Jayendra segera menghampiri ibunya dan berusaha menenangkan wanita paruh baya itu. "Bu, ngapunten. Saya kalau minum jamu itu, perut saya rasanya mual. Selain rasanya yang aneh, juga karena rasanya getir. Bukan berarti saya tidak—""Alah alasan!" potong Kanjeng Ibu murka. Pupil matanya melebar, dengan kedua tangan yang bertenger di pinggang. "Kau pikir, kamu itu siapa berani melawanku, hah?! Berani kamu membentakku di rumahku sendiri. Jangan karena putraku menikahimu, terus kamu memiliki kuasa di rumah ini. Kalau aku katakan, minum, ya kamu harus minum!"Wening mendesah kasar, dadanya terasa bergemuruh karena tuduhan tak berdasar yang dilontarkan oleh Ibu mertuanya. Tidak ada sedikitpun nada tinggi yang keluar dari mulut Wening tapi wanita itu menuduhnya seolah-olah ia bersikap kurang ajar pada Ibu mertuanya. Sedangkan Jayendra—pria itu hanya meminta ibunya untuk tetap tenang, tanpa melakukan apapun."Bu, sudah. Ibu yang tenang, jangan marah-marah." Jayendra merangkul lengan ibunya un
Last Updated : 2026-09-01 Read more