Wajah Natasha terlempar ke samping. Pipinya seketika terasa kebas dan butuh beberapa detik sampai akhirnya dia menyadari apa yang baru saja terjadi.“Mas Haikal nampar aku?” Suara Natasha bergetar menahan emosi. Nyeri di pipi tidak seberapa dibandingkan dengan nyeri di ulu hatinya.“Itu balasan yang setimpal karena kamu sudah berani mendorong adikku,” desis Haikal, yang tengah membantu Ratu berdiri. Wajahnya memerah menahan amarah.Natasha tertegun. Dadanya terasa sesak. “Aku sama sekali nggak mendorongnya, Mas. Ratu jatuh sendiri. Tadi aku cuma–”“Kalau kamu marah sama aku, harusnya kamu nggak dorong aku, Natasha,” sela Ratu dengan mata berkaca-kaca. “Aku ngerti kalau kamu nggak mau aku suruh cuci sepatu, tapi kamu bisa bicara baik-baik.”Natasha tersenyum perih. Dia benar-benar sudah muak berada di tengah-tengah keluarga toksik ini. Sekarang Ratu bersikap seolah dirinya adalah korban.“Aku sudah bicara baik-baik sama kamu, Ratu, tapi kamu sendiri yang–”“Diam, Sha!” bentak Haikal, m
Terakhir Diperbarui : 2026-08-28 Baca selengkapnya