LOGINKick-off meeting di mulai tepat pukul sembilan.
Semua orang sudah berkumpul sebelum Matthias datang. Dan tak lama kemudian, sang direktur datang diikuti asistennya dari belakang. Ia duduk di ujung meja, menatap dengan tenang wajah tegang semua orang. "Aku sudah memberi kalian waktu sebulan sebelum rapat ini dilaksanakan. Jadi jangan mengecewakanku." Ruangan semakin dingin di bawah tatapan Matthias. "Mari kita mulai." Semua orang membuka laptop. Bersiap dengan bagiannya masing-masing dan yang memulai duluan adalah Sebastian. "Bagaimana keberlangsungan projek per hari ini?" Sebastian berdiri. "Per hari ini progresnya sudah mencapai lima puluh dua persen." "Lima puluh delapan? Menyedihkan." Matthias hampir tertawa. "Pembangunan resort itu sudah hampir tiga tahun dan baru sampai sana?" Semua orang menunduk. Matthias memijit pelipisnya. "Kenapa bisa begitu?" "Itu karena sejak awal kami kesulitan melakukan pembebasan lahan. Baru tahun kemarin seluruh pemilik tanah menyetujui nota penjualan." "Lalu?" "Jadi biaya tenaga kerja semakin membengkak karena lamanya proses pembangunan. Lalu keterlambatan terbesar juga ada pada arena villa premium dan utilitas." Matthias mengangguk kecil. "Kenapa bisa begitu?" Projek Coordinator berdiri dan menjawab. "Vendor MEP terlambat, Tuan. Mereka belum selesai memasang instalasi." Mereka adalah perusahaan yang menangani sistem Mechanical, Electrical, and Plumbing pada sebuah bangunan. Keterlambatan Vendor MEP bisa menjadi efek domino yang besar untuk keberlangsungan proyek ini. Matthias memijit alisnya perlahan. "Berapa persen progres MEP?" "Sekitar empat puluh delapan persen. Sebagian matrial impor tertahan, tapi dari pihak mereka sudah mengirim orang untuk menyelesaikan masalah ini." Matthias mengangguk kecil kemudian melihat Bima. "Divisi arsitektur, bagaimana dengan desain villa tambahan?" Bima berdiri, tampak profesional. "Seluruh revisi masterplan sudah selesai minggu lalu. Shop drawing untuk bangunannya juga sudah kami kirim ke kontraktor, tinggal menunggu vendor MEP yang terlambat." "Bagus. Pertahankan." Semua orang kembali hening. "Karena masalah terbesar ada di keterlambatan vendor MEP, segera koordinasikan ulang dengan mereka. Aku ingin lihat hasilnya besok jam sembilan. Dan Sebastian, saya ingin laporan progress mingguan di hari Kamis jam sepuluh." Raline mencatat semua ucapan sang direktur tanpa terkecuali. Rapat terus berlangsung dengan cukup alot. Semua orang tampak lelah, selama rapat sangat direktur sama sekali tak memberi ampun. Dan ketika rapat akhirnya berakhir, Raline bisa melihat kelegaan dari wajah mereka semua. "Aku pikir tadi bakal mati." Sebastian berbisik pada Raline, saat ini mereka sedang berjalan menuju ruangan masing-masing. "Pak Matthias emang gitu. Tanganku hampir copot kebanyakan nulis," jawabnya. "Good luck deh buat rapat selanjutnya." Raline tertawa kecil dan Sebastian izin berjalan mendahului mereka karena masih banyak kerjaan. Sementara Raline, masih setia berjalan di belakang atasannya sebelum akhirnya Bima menyenggol tangannya dari belakang. Langkahnya terhenti. "Kenapa, Mas?" "Makan siang bareng, yuk. Aku pengen makan siang di luar sama kamu." Melihat kantong hitam di bawah mata Bima membuat Raline tidak tega. "Ayo, nanti aku kabarin lagi." Bima tersenyum. "Oke. Aku duluan yah. Semangat, Istriku." Keduanya saling melempar senyuman tanpa tahu seseorang ternyata memperhatikan mereka berdua. Sesampainya di ruang Matthias, Raline segera membereskan catatan miliknya. Ia duduk dengan tenang. "Berapa menit lagi sebelum rapat selanjutnya?" tanya Matthias sambil meminum kopi miliknya. "Sekitar tiga puluh menit lagi. Apa anda lapar? Haruskah saya mengambil cemilan?" Setelah rapat menegangkan ini, ia yakin semua orang pasti tengah mengisi perut mereka dengan snack. "Tidak." "Lalu anda butuh apa?" Insting Raline berkata Matthias sedang membutuhkan sesuatu. "Kepalaku pusing, tolong pijit sebentar. Hanya beberapa menit." Raline terdiam. Wajah Matthias memang terlihat pucat, tapi ia juga ragu ini hanya tricks nya saja. "Mau saya panggilkan terapis?" Ekspresi Matthias tidak senang. "Apa kita punya waktu? Sebentar lagi rapat." Dia benar. Mungkin Raline saja yang terlalu cemas, bisa jadi pria itu mungkin benar-benar butuh bantuan. "Baiklah, akan saya lakukan." Ia berdiri di belakang kursi Matthias sementara lelaki itu menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Perlahan jari lentik Raline menyentuh rambut golden platinum Matthias yang terasa lembut dan wangi maskulin. Perasaannya mendadak aneh. "Jika aku tahu pijatan mu seenak ini, harusnya aku menyuruhmu sejak lama. Karena proyek sialan ini, kepalaku sering pusing." "Kalau anda butuh relaksasi, saya akan melakukan reservasi supaya anda bisa melakukan spa rutin." Kedua mata Matthias yang awalnya tertutup akhirnya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah serius Raline yang ia lihat dari atas. "Aku butuh pijatanmu, bukan spa." "Ini di luar pekerjaanku, Tuan." "Lalu kenapa kau mau melakukannya? Kupikir kau akan menolaknya dengan keras kepala." Seketika tangan Raline terhenti. 'Benar juga,' pikirnya. Melihat wajah kebingungan asistennya, sang direktur tertawa. "Apa kau mulai peduli padaku?" "Jangan berlebihan. Saya hanya memijit kepala anda," ujar Raline kesal, tapi tangannya tetap bergerak. Aneh memang. "By the way, malam itu juga aku melihat wajahmu dari atas. Kupikir karena aku terpengaruh obat, kau terlihat sangat cantik, tapi ternyata kau memang sangat cantik." "Tuan!" Raline berseru marah. Langsung melepaskan jarinya dari kepala Matthias. "Anda tidak sopan! Ini jam kerja!" Bukannya sadar, pria itu malah kegirangan melihat wajah asistennya yang memerah. Cantik sekali. Dia meregangkan tubuhnya dan menyesap kopinya lagi dengan santai. "Jadi aku boleh membahasnya di luar jam kerja?" tanyanya santai. "Tidak boleh!" Seru Raline lagi, kali ini lebih keras. Tawa Matthias pecah. Sakit kepala dan stress akibat rapat tadi entah kenapa menghilang begitu saja. Pria itu mengulurkan tangannya, meraih tangan Raline, dan menariknya mendekat. Ia memutar kursi ke samping sehingga Raline jatuh di antara kedua kakinya. "Manis sekali. Jika kau bertingkah seperti ini, sulit bagiku untuk tidak menggodamu." Pada awalnya, wanita itu sempat berpikir, rumor tentang Matthias yang merupakan playboy kelas kakap mungkin saja salah. Namun, Matthias yang ia lihat sekarang telah membuktikan segalanya. "Lalu saya harus apa supaya anda berhenti menggoda saya?" Tak langsung menjawab, pria itu berpikir serius. "Hm... Entahlah. Jika kau mulai menggodaku, aku akan berhenti menggodamu." "Tuan!!!" Kali ini Raline berteriak sampai bergema ke seluruh ruangan dan Matthias tak pernah sebahagia ini menggoda seseorang.Kick-off meeting di mulai tepat pukul sembilan. Semua orang sudah berkumpul sebelum Matthias datang. Dan tak lama kemudian, sang direktur datang diikuti asistennya dari belakang. Ia duduk di ujung meja, menatap dengan tenang wajah tegang semua orang. "Aku sudah memberi kalian waktu sebulan sebelum rapat ini dilaksanakan. Jadi jangan mengecewakanku." Ruangan semakin dingin di bawah tatapan Matthias. "Mari kita mulai." Semua orang membuka laptop. Bersiap dengan bagiannya masing-masing dan yang memulai duluan adalah Sebastian. "Bagaimana keberlangsungan projek per hari ini?" Sebastian berdiri. "Per hari ini progresnya sudah mencapai lima puluh dua persen." "Lima puluh delapan? Menyedihkan." Matthias hampir tertawa. "Pembangunan resort itu sudah hampir tiga tahun dan baru sampai sana?" Semua orang menunduk. Matthias memijit pelipisnya. "Kenapa bisa begitu?" "Itu karena sejak awal kami kesulitan melakukan pembebasan lahan. Baru tahun kemarin seluruh pemilik t
"Nggak. Emangnya kenapa?"Pertanyaan itu memicu rasa penasaran karena di rumah Bima terlihat baik-baik saja. Sebelum menjawan, ada keraguan dari ekspresi Laras. "Jadi... Tadi aku habis dari ruangan Pak Bima, suasananya nggak enak banget."Semua orang tiba-tiba berkumpul di meja Laras. Asupan pagi ini adalah menggosipkan Pak Bima di depan istrinya."Menurutku sih ya, mungkin karena ada juniornya tiba-tiba keluar. Kalian tahu kan sekarang ini lagi sibuk banget urusan resort," sahut Abigail. "Junior yang mana?" tanya Bastian"Siapa yah... Kalau gak salah namanya Gita Sekar.""Serius? Gita Sekar anak rantau itu?" Laras berseru heboh. Abigail mengangguk. "Sumpah! Kenapa keluar? Aku tuh sering papasan sama dia di lobby. Kelihatan betah banget kerja di sini."Bukannya langsung menjawab, Abigail malah tengok kanan kiri dahulu dan berbisik sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Denger-denger sih... Hamil duluan.""Haaaa?"Semua orang kecuali Bastian menutup mulutnya dengan tangan. Ral
"Kita sudah sepakat tidak membahas hal ini lagi, Tuan Reinhardt," ujar Raline tajam. "Kapan? Kita tidak pernah menyepakati apapun." Sang direktur menyeringai, menikmati wajah marah asistennya.Tak mau menanggapinya lebih jauh, Raline segera berdiri, mengambil tas dan semua berkas yang hendak ia bawa. "Tuan... Sudah waktunya kita pergi."'Ah, ini menyenangkan.' pikir Matthias.Asistennya yang setiap hari terlihat seperti robot itu akhirnya menunjukkan ekspresi lain. Menarik. Ia pun ikut bangun. Merapikan pakaiannya lalu mengikuti sang asisten dari belakang. Tapi, saat pintu lift hendak terbuka, Matthias menarik Raline dan menyudutkan tubuhnya ke tembok. "Apa yang anda lakukan?!"Kepala Matthias tertunduk. Dengan suara rendah ia berkata. "Raline... Kedepannya kita akan bersama sepanjang hari. Melakukan perjalanan bisnis dan menginap berhari-hari. Kau akan lebih sering melihat wajahku daripada suamimu.""Apa yang mau anda katakan?!" seru Raline kesal dan panik. Pria itu semakin deka
"Sayang... Ayo sarapan dulu."Suara Bima terdengar dari luar kamar. "Iya, tunggu sebentar."Dan Raline sudah siap dengan outfitnya hari ini. Atasan warna maroon tanpa lengan, celana putih tulang, dan kitten heels. Perfect. Wanita itu turun dengan perasaan lebih ringan setelah kemarin menangis sejadi-jadinya. Dan ia pun memutuskan untuk lanjut bekerja, menghadapi situasi tak mengenakan antara dirinya dan Matthias. "Aku udah bilang, jangan bikinin aku sarapan. Istirahat aja."Bima tersenyum, memberi ciuman selamat pagi pada istrinya yang cantik dan harum. "Nggak apa-apa. Aku bisa kok. Ibu masih tidur, jadi kita sarapan berdua yah."Raline menyantap sarapannya sambil sibuk membaca email yang Sebastian—sekretaris Matthias, kirimkan berisi jadwal pria itu seminggu kedepan."Mau aku anterin?" tawar Bima.Tanpa menoleh, Raline menjawab. "Nggak perlu. Kamu tidur lagi aja. Aku mau naik taksi."Percakapan sederhana dengan suasana damai bersama pasangan. Sebagai seorang yatim piatu dari pant
Pagi menyingsing lebih cepat. Malam panas terasa seperti mimpi, tapi jejak yang ditinggalkan keduanya sudah cukup menjelaskan semuanya. Matthias terbangun dengan keadaan bugar. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi Julius, tapi karena tak kunjung mendapat jawaban dia akhirnya menghubungi Jose. Namun, pria itu pun tak kunjung mengangkat panggilannya.Dengan kesal, Matthias membanting ponselnya ke atas selimut. Tatapannya kemudian teralih pada punggung Raline yang tak tertutupi apapun. Untung saja dirinya cukup sadar diri untuk tidak meninggalkan bekas apapun. Lama dalam keheningan, Raline bergerak tak nyaman lalu terbangun. Ingatan tadi malam terasa segar di kepalanya bagaikan sambaran petir. Tidak peduli pada kondisi pinggangnya, Raline langsung bangun. Matthias menatap tenang. "Mau minum?" tawarnya.Raline memegang selimut yang menutupi tubuhnya erat dan mengangguk kecil. Pria itu pun turun dari kasur dalam keadaan telanjang. Tak memperdulikan Raline yang malu dan s
"Sialan!"Matthias melempar gelas miliknya ke lantai. Bunyi pecahan kaca memekakkan telinga dan sisa wine berceceran di mana-mana.Sementara itu, otak Raline mengirimkan sinyal bahaya. Dia langsung mundur menjauh dari sang direktur yang mulai kehilangan akalnya. "Tuan... Saya harus pulang."Raline buru-buru mengambil barang-barangnya. Dia bukan orang bodoh. Tahu dengan pasti apa yang telah ia minum. Sebelum obat itu semakin meracuni pikirannya, Raline memilih kabur.Namun, saat ia hendak pergi, Matthias mencekal tangannya. Sungguh kesalahan yang fatal karena sekarang, rasa panas itu bahkan menjalar hingga ujung jarinya."Lepaskan saya!" Raline panik berusaha menyentak genggamannya. "Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sendiri. Hubungi suamimu, suruh dia menjemputmu."Membiarkan wanita yang tengah diliputi nafsu pulang sendirian sama saja menjerumuskan pada malapetaka. Meski kepalanya pusing, Matthias masih bisa berpikir rasional. Namun, berkali-kali dihubungi, Bima tak kunjung meng







