로그인Nadia terdiam."Termasuk soal keluarga kecil itu?" tanyanya tanpa sadar.Begitu kalimat tersebut meluncur dari bibirnya, Nadia langsung ingin menggigit lidah sendiri.Ya Tuhan! Kenapa justru bagian itu yang kutanyakan?!Senyum tipis akhirnya muncul di bibir Kenzo."Nah, berarti kamu dengar semuanya."Nadia mendelik. "Aku cuma kebetulan lewat!""Iya, aku percaya.""Bagus!""Tapi kenapa wajahmu merah?""PANAS!"Kenzo melirik kipas angin yang berputar di atas mereka, kemudian kembali menatap Nadia."Oh, begitu."Nadia tahu nada itu. Nada yang selalu muncul setiap kali Kenzo menemukan bahan untuk menggodanya."Jangan mulailagi, Mas Kenzo.""Aku belum mulai apa-apa.""Pokoknya jangan!"Kenzo tertawa pelan. Namun, kali ini tawanya tidak berlangsung lama. Ia kembali menatap Nadia dengan keseriusan yang membuat perempuan itu kehilangan keberanian untuk terus mengomel."Nadia.""Hm?""Terima kasih karena sudah membiarkanku tinggal di sini."Nadia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Kalau kamu
Suasana kamar mendadak terasa lebih berat.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sedikit, tetapi ia masih berusaha mempertahankan ketenangannya."Jaga ucapanmu, Kenzo.""Kenapa? Aku cuma bertanya.""Ini bukan waktunya berdebat.""Atau Om tidak suka mendengar sesuatu yang benar?"Nadia membelalakkan mata.Astaga. Kenzo benar-benar sedang mencari masalah!Biasanya, ia mengira laki-laki itu hanya suka membuat orang lain kesal. Namun, melihat bagaimana ia berbicara kepada Arsen sekarang, Nadia menyadari ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kenakalan.Seolah-olah Kenzo sudah lama menyimpan sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi baru sekarang menemukan keberanian untuk mengungkapkannya.Arsen maju selangkah."Om datang untuk membicarakan masalahmu dengan ibumu. Jangan mengalihkan pembicaraan."Kenzo mengangguk pelan, lalu tersenyum miring."Baiklah. Kalau begitu, aku akan bertanya sesuatu yang masih berhubungan dengan masalah orang dewasa.""Kenzo.""Misalnya, Om."Laki-
Nadia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kayu yang berada di sudut kamar. Punggungnya bersandar lemas, sementara tangan kanannya terangkat untuk mengelap keringat di dahi menggunakan punggung tangan. Setelah seharian sibuk mengurus berbagai hal, ditambah harus menghadapi Kenzo yang tingkahnya tidak pernah mengenal kata lelah, rasanya ia ingin mengunci diri di kamar dan tidak bertemu siapa pun sampai besok pagi.Ia meraih sebotol air mineral di atas meja, membuka tutupnya, lalu meneguk beberapa kali. Tenggorokannya yang kering terasa lebih lega. Namun, ketenangan yang baru saja ia dapatkan tidak bertahan lama ketika ingatannya kembali memutar kejadian di kamar sebelah.Tatapan Kenzo.Senyum menyebalkannya.Dan tangan laki-laki itu yang sempat mencengkeram pergelangan tangannya.Nadia nyaris tersedak air mineralnya sendiri."Aduh, apaan, sih!" gerutunya sambil meletakkan botol ke meja.Ia mengipasi wajah dengan telapak tangan, seolah-olah udara di dalam kamar mendadak terasa panas. Pada
Kamar sebelah yang sudah kosong sejak kemarin akhirnya mulai dibersihkan. Nadia sebenarnya tidak punya kewajiban membantu Kenzo, apalagi laki-laki itu sudah berjanji akan membereskan kamarnya sendiri. Namun, melihat calon penghuni baru tersebut hanya berdiri sambil memandangi ruangan, Nadia akhirnya kehilangan kesabaran dan turun tangan.Sejak tadi, perempuan itu sibuk menyapu lantai, mengumpulkan debu di sudut ruangan, lalu mengelap permukaan lemari yang sudah lama tidak digunakan. Sesekali, ia menyibakkan rambut yang jatuh ke wajahnya. Sementara itu, Kenzo yang seharusnya ikut bekerja justru bersandar di kusen pintu dengan kedua tangan terlipat di dada.Matanya mengikuti setiap gerakan Nadia.Ketika perempuan itu berjongkok untuk membersihkan bagian bawah lemari, Kenzo ikut menundukkan kepala. Saat Nadia berdiri dan berjalan ke sudut lain, pandangannya kembali mengikuti tanpa merasa bersalah sedikit pun.Sampai akhirnya, Nadia menoleh."Mas Kenzo!""Hm?""Ngapain kamu berdiri di sit
Senja baru saja meletakkan sendoknya setelah menghabiskan makan siang. Perempuan itu mengusap sudut bibir dengan tisu, lalu melirik ke arah ayahnya yang masih duduk di seberang meja makan. Sejak tadi, pikirannya terus tertuju pada Nadia. Biasanya, sahabatnya itu akan menghubungi atau setidaknya mengirim pesan, apalagi setelah berbagai kejadian yang mereka alami belakangan ini. Namun, sejak kemarin Nadia belum juga datang, bahkan kabarnya pun tidak terdengar.“Pa,” panggil Senja.Trian yang sedang memeriksa ponsel mengangkat wajah. “Hm?”“Sejak kemarin Nadia belum ke sini. Dia baik-baik saja, kan?”Trian meletakkan ponselnya, lalu menatap putrinya dengan sorot mata yang sedikit menegur. “Memangnya kalau Nadia tidak datang sehari, kamu harus langsung mengkhawatirkannya?”“Bukan begitu. Biasanya dia suka datang. Aku juga sudah menghubungi dia, tetapi belum sempat ngobrol lama.” Senja mengerucutkan bibir. “Aku cuma takut ada sesuatu yang terjadi.”“Tidak ada tapi-tapian.” Trian mengangkat
Pagi itu, Nadia terbangun karena merasa sesak.Bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena udara kamar yang pengap. Ada sesuatu yang berat menindih kakinya, sementara selimut yang semalam masih menutupi tubuhnya kini entah bagaimana sudah berpindah ke sisi lain tempat tidur.Nadia mengerjap beberapa kali sebelum menunduk.Sebuah kaki panjang bertengger seenaknya di atas betisnya.Nadia terdiam.Lalu perlahan-lahan, ia menoleh ke sebelah.Kenzo masih tidur telentang dengan wajah damai. Satu tangannya terlipat di bawah kepala, sementara tangan yang lain memeluk bantal yang semalam sengaja diletakkan Nadia sebagai pembatas di antara mereka. Rambutnya berantakan, kausnya sedikit terangkat di bagian pinggang, dan ekspresinya begitu santai seolah-olah kamar itu memang miliknya sejak lahir.Sementara Nadia?Perempuan itu nyaris terjepit di ujung kasur.Matanya membesar."MAS KENZO!"Laki-laki itu tidak bergerak."KENZO, BANGUN!"Kenzo hanya mengernyit, kemudian menarik selimut sampai menutup







