“Vin, di bilang aku enggak mabuk!” Senja merengek, saat Calvin mulai memapahnya.“Vin, kamu enggak asyik. Baru jam segini mau pulang? Masih siang woy!” Adji menegur. Calvin tak menanggapi, ia justru fokus dengan Senja yang sudah seperti ulat.“Vin, aku curiga, jangan-jangan kamu mau bungkus Senja.”Mendengar itu, Calvin langsung menyela. “Gila! Mana berani! Omnya galak, woy! lagian itu mulut enteng banget,” sanggah Calvin.“Apa katanya, Vin? Bungkus? Dikira permen. Hahahah.” Senja malah tertawa menanggapi. Sementara Calvin hanya bisa geleng-gfeleng kepala.Mereka keluar dari ruangan, Senja seperti keberatan mengangkat kaki yang terasa lemas seperti sayur kangkung yang disiram air panas.Huek!Perut Senja seperti diaduk, mual, tetapi tak ada yang keluar dari mulutnya.“Sen, kamu mau muntah?” Calvin panik. Senja menggelengkan kepala. “Vin, aku pusing. Huek.”Calvin menghela napas, beberapa kali ia mengangkat lengan Senja yang mau merosot. “Sen, ayo masuk mobil. Aku anterin pulang.”“Pu
Terakhir Diperbarui : 2026-08-22 Baca selengkapnya