Mag-log in
"Tuan... Kita tidak boleh seperti ini! Hentikan!"
"Raline, bicaralah dengan jujur. Tubuhmu terlanjur basah karena menginginkan ku.”
Nafas Raline memburu dengan tatapannya penuh ketakutan. Dia teringat kembali dengan berbagai rumor buruk tentang pria ini.
Bunga beracun...
Playboy...
Bajingan yang menceraikan istrinya setelah malam pertama.
Dialah Matthias von Reinhardt.
Sejak hari pertama menjadi asisten pribadinya, Raline selalu berhati-hati dan menjaga batas formalitas.
Namun, semuanya hancur oleh satu peristiwa kecil.
Beberapa jam lalu...
Ruang pesta penyambutan direktur baru masih dipenuhi oleh tawa dan suara musik.
Di sana, Raline mati-matian menahan senyumannya meski kakinya mati rasa karena harus berdiri selama empat jam dengan sepatu hak tinggi.
"Jika lelah, istirahatlah!"
Raline menegakkan punggungnya ketika suara berat sang atasan.
"Saya baik-baik saja, Tuan."
Jawaban dan senyuman sopan. Terdengar sangat kaku seolah sebuah settingan.
Matthias hanya mengangguk singkat dan kembali berbincang bersama rekannya. Mereka mengobrol akrab menggunakan bahasa Jerman dan Inggris.
Sebagai direktur pelaksana sementara yang akan menyelamatkan proyek bernilai triliunan, sikap Matthias sangat santai. Dia menanggapi amarah para investor seperti menghadapi segerombolan anak TK.
"Bagaimana pekerjaan mu di sini?" Jose Meier bertanya dengan sedikit ejekan.
"Buruk. Telingaku berdengung setiap setengah jam sekali mendengar keluhan investor."
Jose tertawa kencang. Menyukai kesengsaraan temannya.
"Namanya hukuman, tidak ada yang enak. Bekerjalah yang giat, jangan sampai ayahmu benar-benar mencoret namamu dari keluarga."
Matthias mendengus kesal. "Kau bukan Julius, berhentilah mengomel!"
Sang kawan tertawa kencang, tapi mendengar Julius, ia langsung teringat sesuatu.
"Oh, soal Julius, dia menitipkan sesuatu."
Alis Matthias mengerut curiga.
Jose memanggil asistennya yang datang dengan sebotol wine dengan kemasan mewah.
"Katanya, mendoakan keberuntunganmu. Cepat selesaikan urusanmu dan kembalilah ke Jerman. Dia kesepian."
Tubuh Matthias merinding seketika.
"Dan kalau kau menolaknya, Julius akan datang sendiri ke Indonesia," imbuh Jose dengan senyum licik sementara ekspresi Matthias benar-benar tak berdaya.
Ancaman Julius tidak bisa diremehkan.
"Raline."
Yang dipanggil sedikit terkejut.
"Ya, Tuan?"
"Tolong bawa wine itu."
"Baik."
Dengan hati-hati Raline menerima wine itu.
Tanpa siapapun sadari, Jose memperhatikan dengan seksama tatapan temannya pada Raline yang menurutnya menarik.
"Dia sungguh asistenmu?"
"Ya."
"Dia terlalu cantik dan terlihat pintar."
Matthias menoleh dengan tatapan sengit. "Hentikan pikiranmu. Dia sudah menikah."
Jose terkekeh. Ia mendekati Raline lalu berbisik. "Hati-hati, pria ini lebih bajingan dari rumor yang terdengar."
Ekspresi Raline sedikit berubah sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Terima kasih. Saya akan mengingatnya."
Respon sopan Raline membuat Jose berdecak kecewa, sementara Matthias langsung menarik kerah baju temannya ke belakang
"Menjauhlah darinya!"
Jose berdecak kesal. "Pelit sekali." Namun, keluhannya malah mendapat tatapan tajam, menyuruhnya untuk enyah.
"Ck! Baiklah, aku pergi. Tapi jangan lupa minum wine nya!"
Jose melambai sebelum menghilang di balik kerumunan. Rasanya melegakan, sang direktur mengalihkan tatapannya pada sang asisten.
"Abaikan dia. Dia memang pengacau."
"Tapi Anda tidak benar-benar kesal, kan?" Raline tertawa kecil.
Untuk beberapa saat, pria itu terpaku melihat tawanya.
Sudah sebulan ia menjadi asistennya, tapi baru kali ini Raline tertawa dengan cara manusiawi. Bukan seperti robot.
"Raline, bisakah kau bersikap lebih santai padaku?"
Tawa kecil itu sontak terhenti. "Kalau Tuan menginginkannya, akan saya lakukan."
Jawaban itu tak memuaskannya. Sebagai asisten pribadi, Raline nyaris sempurna. Namun, sikapnya terlalu kaku dan menjaga jarak. Dia bertingkah seolah banyak mengkhawatirkan sesuatu.
"Ini bukan perintah tapi permintaan. Apa kau memang sengaja menjaga jarak dariku?"
Raline terdiam.
Iya.
Itulah yang Raline lakukan.
Dia hanya memastikan dirinya tak terseret oleh rumor tidak penting yang akan merugikannya.
Melihat sang asisten terdiam dengan ekspresi datar, Matthias menarik napas kesal.
Namun, belum sempat mengomel, seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Bima Baskara. Suami Raline.
"Maaf mengganggu, boleh saya berbicara dengan istri saya sebentar?"
Melihat wajah Bima yang tergesa-gesa, Matthias mengangguk singkat.
Tanpa berlama-lama, Bima membawa sang istri sedikit menjauh.
"Ibu drop lagi. Aku harus pulang sekarang," ujarnya frustasi.
Kabar itu langsung menjungkirbalikkan perasaan Raline. Raut wajahnya berubah panik.
"Terus sekarang Ibu di mana?"
"Udah di bawa ke rumah sakit sama Om Andre. Kebetulan Om sama Tante lagi main ke rumah."
Bima terdiam sejenak.
"Kamu bisa pulang sekarang enggak?" tanyanya lagi.
Ekspresi Raline semakin tak karuan. Ia menatap sang atasan yang sedang menunggu dengan segelas minuman. Pekerjaannya jelas belum selesai. Pesta masih berjalan.
"Aku mau ..." Raline menggigit bibirnya ragu. "Tapi kayaknya nggak bisa. Aku masih harus mendampingi direktur."
Bima mengikuti arah pandang Raline dan menghela napas dalam. Hatinya berat.
"Kalau gitu, kamu bisa pulang sendiri? Aku nggak bisa jemput. Kalau terlalu malam, nginep aja di hotel."
Raline langsung mengangguk setuju.
"Iya. Nanti aku kabarin."
Bima tersenyum kecil dan memberi istrinya ciuman kecil sebelum buru-buru pergi.
Tatapan Raline hampa. Sebelum menghampiri Matthias lagi, dia menekan kecemasannya ke sudut hati lalu menata ulang ekspresinya.
"Is everything okay?" tanya Matthias segera.
"Yes, Sir. No problem."
Sayangnya ia tahu ada yang tidak beres di sini. "Kalau memang ada masalah, pulang saja, Raline."
Tawaran yang menggiurkan, tapi Raline tak. Bisa kehilangan profesionalismenya. Apalagi malam ini pasti banyak hal penting yang harus ia urus.
"Saya tidak apa-apa. Sungguh."
Sang direktur terdiam lama sebelum mengangguk kecil.
Pesta berlangsung hingga hampir tengah malam. Banyak sekali orang yang mengajak sangat direktur baru berbincang.
Selama itu, Raline menemaninya tanpa mengeluh. Setelah pesta berakhir pun, dia masih harus pergi ke Penthouse Matthias untuk mengurus beberapa hal.
Pria itu sendiri sudah tengah bersandar pada kursi dengan wajah lelah. Dasi dan jas yang ia pakai sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan tiga kancing atas terbuka.
Raline datang dengan segelas wine pemberian Julius.
"Wine anda, Tuan."
Pria itu sontak membuka mata. "Kau tidak ikut minum?" Alisnya mengernyit saat melihat hanya ada satu gelas di tangan sang asisten.
"Tidak usah. Saya harus pulang."
Tanpa banyak kata, Matthias beranjak dari kursinya. Menuju pantry dan menuangkan wine ke gelas baru.
"Kau akan menyesal. Wine milik Julius sangat enak. Cobalah seteguk sebelum pulang."
Raline mengeratkan tangannya pada gelas yang ia pegang. Karena tak enak terus menolak, dia menangguk setuju.
"Terima kasih ..."
Matthias tersenyum kecil.
"Cheers!"
Mereka meneguknya tanpa ragu.
Harus Raline akui, ini adalah wine terenak yang pernah ia cicipi. Namun, baru beberapa teguk, keanehan terjadi.
Kepalanya mendadak pusing dan tubuhnya memanas. Raline pikir dirinya keracunan atau kadar alkoholnya terlalu tinggi.
Ia pun menoleh pada Matthias dan menemukan kalau kondisi atasannya juga tak jauh berbeda darinya.
Akhirnya mereka sadar kalau ini adalah jebakan.
"Tidak bisa. Makanlah sendiri, Matthias," ucapnya tegas. Karena ekspresi Raline benar-benar tak mau dibantah, Matthias menyerah. Dia mulai menyendok makanannya dengan tenang. Mereka duduk berhadapan, tak ada percakapan, hanya suara hujan turun yang mengisi kekosongan di antara mereka. Sampai akhirnya, Raline yang pertama bersuara. "Aku sudah meminta tolong ke Pak Ando untuk menyelesaikan perbaikan jalan secepatnya. Tapi rasanya ada yang aneh." "Apa yang aneh?" Matthias menanggapi sambil mengunyah makanannya. "Tahun ini jalan itu sudah diperbaiki sebanyak lima kali. Meskipun itu adalah jalan yang dilalui mobil pengangkut barang bangunan, bukankah kerusakannya terlalu cepat?" Kecurigaan Raline terdengar masuk akal. Apalagi pembangunan jalan menuju resort memakan biaya yang tidak sedikit. 5x dalam setahun terlalu gila. "Sepertinya banyak yang harus kita lakukan di tempat ini." Sang asisten mengangguk setuju. "Aku akan menyesuaikan jadwal supaya ketika kita pulang ke Jakarta
"Saya benar-benar minta maaf, Bu Raline. Gara-gara saya, Pak Matthias dan Anda tersesat. Saya harusnya mengirim orang untuk mendampingi kalian."Pak Ando membungkuk, meminta maaf dengan tulus pada Raline yang saat ini tengah berada di depan kamar sang direktur yang tengah mendapat penanganan medis. Wanita itu belum bebenah diri, dia ingin memastikan Matthias dalam keadaan aman setelah mereka sampai di villa perusahaan. "Nggak apa-apa, Pak. Lagian Pak Matthias sendiri yang minta kunjungannya kali ini nggak perlu disambut banyak orang. Ini bukan salah siapa-siapa."Namun tetap saja Pak Ando takut. Ketika dia mendapat kabar kalau Matthias dan Raline belum juga sampai di lokasi proyek, dia langsung mengerahkan regu pencari bahkan helikopter untuk mencari mereka berdua. "Karena sudah begini, saya harap pembetulan jalan harus diutamakan. Bagaimanapun caranya, satu-satunya akses menuju lokasi tidak boleh seperti itu. Dan tambahkan juga petunjuk jalan."Pak Ando terdiam sejenak. "Sebenarn
"Raline... Raline... Bangun! Hujan mulai reda." Merasa tidurnya terganggu, ia lantas membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah pucat Matthias. "Tuan... Anda sakit?" Raline menempelkan tangannya di kening Matthias dengan cemas. Panas. Suhu tubuhnya naik drastis. Sekarang dia menyesal kenapa harus tidur dan merasa nyaman sendirian sementara atasannya kesakitan. 'Dasar bodoh!' pekiknya dalam hati. "Tidak apa-apa. Sebentar lagi aku pasti sembuh." Bohong. Sebelum datang ke Sumba, Matthias memang sudah menunjukkan tanda-tanda sakit karena kelelahan terlalu banyak bekerja. Dia hanya sedang menahan diri dengan keras kepala. "Tidak bisa begitu. Ayo, kita harus pergi dari sini." Berbeda dengan wajah Matthias, Raline sudah sepenuhnya segar. Dia keluar dari pelukan Matthias membantu pria itu berdiri. Waktu menunjukkan pukul empat sore dan hujan lebat kini menyisakan rintik kecil yang masih sanggup mereka lalui. "Anda bisa berjalan?" Matthias tersenyum kec
"Jangan mengatakan hal menakutkan, Tuan. Saya yakin hujan pasti reda." Tepat setelah mengatakan itu, petir menyambar pohon di depan mereka. Sontak wanita itu menjerit dan merapatkan tubuhnya ke sang atasan. Jantungnya berdegup kencang. "Apa saya salah?" Di sini, hanya Raline yang ketakutan. Nyatanya, pria itu tampak tenang seolah petir tadi bukanlah apa-apa. "Sepertinya langit mendukung keinginanku." Perkataan itu langsung mengundang tatapan tajam, tapi Matthias sama sekali tidak terpengaruh. Dia menyelipkan tangannya ke belakang punggung Raline, menyentuh pundaknya, lalu menariknya mendekat. "Kau bisa kedinginan." Kali ini Raline setuju. Dia membiarkan tubuh mereka yang basah kuyup saling menempel satu sama lain. Keheningan melanda. Keduanya sibuk menatap langit hitam sambil berusaha mencari kehangatan. "Setelah malam itu, apa Bima bertanya sesuatu?" "Kenapa anda membahasnya lagi? Saya sudah bilang, saya tidak mau membahas apapun tentang malam itu." "Jangan mara
"Lain kali, kau harus rajin berolahraga, Raline." Sang direktur bergurau tatkala melihat Raline sudah hampir kehabisan nafas padahal baru berjalan lima belas menit. "Saya olahraga, kok." "Kapan?" Wanita itu termenung sekejap. "Sebulan lalu?" Matthias mendengus merasa lucu. "Pantas saja." Keputusan sepihak Matthias untuk berjalan kaki sejauh satu setengah kilo tak mampu Raline tolak. Semua barang ditinggalkan di mobil, mereka hanya membawa ransel berisi barang-barang penting dan minuman. Raline tak mengharapkan perjalanan mereka mulus. Bebatuan yang tercampur lumpur telah mengotori seluruh sepatunya bahkan celananya. Kanan kiri masih dikelilingi oleh perkebunan dan dari kejauhan mereka bisa mendengar suara deburan ombak bercampur gemuruh kecil pertanda hujan akan datang. "Jika langkahmu selambat ini, kita akan basah kuyup saat sampai di villa. Cepatlah!" "Anda bisa bilang begitu karena kaki anda panjang. Ini sudah secepat yang saya bisa, " jawab Raline kesal.
"Kau terlambat lima menit, Raline." Ketika sang asisten datang, atasannya sedang duduk menunggu di lobby sambil membaca majalah dengan tampilan kasual dan kaca mata hitam. Di sampingnya ada satu koper berukuran kecil. "Maaf, Tuan Reinhardt. Ada penutupan jalan karena karnaval." Karnaval memang ada, tapi alasannya dirinya telat adalah tidak bisa tidur. Semalam Romi menelepon lagi dan seperti tempo hari, Bima buru-buru pergi bahkan tak pulang sampai pagi hari. Suaminya memberikan alasan yang terlihat meyakinkan, tapi justru itulah yang perasaan Raline tak enak. Saat wajah cantik Raline menunduk, Matthias ternyata memperhatikannya. Ekspresi wanita itu tidak bagus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, meski samar tapi Raline tak pernah seperti ini. "Baiklah. Ayo kita pergi." Dari Jakarta, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di Tambolaka-Sumba. Dan untuk sampai ke lokasi proyek, masih butuh waktu dua jam lagi menggunkan mobil. Awalnya, perjalanan sangat mulus. Sumba







