Pengakuan Marni menjatuhkan bom yang seketika membungkam seluruh area pendopo. Wening yang siap meninggalkan kekacauan itu, mendadak berhenti saat baru beberapa langkah. Ia tak menoleh, namun juga tak segera melanjutkan langkahnya. Kanjeng Ibu mematung dengan mulut setengah terbuka. "A-apa... kamu bilang?" bisik Kanjeng Ibu gagap, matanya membelalak lebar menatap perut Marni, lalu beralih pada putranya dengan kilat murka dan kekecewaan yang tak tertahan. "Ndoro Ayu," isak Mbok Suti di samping Wening. Wening akhirnya menguatkan hati dan tekadnya untuk kembali ke kamar. Namun, saat sosok Banyu muncul dan berjalan mendekat ke arahnya, pertahanan Wening yang sekuat tenaga ia bangun, akhirnya luruh seketika. Tubuhnya limbung, hampir terjatuh di tanah. "Ndoro Ayu," desis Banyu. Ia segera mengangkat tubuh Wening ke dalam dekapannya. Membawa wanita ringkih itu menuju kamarnya. Banyu menurunkan tubuh Wening diatas pembaringan dengan perlahan. "Mbok, buatkan teh panas," perintah Bany
Last Updated : 2026-09-18 Read more