Home / Romansa / Terjebak Obsesi Paman Suami / 40. Gagah dan Tampan

Share

40. Gagah dan Tampan

last update publish date: 2026-09-05 18:31:47

Bian tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika dia berkata akan memberi pelajaran pada seseorang, dia benar-benar akan melakukannya.

Selama orang itu sudah mengganggu miliknya, Bian tidak akan pandang bulu. Sekalipun orang itu adalah keponakannya sendiri.

Tadinya Bian hanya ingin menggertak, dengan mengaudit secara mendadak. Tapi siapa sangka dia menemukan sesuatu yang mengejutkan. Penggelapan dana itu.

Selama ini ayahnya–Wira Wijaya, yang menjabat sebagai CEO Wijaya Group, entah benar-bena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
april_hi
Posesif banget pak bian
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   56. Di Atas Langit Singapore

    Percakapan Bian dengan empat orang pengusaha itu berakhir tak lama setelah Natasha pergi.Bian pun keluar dari restoran itu, melangkah tenang mengikuti jejak Natasha yang tadi sempat dia perhatikan dari dalam restoran.Perempuan itu pergi ke arah taman. Bian ingin tahu, apa yang dilakukan Natasha saat dia sedang sendirian?Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Bian menemukan sosok perempuan bertubuh mungil tersebut.Bian berhenti melangkah tak jauh darinya saat dia melihat Natasha tersenyum sembari mendongak menatap pepohonan raksasa yang berwarna-warni.Lagi-lagi senyuman itu seolah menghipnotisnya. Membuat Bian terpaku dan enggan memalingkan pandangan ke arah lain.Ada apa dengan dirinya?Kenapa senyuman perempuan itu begitu mengganggu?Bahkan Bian tidak mengerti dengan detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat dua kali lebih cepat.Sial. Belum pernah Bian merasa tidak nyaman seperti ini sebelumnya.Bian tidak tahu apa nama dari perasaan yang amat sangat mengganggunya itu.Namun, sen

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   55. Satu Kamar

    “Maaf, satu kamar?” Natasha mengerjap. “Maksud Anda, kamar untuk saya dan Pak Bian hanya tersedia satu?”“Benar, Nona. Kami mohon maaf, salah satu kamar dalam reservasi Anda terpaksa kami batalkan karena kendala teknis,” jawab sang resepsionis dalam bahasa Inggris, wajahnya menunjukkan penyesalan.“Apa tidak ada kamar lain yang masih kosong?”“Kami sudah mencarikan kamar pengganti, Nona. Tetapi hotel sedang dalam kondisi penuh.”Setelah memastikan bahwa Natasha benar-benar tidak bisa mendapat kamar pengganti, Natasha pun berjalan dengan langkah gontai menghampiri Bian.Dia lantas menjelaskan mengenai masalah tersebut kepada pria itu.“Tidak masalah. Kita bisa tidur berdua di kamar yang sama,” ujar Bian santai.“Apa?” Natasha terbelalak. Lalu melambaikan tangannya di udara dengan cepat. “Tidak, Pak. Saya rasa tidak perlu. Saya akan mencari hotel lain di sekitar sini.”“Baik. Tapi biayanya kamu yang menanggung sendiri.”Natasha seketika mengatupkan bibirnya. Lagi-lagi pria itu mulai ber

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   54. Cantik

    “Jangan malu-maluin selama di Singapura. Ingat, Sha, kamu itu bawa nama keluarga. Jadi jangan bikin nama Wijaya malu.”“Aku memang belum pernah ke luar negeri, Mas. Tapi aku nggak mungkin melakukan hal-hal bodoh dan memalukan di sana.”“Bagus kalau kamu mengerti.”Natasha menghela napas panjang ketika teringat dengan percakapannya dan Haikal pagi tadi.Seperti biasa, Haikal selalu memandang rendah dirinya. Seolah-olah Natasha tidak becus dalam segala hal.‘Aku ingin hidup bebas,’ batin Natasha tiba-tiba.Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa Natasha ingin bercerai dan terbebas dari keluarga suaminya itu.Namun, Natasha berpikir dua kali untuk melakukannya. Karena dia merasa berhutang budi kepada Haikal.Kalau bukan karena bantuan Haikal, dulu ibunya mungkin sudah tidak tertolong.Sementara itu Natasha masih harus melakukan perannya sebagai istri Haikal, sampai pria itu resmi mendapatkan warisan dari kakeknya.“Apa yang kamu pikirkan?”Natasha tersentak dan keluar dari lamunannya saat menden

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   53. Semakin Dekat

    Natasha berjalan di belakang Bian di sebuah mall milik Wijaya Group. Bian baru saja bertemu dengan seorang arsitek untuk membahas pembangunan area baru di mall tersebut.Tatapan Natasha lurus ke depan, sesekali melirik punggung bidang milik Bian yang dibalut jas hitam yang pas itu.Namun, langkah kaki Bian berubah melambat, membuat Natasha refleks ikut melambatkan langkahnya.Ada apa?Tidak biasanya Bian berjalan begitu lambat, pikir Natasha dengan kening berkerut.Langkah Bian semakin melambat, begitu pula dengan Natasha.Hingga akhirnya pria itu mengembuskan napas dan menolehkan kepalanya kepada Natasha.“Pak, ada sesuatu?”“Jalan di samping saya.”“Ya?” Natasha terkejut. Lalu menggeleng cepat. “Tidak, Pak. Saya rasa itu tidak sopan.”Sudut mata Bian menyipit samar. Lantas dia memutar tubuhnya dan sedikit menunduk. Berbisik, “Jadi menurutmu, membiarkan saya mencium seluruh tubuhmu dari ujung kepala hingga kaki, itu sesuatu yang sopan?”Tenggorokan Natasha mendadak tercekat. Dia terk

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   52. Rahasia

    “Natasha.”“Iya, Pak?” sahut Natasha sesaat setelah meletakkan secangkir espresso di meja sang CEO hari Senin pagi itu.“Temani saya ke Singapura.”Mendengarnya, mata Natasha seketika membulat. Dia menunjuk dadanya sendiri. “Saya, Pak?”“Apa saya terlihat sedang berbicara dengan orang lain?”“Tidak. Bukan begitu.” Natasha menggigit bibir bawahnya sejenak. “Bukankah Bapak akan pergi dengan Pak Raditya?”Sambil membubuhkan tanda tangan di atas sebuah dokumen, Bian menjawab, “Dia ada pekerjaan lain di sini. Jadi kamu yang menggantikannya.”Hari Kamis nanti Bian memang ada jadwal menghadiri konferensi di Singapura selama tiga hari. Natasha tentu saja tidak bisa menolak perintah pria itu untuk menggantikan Raditya. Dia tetap harus profesional dalam pekerjaannya.“Tapi saya belum pernah ke luar negeri, Pak,” ucap Natasha, “saya tidak punya paspor.”“Saya akan mengurusnya.”“Selain itu–”“Saya juga yang akan bilang pada suami dan ibu mertuamu,” sela Bian, seolah sudah tahu apa yang akan Nata

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   51. Pria Tidak Waras

    Bian membebaskan kedua pergelangan tangan Natasha dari dua lingkaran logam yang sejak tadi menguncinya.Begitu tangannya terbebas, Natasha buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.Lalu berbaring memunggungi Bian dengan perasaan campur aduk.Dia merasa kesal pada dirinya sendiri karena terbukti menikmati hubungan terlarang mereka.“Lihat tanganmu.”“Tidak perlu.” Natasha buru-buru menyembunyikan tangannya di dalam selimut.Bian menatap pundak polos Natasha dengan tatapan sulit diartikan. Perlahan dia mendekat, mengecup setiap inci pundak itu hingga dia bisa merasakan tubuh Natasha menegang.“Saya tidak suka mengulang ucapan yang sama,” bisik Bian, “atau kamu ingin saya memaksamu menarik selimut ini dari tubuhmu?”Natasha berdehem pelan, mau tidak mau akhirnya dia mengeluarkan kedua tangannya dari dalam selimut.“Apa yang ingin Bapak lakukan pada tangan saya? Memborgolnya lagi seperti barusan?” tanya Natasha dengan sedikit kesal.“Kalau kamu mau,” timpal Bian seraya mera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status