로그인"Ndoro Juragan baik-baik saja, Ndoro Besar. Mungkin Ndoro Ayu butuh jamu penyubur kandungan. Supaya—" "Kenapa saya, Mbok?" Wening memotong kalimat Mbok dukun. Membuat ucapan wanita tua itu menggantung di udara. Kemudian pandangannya tertuju pada Jayendra yang juga tengah menatapnya. "Mbok dukun datang untuk memeriksa Marni. Kenapa jadi saya yang harus minum jamu ini itu?" Kalimat Wening berhasil membuat Marni tersentak. Membuat perhatian semua orang berpindah pada gadis yang tengah duduk bersimpuh di lantai dengan takut. "Benar, Jayendra! Pelayanmu ini sudah kurang ajar dengan membohongi kita dengan kehamilannya. Kalau hanya dihukum ringan, Ibu tidak setuju." Mendengar kata hukuman, mata Marni terbelalak lebar. Ia merangkak ke kaki Jayendra dan memohon untuk tidak menghukumnya. "Ampun, Juragan. Marni minta ampun, Marni janji tidak akan mengulanginya lagi asal Juragan memaafkan Marni," rengek Marni seraya menangis. "Minta ampun? Cih! Kamu pikir kamu pantas? Sudahlah seorang pela
"Apa!?" Kanjeng Ibu tersentak berdiri. Matanya melotot pada pelayan yang duduk bersimpuh di lantai dengan pandangan menunduk itu. Tidak seperti sang ibu, Jayendra justru duduk dengan tenang dan diam seraya menikmati cendol manis dingin buatan Marni. Seolah ia sudah mengetahui rahasia pelayannya. "Nuwun sewu, Ndoro Besar. Saya sudah memastikannya berkali-kali. Hasilnya tetap sama, Marni tidak hamil," jawab wanita tua itu dengan takut-takut. Sedangkan Marni meradang. Ia mengangkat bahunya, menunjuk Mbok dukun dan menudingnya berbohong. "Sampeyan sendiri yang mengatakan kalau Marni hamil beberapa hari yang lalu, tapi kenapa sekarang berubah dan mengatakan Marni tidak hamil. Mbok, Sampeyan di bayar seseorang untuk berbohong?" Mbok dukun menggeleng cepat, membantah tuduhan Marni. "Mboten, Ndoro besar. Saya tidak berbohong. Kemarin saya hanya bilang untuk diperiksa kembali karena belum jelas. Marni sendiri yang mengatakan kalau sudah telat datang bulan. Saya tidak mengatakan kalau Marn
Marni yang duduk bersimpuh, lututnya yang rapat itu bergetar, simpuhnya ambyar. Ia terkesiap, pantatnya jatuh ke lantai dengan mata yang membola karena kedatangan seseorang. Namun, secepat kilat ia membenahi duduknya sebelum Kanjeng ibu menyadarinya. "Mbok," sapa Kanjeng Ibu pada wanita tua yang cukup terkenal di desa. "Duduk, Mbok," perintah Kanjeng Ibu kemudian. Jayendra menoleh pada sosok yang datang dengan Rum. Sesaat ia tertegun, namun ia tahu maksud dari kedatangan Mbok dukun ke rumahnya. "Kanjeng Ibu menyuruh Mbok dukun datang?" tanya Jayendra. Yang segera dijawab dengan anggukan oleh sang ibu. Banyu yang melihat kedatangan Mbok dukun, mendekat ke pendopo dan mengamati. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Dari tempatnya berdiri, ia dapat menagkap ketakutan di wajah Marni yang disebabkan oleh kedatangan wanita tua yang sudah tersohor itu. "Sepertinya Marni akan tersingkir meskipun saya tidak melakukan apa-apa," guman Banyu yang dibarengi dengan senyuman. Ia memutusk
"Bagus. Itu yang Ibu harapkan dari dulu. Kamu jangan sampai kecewakan ibumu ini." Binar bahagia muncul di wajah tua itu. Senyumnya begitu lebar, seolah ia hidup tanpa ada beban sekecil apapun. Kanjeng Ibu memperbaiki posisi duduknya seraya mengibas-ibaskan kipas di tangannya. Ia menghadap sang putra. "Bagaiamana dengan harta Wening? Kamu bisa mengambilnya atau tidak? Lumayan kalau bisa menjadi milik kita, Jayendra. Ladangnya luas dan tanahnya bagus. Pantas saja setiap panen hasilnya selalu memuaskan." Jayendra tersenyum licik. "Untuk ladang, mungkin kita butuh waktu, Bu. Tapi kalau perhiasan, sebagian sudah saya ambil untuk dijual," jawabnya dengan nada paling rendah. Kanjeng Ibu tersenyum, kemudian mengangguk-anggukan kepalanya merasa puas dengan cara kerja sang putra. "Bagus. Wening juga harus ikut berkorban. Bagiamannpun juga Wening masih istrimu. Biarpun suatu saat kamu akan menceraikannya dan menggantinya dengan Kanti." "Bu, tahu sendiri seperti apa pejabat Kadipaten. Kal
Banyu mengekor di belakang Mbok Siti yang berjalan kembali menuju dapur. Kalimat terakhir wanita oaruh baya itu membuatnya terusik. Ada sesuatu yang harus segera ia luruskan dengannya. "Mbok!" panggil Banyu dengan nada rendah. "Ada yang perlu saya tanyakan." Mbok Suti berhenti, kemudian memarik napas panjang webelum menoleh pada Banyu. "Apa maksudnya, Mbok? Simbok tahu sesuatu kan?" bisik Banyu dengan penuh penekanan. Ia mencengkeram lengan wanita paruh baya itu. Tatapannya tajam mengunci manik hitamnya, menuntut jawaban. Mbok Suti membuang pandangannya. Ia tidak bisa jika harus terus menatap mata Banyu. "Apa maksudmu, Nyu? Simbok tidak tahu," jawabnya berkilah wajahnya tetap terlihat tenang mesti tengah menyembunyikan sesuatu. "Mbok! Simbok tahu apa maksud dati pertanyaanku. Simbok saja yang pura-pura tidak tahu. Apa Simbok memnyembunyikan sesuatu kebenaran? Yang dikatakan Tin—" "Banyu," panggil Mbok Suti memotong kalimat Banyu. Suaranya lembut, membuat Banyu menurunkan egonya.
Kebimbangan melanda hati Wening. Ia ingin pergi dari tempat jang membuatnya sesak ini, namun disisi lain ia juga ingin tahu apa sebenarnya yang disembunyikan oleh suaminya."Tapi Banyu, darimana kamu tahu ada gadis-gadis yang disembunyikan di gudang? Aku tidak pernah mendengar sesuatu dari tempat itu.""Kalau bajyak orang yang tahu, namanya bukan rahasia, Ndoro Ayu."Jawaban Banyu membuat Wenjng terdiam. Lidahnya terasa kelu tak dapat membantah kaimat pria itu."Kalau begitu, bawa saya ke gudang. Saya mau buktikan kalau apa yang kamu katakan memang benar," tegas Wening pada Banyu. "Ndoro Ayu, kegaduhan kemarin itu karena gadis-gadis itu kabur. Tentu saja mereka sudah tidak ada di sana."Wening mengikis jarak diantara mereka. "Lalu bagaiamana mau buktikan semua yang kamu katakan itu adalah benar, Banyu."Banyu menatap Wening tanpa mengedipkan mata, membiarkan keheningan menggantung di antara jarak mereka yang kian mengikis. Tatapan Ndoro Ayunya begitu tajam, menuntut jawaban."Ndoro A







