"Bukanya kamu bilang kalau kamu tidak bisa menahannya? Aku juga merasakan hal yang sama, Banyu. Jadi... sepertinya kita tidak perlu malu-malu atau merasa tidak enak, bukan". Banyu tersenyum samar. Saking tipisnya, Wening bahkan tidak menyadari hal itu. "Akhirnya!" pekik Banyu dalam hati. "Tapi, di tempat ini sepertinya akan tidak nyaman, Ndoro Ayu. hanya ada tikar pandan. Saya takut, Ndoro Ayu..." Wening mengangkat tubuhnya, berpindah ke pangkuan Banyu tanpa melepaskan lengannya dari leher pria itu. "Jangankan tikar tipis, Banyu. Bahkan batu saja teras empuk jika gairah sudah membara," balas Wening dengan nada sensual penuh godaan. Banyu tersenyum. Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Wening. Jika gairah mendominasi, maka akal sehatpun mendadak tidak ada. Sama seperti apa yang sedang di lakukan oleh Wening saat ini. "Cium aku, Banyu!" "Dengan senang hati, Ndoro," bisik Banyu seraya mendaratkan ciuman di bibir Wening sesuai permintaannya. Tangan Banyu melingkar di ping
Última atualização : 2026-08-18 Ler mais