Se connecter"Kita sudah sepakat tidak membahas hal ini lagi, Tuan Reinhardt," ujar Raline tajam.
"Kapan? Kita tidak pernah menyepakati apapun." Sang direktur menyeringai, menikmati wajah marah asistennya.
Tak mau menanggapinya lebih jauh, Raline segera berdiri, mengambil tas dan semua berkas yang hendak ia bawa.
"Tuan... Sudah waktunya kita pergi."
'Ah, ini menyenangkan.' pikir Matthias.
Asistennya yang setiap hari terlihat seperti robot itu akhirnya menunjukkan ekspresi lain. Menarik.
Ia pun ikut bangun. Merapikan pakaiannya lalu mengikuti sang asisten dari belakang. Tapi, saat pintu lift hendak terbuka, Matthias menarik Raline dan menyudutkan tubuhnya ke tembok.
"Apa yang anda lakukan?!"
Kepala Matthias tertunduk. Dengan suara rendah ia berkata.
"Raline... Kedepannya kita akan bersama sepanjang hari. Melakukan perjalanan bisnis dan menginap berhari-hari. Kau akan lebih sering melihat wajahku daripada suamimu."
"Apa yang mau anda katakan?!" seru Raline kesal dan panik. Pria itu semakin dekat.
"Yang ingin aku katakan... Kesalahan malam itu mungkin akan terulang kembali. Jadi, dari sekarang mulailah bersikap santai padaku. Supaya nanti... Kau tidak terlalu marah dan kecewa pada dirimu sendiri."
Jantung Raline berdebar tak karuan.
Bukan karena jatuh cinta atau terpesona, tapi karena takut perkataan Matthias akan menjadi kenyataan.
"Anda ternyata punya sisi tidak tahu malu," cibir Raline, "Saya sudah punya suami yang saya cintai, kesalahan seperti malam itu tidak akan terulang kembali. Saya menjaminnya."
Matthias tertawa geli. "Kedekatan sering kali menciptakan kecelakaan tak terduga, Raline. Kau terlalu percaya diri."
"Anda mengatakannya seolah sangat yakin dan sangat mengerti. Apa anda juga melakukan kesalahan yang sama pada asisten pribadi anda sebelumnya?" sindir nya.
Bukannya tersinggung, pria itu semakin tertantang. Sikap Raline yang seperti ini jauh lebih menyenangkan.
"Jika kau tahu rumor-rumor tentangku, maka kau meributkan hal yang tidak perlu, Raline Dara."
Perkataan ambigu itu merasuk hingga ke dalam hatinya. Raline hampir melupakan fakta itu. Dalam dirinya, ada ketakutan samar akan sikap Matthias yang mungkin saja membawanya dalam kehancuran.
Raline tiba-tiba merinding.
"Saya tidak peduli dengan reputasi anda di luar sana. Saya hanya berharap anda bisa bekerja sama dan bersikap profesional. Saya tidak mau hubungan rumah tangga saya hancur karena kesalahan kecil."
"Kesalahan kecil?"
"Ya. Tuan Matthias von Reinhardt, saya akan melayani anda sebagai atasan dengan loyalitas penuh. Jadi saya mohon jaga sikap anda."
Tatapan tajam wanita itu malah membuat sang pria terhibur dan berdebar.
Setelah malam itu, Matthias terkadang merasa dirinya menggila karena satu hal yang tak ia fahami.
"Ya. Lakukan saja apapun yang kau mau dan aku pun akan melakukan apa yang aku mau. Mari hidup dengan cara seperti itu, Raline Dara."
Bukan jawaban ambigu yang Raline inginkan. Namun, belum sempat melayangkan protes, pria itu sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift.
"Mau masuk atau tidak?"
Dengan jengkel, sang asisten ikut masuk.
Dan pelajaran ke kantor kali ini terasa sedikit mencekam. Raline kembali bersikap seolah tak terjadi apapun.
Sesampainya di kantor, Raline menekan tombol lift menuju ruang kerja atasannya. Saat mereka keluar, Bastian dan yang lainnya menyambut dengan ramah.
"Persiapan rapatnya sudah selesai?" tanya Raline pada Bastian.
"Sudah." Bastian melirik ke arah pintu kerja Matthias yang tertutup lalu berbisik pelan. "Pak Matthias kenapa? Moodnya lagi jelek, yah?"
Wanita itu tak bisa bilang kalau dia dan Matthias baru saja berdebat sengit.
"Nggak apa-apa. Mungkin ada masalah pribadi. Bilang aja sama yang lain jangan buat kesalahan. Nanti repot urusannya."
Bastian mengangguk.
Setelah itu Raline menyusul Matthias masuk ke dalam ruangan direktur. Sebuah ruangan luas dengan mini bar, kulkas, dan mesin kopi otomatis.
Pria itu terlihat tenang menjalani rutinitas wajibnya, menyiram bunga melati yang ia pelihara dalam pot kecil.
Bunganya sudah bermekaran. Setelah disiram, bunga itu lalu dipindahkan ke dekat kaca yang terkena sinar matahari.
Karena rapat dimulai satu jam lagi, Matthias memulai pekerjaannya dengan memeriksa semua berkas masuk.
Sementara asistennya memeriksa berkas yang baru masuk untuk sorting & screening.
Dari berkas-berkas itu, Raline membuat folder pendukung, catatan singkat, highlight bagian yang penting, dan komparasi cepat dengan dokumen sebelumnya.
Jadi nanti Matthias tinggal membaca intinya saja.
"Raline, atur rapat dengan tim keuangan sebelum rapat konsorsium dimulai. Kita harus mencari dari mana asal pembengkakan dana itu berasal."
Ah, Lagi-lagi rapat dadakan.
"Baik."
"Dan berikan file ini ke Sebastian."
Raline mengambilnya dan segera keluar.
Ada sebuah area di luar ruang direktur yang menangani seluruh kebutuhan operasional Matthias.
Sebastian bekerja di sana, bersama dua orang project coordinator, dua administrative officer, serta satu orang staf penghubung keuangan yang khusus mengawasi proyek resort Sumba.
"Ini file dari Pak Matthias," kata Raline.
Sebastian yang saat itu tengah berdiskusi dengan salah seorang temannya pun menoleh.
"Terima kasih ya ..."
"Ah ya... Ngomong-ngomong, sebelum rapat konsorsium, Pak Matthias minta rapat dengan divisi keuangan dulu. Jadi mohon bantuannya."
Senyuman Raline terlihat mematikan.
Mendengar ada rapat dadakan, semua orang yang mendengarnya langsung memprotes heboh.
"Gila! Kalau Pak Matthias selamanya jadi direktur di sini, kita bakal mati muda." Laras berseru frustasi sambil menempelkan keningnya di meja.
"Iya. Kok kamu tahan sih jadi aspri orang itu?" tanya Abigail heran.
Raline tertawa. "Biasa aja sih. Kalau lagi frustasi, aku langsung mikirin nominal gajinya aja."
Kawan-kawannya berdecak kesal.
"Kamu sama Pak Bima kan udah kaya. Kalau aku jadi kamu, aku milih diem aja di rumah foya-foya."
"Iya, bener!"
"Hei, orang kaya juga masih butuh kerja," seru Raline kesal sementara yang lain nya malah cengengesan.
Meski baru bertemu sebulan ini, hubungan partnership mereka sangat bagus. Orang-orang ini mau diajak kerja sama dalam hal apapun dan terbuka untuk hal-hal di luar pekerjaan.
"Ah, iya!" Laras tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong kamu enggak ada masalah kan sama Pak Bima?"
Kick-off meeting di mulai tepat pukul sembilan. Semua orang sudah berkumpul sebelum Matthias datang. Dan tak lama kemudian, sang direktur datang diikuti asistennya dari belakang. Ia duduk di ujung meja, menatap dengan tenang wajah tegang semua orang. "Aku sudah memberi kalian waktu sebulan sebelum rapat ini dilaksanakan. Jadi jangan mengecewakanku." Ruangan semakin dingin di bawah tatapan Matthias. "Mari kita mulai." Semua orang membuka laptop. Bersiap dengan bagiannya masing-masing dan yang memulai duluan adalah Sebastian. "Bagaimana keberlangsungan projek per hari ini?" Sebastian berdiri. "Per hari ini progresnya sudah mencapai lima puluh dua persen." "Lima puluh delapan? Menyedihkan." Matthias hampir tertawa. "Pembangunan resort itu sudah hampir tiga tahun dan baru sampai sana?" Semua orang menunduk. Matthias memijit pelipisnya. "Kenapa bisa begitu?" "Itu karena sejak awal kami kesulitan melakukan pembebasan lahan. Baru tahun kemarin seluruh pemilik t
"Nggak. Emangnya kenapa?"Pertanyaan itu memicu rasa penasaran karena di rumah Bima terlihat baik-baik saja. Sebelum menjawan, ada keraguan dari ekspresi Laras. "Jadi... Tadi aku habis dari ruangan Pak Bima, suasananya nggak enak banget."Semua orang tiba-tiba berkumpul di meja Laras. Asupan pagi ini adalah menggosipkan Pak Bima di depan istrinya."Menurutku sih ya, mungkin karena ada juniornya tiba-tiba keluar. Kalian tahu kan sekarang ini lagi sibuk banget urusan resort," sahut Abigail. "Junior yang mana?" tanya Bastian"Siapa yah... Kalau gak salah namanya Gita Sekar.""Serius? Gita Sekar anak rantau itu?" Laras berseru heboh. Abigail mengangguk. "Sumpah! Kenapa keluar? Aku tuh sering papasan sama dia di lobby. Kelihatan betah banget kerja di sini."Bukannya langsung menjawab, Abigail malah tengok kanan kiri dahulu dan berbisik sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Denger-denger sih... Hamil duluan.""Haaaa?"Semua orang kecuali Bastian menutup mulutnya dengan tangan. Ral
"Kita sudah sepakat tidak membahas hal ini lagi, Tuan Reinhardt," ujar Raline tajam. "Kapan? Kita tidak pernah menyepakati apapun." Sang direktur menyeringai, menikmati wajah marah asistennya.Tak mau menanggapinya lebih jauh, Raline segera berdiri, mengambil tas dan semua berkas yang hendak ia bawa. "Tuan... Sudah waktunya kita pergi."'Ah, ini menyenangkan.' pikir Matthias.Asistennya yang setiap hari terlihat seperti robot itu akhirnya menunjukkan ekspresi lain. Menarik. Ia pun ikut bangun. Merapikan pakaiannya lalu mengikuti sang asisten dari belakang. Tapi, saat pintu lift hendak terbuka, Matthias menarik Raline dan menyudutkan tubuhnya ke tembok. "Apa yang anda lakukan?!"Kepala Matthias tertunduk. Dengan suara rendah ia berkata. "Raline... Kedepannya kita akan bersama sepanjang hari. Melakukan perjalanan bisnis dan menginap berhari-hari. Kau akan lebih sering melihat wajahku daripada suamimu.""Apa yang mau anda katakan?!" seru Raline kesal dan panik. Pria itu semakin deka
"Sayang... Ayo sarapan dulu."Suara Bima terdengar dari luar kamar. "Iya, tunggu sebentar."Dan Raline sudah siap dengan outfitnya hari ini. Atasan warna maroon tanpa lengan, celana putih tulang, dan kitten heels. Perfect. Wanita itu turun dengan perasaan lebih ringan setelah kemarin menangis sejadi-jadinya. Dan ia pun memutuskan untuk lanjut bekerja, menghadapi situasi tak mengenakan antara dirinya dan Matthias. "Aku udah bilang, jangan bikinin aku sarapan. Istirahat aja."Bima tersenyum, memberi ciuman selamat pagi pada istrinya yang cantik dan harum. "Nggak apa-apa. Aku bisa kok. Ibu masih tidur, jadi kita sarapan berdua yah."Raline menyantap sarapannya sambil sibuk membaca email yang Sebastian—sekretaris Matthias, kirimkan berisi jadwal pria itu seminggu kedepan."Mau aku anterin?" tawar Bima.Tanpa menoleh, Raline menjawab. "Nggak perlu. Kamu tidur lagi aja. Aku mau naik taksi."Percakapan sederhana dengan suasana damai bersama pasangan. Sebagai seorang yatim piatu dari pant
Pagi menyingsing lebih cepat. Malam panas terasa seperti mimpi, tapi jejak yang ditinggalkan keduanya sudah cukup menjelaskan semuanya. Matthias terbangun dengan keadaan bugar. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi Julius, tapi karena tak kunjung mendapat jawaban dia akhirnya menghubungi Jose. Namun, pria itu pun tak kunjung mengangkat panggilannya.Dengan kesal, Matthias membanting ponselnya ke atas selimut. Tatapannya kemudian teralih pada punggung Raline yang tak tertutupi apapun. Untung saja dirinya cukup sadar diri untuk tidak meninggalkan bekas apapun. Lama dalam keheningan, Raline bergerak tak nyaman lalu terbangun. Ingatan tadi malam terasa segar di kepalanya bagaikan sambaran petir. Tidak peduli pada kondisi pinggangnya, Raline langsung bangun. Matthias menatap tenang. "Mau minum?" tawarnya.Raline memegang selimut yang menutupi tubuhnya erat dan mengangguk kecil. Pria itu pun turun dari kasur dalam keadaan telanjang. Tak memperdulikan Raline yang malu dan s
"Sialan!"Matthias melempar gelas miliknya ke lantai. Bunyi pecahan kaca memekakkan telinga dan sisa wine berceceran di mana-mana.Sementara itu, otak Raline mengirimkan sinyal bahaya. Dia langsung mundur menjauh dari sang direktur yang mulai kehilangan akalnya. "Tuan... Saya harus pulang."Raline buru-buru mengambil barang-barangnya. Dia bukan orang bodoh. Tahu dengan pasti apa yang telah ia minum. Sebelum obat itu semakin meracuni pikirannya, Raline memilih kabur.Namun, saat ia hendak pergi, Matthias mencekal tangannya. Sungguh kesalahan yang fatal karena sekarang, rasa panas itu bahkan menjalar hingga ujung jarinya."Lepaskan saya!" Raline panik berusaha menyentak genggamannya. "Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sendiri. Hubungi suamimu, suruh dia menjemputmu."Membiarkan wanita yang tengah diliputi nafsu pulang sendirian sama saja menjerumuskan pada malapetaka. Meski kepalanya pusing, Matthias masih bisa berpikir rasional. Namun, berkali-kali dihubungi, Bima tak kunjung meng







