“Ih ya ampun. Mitosnya jadul banget,” seru Rea menegakkan badan. Melepaskan genggaman itu.Entah mengapa, dia merasa diserang dengan pertanyaan, tatapan juga sentuhan Rumi. Sesuatu di dalam dirinya memberi respon aneh. Respon yang tidak dia inginkan.Dia berakhir menyadarkan otaknya bahwa dia punya tujuan. Dia harus tahu batasan. Tapi tetap saja, terkadang, tindakan atau kata-kata Rumi selalu bisa melemahkannya, dan dia tidak suka.“Kalau gitu nggak usah dimakan, Pak. Sudah habis tenaga saya buat masak ulang," ucap gadis itu pasrah. Sengantuk ini, dia tidak peduli lagi dengan bonus."Hm, Pak? Besok saya libur, kan?” konfirmasi Rea sebelum kabur. Mengingatkan Rumi perihal weekend.“Ya.”‘Yess!’ teriak Rea dalam hati. Namun, belum sampai senyum lega itu bertahan semenit, suara pria itu kembali terdengar.“Tapi….”Rea menoleh cepat. “T-tapi apa?”“Jangan berkeliaran!”Rea mengangguk sembarang. Baginya, sekarang, ia cuma perlu mengiyakannya. Sisanya bisa dipikirkan nanti.Yang penting ada
Last Updated : 2026-08-06 Read more