Home / Romansa / Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku / Bab 4. Pertengkaran Setelah Malam Itu

Share

Bab 4. Pertengkaran Setelah Malam Itu

Author: Magnolia Lily
last update publish date: 2026-08-04 10:50:26

"Sayang... Ayo sarapan dulu."

Suara Bima terdengar dari luar kamar. 

"Iya, tunggu sebentar."

Dan Raline sudah siap dengan outfitnya hari ini. Atasan warna maroon tanpa lengan, celana putih tulang, dan kitten heels. Perfect.

Wanita itu turun dengan perasaan lebih ringan setelah kemarin menangis sejadi-jadinya. Dan ia pun memutuskan untuk lanjut bekerja, menghadapi situasi tak mengenakan antara dirinya dan Matthias. 

"Aku udah bilang, jangan bikinin aku sarapan. Istirahat aja."

Bima tersenyum, memberi ciuman selamat pagi pada istrinya yang cantik dan harum. 

"Nggak apa-apa. Aku bisa kok. Ibu masih tidur, jadi kita sarapan berdua yah."

Raline menyantap sarapannya sambil sibuk membaca email yang Sebastian—sekretaris Matthias, kirimkan berisi jadwal pria itu seminggu kedepan.

"Mau aku anterin?" tawar Bima.

Tanpa menoleh, Raline menjawab. "Nggak perlu. Kamu tidur lagi aja. Aku mau naik taksi."

Percakapan sederhana dengan suasana damai bersama pasangan. Sebagai seorang yatim piatu dari panti asuhan, inilah kehidupan yang ingin Raline miliki.

Setelahnya ia pun pamit berangkat dan hari ini hari senin, Jakarta sudah pasti macet. Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai di District 8 SCBD dari Pondok Indah.

Pikirannya sempat overthinking sedikit. Ia bingung harus menghadapi Matthias seperti apa tapi ia buru-buru menepis segala pikiran buruk itu. 

Sepanjang jalan, ia melatih senyuman sampai sopir taksi heran. 

Sesampainya di lobby, security gedung langsung menyapa.

"Selamat pagi, Bu Raline ..."

"Pagi, Pak Anton. Ini buat cemilan," jawab Raline ramah sambil memberi sekotak donat. 

"Wah, makasih yah, Bu. Pak Matthias masih jogging. Saya belum lihat beliau naik."

"Oke. Makasih ya, Pak."

Karena Raline masuk sebagai whitelist security, jadi dia bisa langsung naik ke penthouse sang direktur setelah lift diaktifkan security. 

Lift terbuka di lantai 48, sebuah hunian mewah dengan view skyline Sudirman Central Business District. 

Tampilan Penthouse Matthias sungguh mengesankan. Didominasi oleh warna earth tone dengan vas-vas berisi bunga segar yang membuat tempat ini terasa nyaman dan hangat. 

"Bu Raline sudah datang?"

Housekeeper Matthias datang menyapa. 

"Lho, Bu Dinda belum pulang?"

Bu Dinda menggeleng pelan, tiba-tiba ia mendekat dengan ekspresi serius. 

"Jumat kemarin rumah Pak Matthias berantakan banget. Bapak punya pacar, yah? Ibu malu banget bersihinnya."

Hampir saja Raline tersedak oleh air liurnya sendiri. Ia tidak merasa meninggalkan kekacauan sebesar itu. 

"Aku nggak tahu, Bu."

Wanita itu berusaha tenang. Takut ketahuan. 

Bu Dinda mengangguk-ngangguk. "Ya udah, Ibu mau nanya gitu aja. Kalau beneran punya pacar, biar Ibu siapin alat lain buat bersih-bersihnya. Ibu pulang dulu yah, pekerjaan Ibu udah beres."

Selepas kepergian Bu Dinda, satu hembusan nafas terlepas. Mulai sekarang semuanya akan lebih sulit. 

Sebagai personal asisten, Raline punya satu tugas khusus di pagi hari, yaitu: menyiapkan pakaian Matthias yang sudah di dry–clean dan memastikan outfit sesuai dengan agenda hari ini. Menata dasi, cufflinks, dan jam tangan. 

Karena terlalu fokus, dirinya sampai tak sadar kalau Matthias sudah ada di ambang pintu. Melihatnya dengan kondisi tubuh penuh keringat. 

Rambut pirangnya lepek. Di tangannya ada sebotol protein smoothie yang sebelumnya Bu Dinda siapkan. 

"Raline ..."

Seakan-akan dipanggil oleh hantu, tubuh Raline merinding. Ia tak berani menoleh. 

Matthias berjalan mendekat, melihat pakaian yang disiapkan untuknya. 

"Hm... Hari ini aku mau pakai kemeja warna maroon."

Wanita itu menarik napas panjang. "Hari ini anda harus menghadiri rapat konsorsium. Kemeja hitam adalah pilihan yang sempurna."

Alasan lainnya karena dia tidak mau terlihat serasi dengan atasannya.

Bukannya kecil, Matthias tertawa kecil. Tingkah asistennya sangat lucu.

"Ada yang ingin aku katakan, berbalik lah sebentar."

"Katakan saja."

"Aku tak mau berbicara dengan punggungmu."

Tak mau berdebat lagi, Raline berbalik dan sontak terkejut melihat atasannya yang shirtless. 

"Apa yang mau anda katakan, Tuan Reinhardt?" 

Senyumannya jelas dipaksakan. 

"Kenapa kembali bekerja?" tanya Matthias tenang. 

"Maaf?"

"Aku pikir kau akan mengundurkan diri."

Raline membisu sejenak. "Apa anda berharap saya mengundurkan diri?"

Pertanyaan yang menggelitik. Sang direktur tertawa kecil. 

"Aku tidak sejahat itu. Jika kau pergi, aku akan kesulitan mencari asisten pribadi yang kompeten dan fluent bahasa Inggris dan Jerman sekaligus."

Meski awalnya Matthias menganggap Raline menjadi asisten pribadinya karena sang suami merupakan arsitek senior, wanita itu dengan cepat membuktikan kualitasnya. 

Ia tak mau kehilangan pegawai seperti Raline. 

"Saya masih membutuhkan pekerjaan ini dan malam itu adalah sebuah kesalahan. Jadi saya tidak terlalu memikirkannya."

Pria itu mengangguk kecil. 

"Baguslah."

Lalu berjalan dengan santai menuju kamar mandi. 

Kepergiannya membuat udara di sekitar Raline lebih ringan. Wajahnya menunduk dan memerah, ia berhasil menahan dirinya. 

Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Matthias keluar kamar dalam keadaan rapi dengan rambut disisir ke belakang. 

Ia langsung duduk di meja makan. 

Raline berdiri di sampingnya, mulai membacakan agenda Matthias.

"Hari ini ada tiga pertemuan penting. Pukul 9 pagi kick-off meeting, dilanjut rapat koordinasi desain pukul 11 dan pukul 2 nanti anda akan menghadiri rapat konsorsium untuk membahas keberlangsungan proyek resort yang terhambat."

Matthias mengangguk singkat. "Ah, ternyata cukup sibuk yah. Tidak ada janji temu secara pribadi?"

"Tidak ada."

"Baiklah."

Hening. 

Raline undur diri saat pria itu tak lagi bertanya. Ia duduk di sofa, mengecek kembali berkas yang hendak ia bawa. Tak lupa memastikan sang supir sudah standby di lobby. 

"Tubuh mu baik-baik saja?"

Tubuh Raline langsung menegang.

"Tuan... Saya harap anda tidak membahas hal itu lagi. Mari bersikap profesional."

"Profesional?"

Matthias meletakkan alat makannya. Mata birunya menatap serius pada wajah sang asisten yang tengah duduk menyamping.

"Aku hanya ingin tahu, bagaimana respon suami mu setelah tahu istrinya tidak pulang semalaman."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 12. Terjebak Dalam Pelukannya

    "Jangan mengatakan hal menakutkan, Tuan. Saya yakin hujan pasti reda." Tepat setelah mengatakan itu, petir menyambar pohon di depan mereka. Sontak wanita itu menjerit dan merapatkan tubuhnya ke sang atasan. Jantungnya berdegup kencang. "Apa saya salah?" Di sini, hanya Raline yang ketakutan. Nyatanya, pria itu tampak tenang seolah petir tadi bukanlah apa-apa. "Sepertinya langit mendukung keinginanku." Perkataan itu langsung mengundang tatapan tajam, tapi Matthias sama sekali tidak terpengaruh. Dia menyelipkan tangannya ke belakang punggung Raline, menyentuh pundaknya, lalu menariknya mendekat. "Kau bisa kedinginan." Kali ini Raline setuju. Dia membiarkan tubuh mereka yang basah kuyup saling menempel satu sama lain. Keheningan melanda. Keduanya sibuk menatap langit hitam sambil berusaha mencari kehangatan. "Setelah malam itu, apa Bima bertanya sesuatu?" "Kenapa anda membahasnya lagi? Saya sudah bilang, saya tidak mau membahas apapun tentang malam itu." "Jangan mara

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 11. Persimpangan Jalan

    "Lain kali, kau harus rajin berolahraga, Raline." Sang direktur bergurau tatkala melihat Raline sudah hampir kehabisan nafas padahal baru berjalan lima belas menit. "Saya olahraga, kok." "Kapan?" Wanita itu termenung sekejap. "Sebulan lalu?" Matthias mendengus merasa lucu. "Pantas saja." Keputusan sepihak Matthias untuk berjalan kaki sejauh satu setengah kilo tak mampu Raline tolak. Semua barang ditinggalkan di mobil, mereka hanya membawa ransel berisi barang-barang penting dan minuman. Raline tak mengharapkan perjalanan mereka mulus. Bebatuan yang tercampur lumpur telah mengotori seluruh sepatunya bahkan celananya. Kanan kiri masih dikelilingi oleh perkebunan dan dari kejauhan mereka bisa mendengar suara deburan ombak bercampur gemuruh kecil pertanda hujan akan datang. "Jika langkahmu selambat ini, kita akan basah kuyup saat sampai di villa. Cepatlah!" "Anda bisa bilang begitu karena kaki anda panjang. Ini sudah secepat yang saya bisa, " jawab Raline kesal.

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 10. Trip Sumba

    "Kau terlambat lima menit, Raline." Ketika sang asisten datang, atasannya sedang duduk menunggu di lobby sambil membaca majalah dengan tampilan kasual dan kaca mata hitam. Di sampingnya ada satu koper berukuran kecil. "Maaf, Tuan Reinhardt. Ada penutupan jalan karena karnaval." Karnaval memang ada, tapi alasannya dirinya telat adalah tidak bisa tidur. Semalam Romi menelepon lagi dan seperti tempo hari, Bima buru-buru pergi bahkan tak pulang sampai pagi hari. Suaminya memberikan alasan yang terlihat meyakinkan, tapi justru itulah yang perasaan Raline tak enak. Saat wajah cantik Raline menunduk, Matthias ternyata memperhatikannya. Ekspresi wanita itu tidak bagus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, meski samar tapi Raline tak pernah seperti ini. "Baiklah. Ayo kita pergi." Dari Jakarta, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di Tambolaka-Sumba. Dan untuk sampai ke lokasi proyek, masih butuh waktu dua jam lagi menggunkan mobil. Awalnya, perjalanan sangat mulus. Sumba

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 9. Apa Yang Suamiku Sembunyikan?

    Selama dua jam, rapat konsorsium berjalan sangat panas lebih dari yang diperkirakan Matthias. Beberapa investor mengungkapkan kekecewaan mereka dengan gamblang bahkan ada yang menuntut pengembalian dana. Hal yang mustahil dilakukan. Vendor MEP bahkan tidak bisa mengangkat wajah karena masalah keterlambatan yang mereka timbulkan. Untungnya Matthias mampu mengendalikan situasi sebelum akhirnya mereka semua bertikai. Wajah mereka jadi jauh lebih lelah dibanding saat masuk dan rapat pun berakhir ketika langit Jakarta berubah warna. Raline menutup laptop setelah menyelesaikan semua laporan. Tarikan nafasnya lebih berat disertai leher yang kaku dan mata berkunang-kunang. Pekerjaannya tidak main-main. "Akhirnya selesai juga," gumamnya lega. Ia mulai membereskan barang miliknya, bersiap untuk pulang. Namun, saat dirinya melihat Matthias yang masih fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya, dia kembali duduk di kursinya—menunggu Matthias selesai. Karena bosan, Raline ja

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 8. Indah Dan Sulit Ditaklukkan

    "Raline!" Mendengar namanya dipanggil, wanita itu lantas menoleh ke belakang. Bima tengah berlari kecil menghampirinya sambil tersenyum. "Rapatnya udah beres semua, kan? Ayo makan siang bareng." Tepat pukul dua belas, rapat dengan divisi arsitektur berakhir. Sang direktur sudah berjalan duluan bersama karyawan lainnya membicarakan sesuatu. "Ayo! Aku bilang dulu sama Pak Matthias." Mereka pun bersama-sama menghampiri pria itu. Perhatian Matthias langsung teralihkan. "Saya mau makan siang di luar, apa ada yang anda butuhkan sebelum saya pergi?" Matthias terdiam sejenak. Ekspresinya dingin. "Tidak. Kembalilah sebelum rapat dengan divisi keuangan dimulai." "Baik." Tanpa menunggu lagi, Raline dan Bima pergi meninggalkan sang direktur yang menatap mereka dengan ekspresi sulit dijelaskan. "Tuan Reinhardt, ada apa?" tanya orang di sampingnya. Pria itu tersadar dan segera mengendalikan ekspresinya. "Tidak ada. Ayo lanjutkan." Hal umum sepasang suami-istri makan b

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 7. Kick-off Meeting

    Kick-off meeting di mulai tepat pukul sembilan. Semua orang sudah berkumpul sebelum Matthias datang. Dan tak lama kemudian, sang direktur datang diikuti asistennya dari belakang. Ia duduk di ujung meja, menatap dengan tenang wajah tegang semua orang. "Aku sudah memberi kalian waktu sebulan sebelum rapat ini dilaksanakan. Jadi jangan mengecewakanku." Ruangan semakin dingin di bawah tatapan Matthias. "Mari kita mulai." Semua orang membuka laptop. Bersiap dengan bagiannya masing-masing dan yang memulai duluan adalah Sebastian. "Bagaimana keberlangsungan projek per hari ini?" Sebastian berdiri. "Per hari ini progresnya sudah mencapai lima puluh dua persen." "Lima puluh delapan? Menyedihkan." Matthias hampir tertawa. "Pembangunan resort itu sudah hampir tiga tahun dan baru sampai sana?" Semua orang menunduk. Matthias memijit pelipisnya. "Kenapa bisa begitu?" "Itu karena sejak awal kami kesulitan melakukan pembebasan lahan. Baru tahun kemarin seluruh pemilik t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status