi aku merasa sudah pergi tiga hari!" kata Akira, bingung.Takeda tertawa kecil. "Kau bermimpi, mungkin? Atau kau bingung karena kelelahan?" Ia menepuk bahu Akira. "Tapi bagaimanapun, kau sudah datang. Dan kau terlihat bersemangat

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 20: Mereka Taring Kegelapan

    "Prajurit! Prajurit!" teriak Akira, napasnya tersengal saat ia mencapai gerbang.Prajurit yang berjaga langsung sigap menghampiri.“Hei kau, ada apa?” Tanya sang Kapten. Matanya menunjukkan kebingungan. “Bukan kah kau yang bersama Tuan Doran kemarin?”Dengan nafas terengah-engah, Akira menjawab, “Ya, itu aku.”“Nama ku Akira,” tegasnya lagi."Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kapten, wajahnya serius."Di jalan sana... di luar hutan... ada sembilan perompak!" kata Akira, masih terengah-engah. "Mereka mencoba merampokku. Mereka... mereka semua pingsan."Kapten mengerutkan alisnya. "Pingsan?"Akira ragu sejenak. Bagaimana menjelaskan ini? Bahwa ia sendiri mengalahkan mereka? Bahwa ia—seorang pengelana kurus dengan pakaian aneh—berhasil membuat sembilan perompak bersenjata tak berdaya."Aku... aku melawan mereka," katanya, suaranya pelan.Kapten menatap Ak

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 19: 9 Perompak Yang Mencium Emas

    Jalan itu semakin sepi saat ia menjauh dari kota. Suara-suara Verenthia memudar, digantikan oleh desiran angin di antara pepohonan berbatang perak dan kicauan burung asing di kejauhan.Tiba-tiba..Langkah kaki. Banyak. Datang dari pepohonan di kedua sisi jalan.Akira menghentikan kereta kudanya secara tiba-tiba. Jantungnya mulai berdebar kencang. Kudanya mengeluarkan suara panjang sembari menaikkan kedua kakinya keatas.Sembilan sosok muncul dari balik bayang-bayang hutan. Pria-pria kasar dengan wajah berbekas luka dan senyum kejam. Mereka membawa berbagai senjata—pedang berkarat, kapak bergerigi, tombak, dan satu bahkan membawa busur silang yang diacuhkan ke tanah. Pakaian mereka dari kulit usang dan kain tambal sulam, dan mata mereka berkilau dengan nafsu predator.Perompak.Darah Akira terasa membeku.Yang terbesar di antara mereka—seorang pria botak dengan janggut tebal dan bekas luka mengerikan di pipinya—melang

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 18: Pulang Ke Rumah

    Tok...Tok..Tok.."Tuan Akira.."Lagi, suara perempuan memanggil akira di balik pintu itu."Tuan..Apakah kau masih tidur?" teriak wanita itu dengan lantang.Lagi.Suara perempuan di balik pintu kamar Akira."Ehm..mmm.." ruh Akira akhinya telah masuk kembali ke dalam raganya.""TUAN AKIRA! Buka Pintunya!" teriak wanita itu."HAH!"Akira seperti sedang menghadapi gempa yang sangat dahsyat. Dia masih trauma dengan suara wanita di balik pintu kamar."Siapa?" jawab Akira sedikit lantang."Apakah disini juga ada layanan ekstra?" gumam Akira dalam hati."Aku Lyra. Kau baru bangun?""Tuan Doran memanggil mu ke ruangannya. Dia mau mengajak mu makan siang.""Eh" Akira menarik nafas lega. "Kreeeweeewekk..."Suara yang sangat merdu itu keluar dari bagian lambung Akira. dia pun bergegas mandi, bersiap, dan berlari ke ruang Doran. Tok..tok..tok.."Tuan Doran, apa kau memanggil ku?" "Kreeweeweweeweeekkk.." basa basi itu langsung disambut dengan nyanyian perut yang sangat mempesona."Ya, Akira. Masu

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 17: Wanita Ketiga

    Sesampainya di penginapan, Akira disambut dengan meriah oleh wanita-wanita seksi yang ada di penginapan itu. Olga dan Luna serta satu wanita baru berbaris menyambut Akira dengan wajah yang merona merah jambu. Sang "Pangeran Kesiangan" pun mengerutkan kening tanda bingung dengan sikap semua wanita di penginapan itu."Eeh.."Tiba-tiba Akira teringat tragedi pagi yang mencekap itu."Apa kabar tentang pagi tadi sudah menyebar ke semua orang di penginapan ini?" gumam Akira dalam hati.Akira langsung terbayang daging yang mengeras dibalik celananya, serta Luna yang begitu seksi di hadapannya dengan hanya mengenakan pakaian dalam berenda berwarna ungu muda."Selamat datang kembali Tuan Akira," sambut mereka bertiga serentak.Olga dan Luna seakan memiliki maksud lain jika dilihat dari rona wajah mereka. Satu wanita baru yang tidak memiliki kenangan buruk dengan Akira hanya memasang wajah imut dan senyum kecil saat berhadapan dengan

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 16: Guild Petualang

    Tujuan Akira selanjutnya pun telah ditentukan.“Guild Petualang”Sesampainya dia di depan bangunan dengan papan tanda besar di atas pintu masuk—pedang dan perisai bersilang, dengan mahkota di atasnya.Jantungnya berdetak lebih cepat.“Aku Gugup. Apakah surat Doran benar akan berhasil?” gumam Akira.Tanpa ragu, Akira mendorong pintu kayu ek berat itu dan melangkah masuk.Aula itu luas dan seperti gua, dipenuhi meja-meja dan kursi kayu. Para petualang dari berbagai kalangan memenuhi ruangan—pria kekar dengan kapak besar, wanita ramping dengan busur terpaut di punggung mereka, sosok berjubah dengan tongkat berkilau dengan energi misterius. Akira melangkahkan kaki ke Guild Petualang, semua mata tertuju padanya. Keanehan orang-orang terhadapnya, pakaiannya, sepatunya, hoodienya. Tiba-tiba se-isi ruangan Guild Pedagang itu riuh membicarakannya.Di belakang konter panjang, seorang wanita dengan mata tajam dan rambut perak pendek duduk di kursi tinggi. Ia mengenakan tunik sederhana dengan la

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status