LOGIN"Sialan!"
Matthias melempar gelas miliknya ke lantai. Bunyi pecahan kaca memekakkan telinga dan sisa wine berceceran di mana-mana.
Sementara itu, otak Raline mengirimkan sinyal bahaya. Dia langsung mundur menjauh dari sang direktur yang mulai kehilangan akalnya.
"Tuan... Saya harus pulang."
Raline buru-buru mengambil barang-barangnya.
Dia bukan orang bodoh. Tahu dengan pasti apa yang telah ia minum. Sebelum obat itu semakin meracuni pikirannya, Raline memilih kabur.
Namun, saat ia hendak pergi, Matthias mencekal tangannya. Sungguh kesalahan yang fatal karena sekarang, rasa panas itu bahkan menjalar hingga ujung jarinya.
"Lepaskan saya!" Raline panik berusaha menyentak genggamannya.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sendiri. Hubungi suamimu, suruh dia menjemputmu."
Membiarkan wanita yang tengah diliputi nafsu pulang sendirian sama saja menjerumuskan pada malapetaka. Meski kepalanya pusing, Matthias masih bisa berpikir rasional.
Namun, berkali-kali dihubungi, Bima tak kunjung mengangkat panggilannya. Raline mengerang frustasi, sementara Matthias belum mau melepaskan genggamannya.
Seperti yang Jose katakan, Raline sangat cantik dan harum. Apalagi dengan pengaruh obat afrodisiak, kecantikan wanita itu meningkatkan drastis seperti bunga beracun yang tak sanggup Matthias sentuh.
Pikiran tak waras menghantui keduanya.
Raline menggenggam poselnya erat-erat seraya menatap mata biru Matthias dengan sayu.
Sang direktur hampir meledak melihat tatapan asistennya. Tanpa sadar, tangannya sudah menyentuh wajah Raline yang terasa lembut.
Raline menahan napas. Otaknya berteriak untuk menghindar tapi tubuhnya tak mau bergerak.
"Saya akan pulang dengan taksi."
"Kau tidak sadar bagaimana penampilanmu sekarang? Bukankah lebih baik bersamaku daripada dengan supir taksi?"
"Apa yang Anda katakan!" teriak Raline marah. "Saya tidak seperti itu!"
Matthias terdiam, memandang wajahnya lebih dalam.
"Saya harus pergi sebelum sesuatu yang salah terjadi."
Benar.
Jika mereka bersama lebih lama lagi, hal buruk akan terjadi. Keinginan untuk saling menyentuh semakin kuat. Raline bahkan sudah berani meletakkan tubuhnya di dada Matthias. Nafasnya berat.
"Ini tidak akan berhasil, Raline. Kita tidak bisa menghindar," bisik sang direktur.
Ia tak pernah merasa sekotor ini karena menginginkan seseorang. Tubuh mereka semakin merapat sampai bisa merasakan hawa panas masing-masing.
"Tidak boleh! Saya punya suami." Raline hendak melepaskan diri, tapi pinggangnya langsung ditahan.
"Sebentar, Raline. Rasanya aku hampir gila."
Seluruh tubuhnya meremang. Aroma harum tubuh sang wanita terasa sangat sensual. Matthias mati-matian menahan dirinya supaya tidak menyentuh lebih jauh lagi.
Matthias memeluk dengan erat.
Raline merasa tak berdaya berada dalam pelukan sang atasan. Tubuh dan pikirannya tak selaras.
"Katanya air dingin bisa meredakan gejala afrodisiak. Aku akan melakukannya."
"Tidak boleh. Ini sudah malam, kau bisa sakit."
"Lalu kita akan menerimanya begitu saja? Saya tidak mau mengkhianati suamiku."
"Ini bukan pengkhianatan, Raline. Kita hanya tidak punya cara lain."
Tanpa mempertimbangkan ucapan Matthias, wanita itu mendorongnya menjauh sampai pelukan mereka terlepas.
"Maaf tapi saya tidak bisa menyerah begitu saja."
Dengan langkah sempoyongan, wanita itu berlari menuju kamar mandi dan membiarkan air shower mengguyur tubuhnya. Lebih baik pulang dalam keadaan basah dan sakit daripada harus mengikuti hasrat terkutuknya.
Tapi ternyata tak berhasil. Air dingin tak bisa memadamkan api dalam tubuhnya. Raline menarik rambutnya dengan tangisan yang tertahan di sudut mata.
Ia bahkan mencakar lengannya sendiri supaya tetap sadar.
"Raline, cukup!"
Matthias datang. Dia mematikan shower dan menarik wanita itu menjauh. Hatinya mendidih melihat wajah Raline yang sudah biru karena kedinginan.
"Lepaskan saya, Tuan! Saya yakin ini akan berhasil." Tatapannya sudah tak fokus, ia ketakutan.
Matthias memandangnya iba. Ini pasti membingungkan untuknya. Tapi dosis obatnya terlalu kuat. Ia hampir kehilangan kendali.
"Tenangkan dirimu, Raline. Obatnya akan bekerja semakin cepat jika kau panik."
Bagaimana tidak panik, dalam pikirannya hanya ada kemungkinan terburuk.
Selama sebulan ini Raline mati-matian menjaga batas dengan atasannya, dia tak pernah menyangka seteguk wine akan menghancurkannya.
Tatapan mereka kembali bertemu. Bibir plump Raline membuat tatapan Matthias terkunci. Kemejanya basah tapi dia malah kepanasan.
"Sudah terlambat menghentikan ini."
Tangan dingin Matthias mengelus bibir Raline perlahan. Nafasnya tertahan.
"Pasti ada cara." Raline menahan tangan sang atasan. "Anda bisa membuat saya pingsan dan mengunci saya di ruangan lain."
Matthias tertawa kecil. "Lebih baik pukul saja aku."
Raline menggigit bibirnya. Tangannya mengepal. Dia tak punya keberanian untuk memukul seorang Matthias von Reinhardt.
"Tidak bisa?" Matthias menyeringai kecil. "Jangan terlalu memikirkannya, Raline. Aku janji selamanya ini akan menjadi rahasia kita," bisiknya.
Raline menahan tubuh sang direktur saat pria itu semakin mendekat.
Nafas mereka semakin berat, hawa panas menjalar hingga menguburkan seluruh rasionalitas dan profesionalisme yang selama sebulan mengikat mereka.
Dan ketika bibir Matthias terlihat lebih dekat, pikirannya kabur. Ia tak ingat siapa yang memulainya duluan, mereka akhirnya berciuman dengan sangat panas.
"Tu-an ..."
Raline mengerang dalam kegilaan saat sang direktur mulai berani meraba-raba tubuhnya.
"Raline... Bibirmu sangat manis."
Ciuman mereka tak berhenti bahkan saat sang pria menggendong wanitanya keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Satu persatu pakaian mereka terlepas.
Dalam keheningan, mereka saling mengagumi tubuh masing-masing. Wajah sang wanita memerah sempurna sementara sang pria terpaku tanpa berkedip.
"Tuan... Kita tidak boleh seperti ini. Hentikan!"
Matthias meraih tangan Raline yang hendak mendorongnya menjauh dan menciumnya.
"Raline, bicaralah dengan jujur. Tubuhmu terlanjur basah karena menginginkan ku."
Raline meringis kecil saat pria itu menjilat jari-jarinya.
"Kita akan menyesal," ujarnya dengan desahan kecil.
"Tidak, kita tidak akan menyesal. Percayalah padaku, Raline Dara."
Sebuah ciuman menenggelamkan keraguan itu.
Dalam sebuah penyatuan yang tak seharusnya terjadi, semua batas yang mengikat keduanya terlepas.
Pada malam itu, kamar sang direktur yang biasanya dingin berubah panas seperti neraka.
Satu tegukan wine berubah menjadi erangan yang saling bersahutan dan keduanya takkan bisa kembali ke hubungan yang sama lagi.
Kick-off meeting di mulai tepat pukul sembilan. Semua orang sudah berkumpul sebelum Matthias datang. Dan tak lama kemudian, sang direktur datang diikuti asistennya dari belakang. Ia duduk di ujung meja, menatap dengan tenang wajah tegang semua orang. "Aku sudah memberi kalian waktu sebulan sebelum rapat ini dilaksanakan. Jadi jangan mengecewakanku." Ruangan semakin dingin di bawah tatapan Matthias. "Mari kita mulai." Semua orang membuka laptop. Bersiap dengan bagiannya masing-masing dan yang memulai duluan adalah Sebastian. "Bagaimana keberlangsungan projek per hari ini?" Sebastian berdiri. "Per hari ini progresnya sudah mencapai lima puluh dua persen." "Lima puluh delapan? Menyedihkan." Matthias hampir tertawa. "Pembangunan resort itu sudah hampir tiga tahun dan baru sampai sana?" Semua orang menunduk. Matthias memijit pelipisnya. "Kenapa bisa begitu?" "Itu karena sejak awal kami kesulitan melakukan pembebasan lahan. Baru tahun kemarin seluruh pemilik t
"Nggak. Emangnya kenapa?"Pertanyaan itu memicu rasa penasaran karena di rumah Bima terlihat baik-baik saja. Sebelum menjawan, ada keraguan dari ekspresi Laras. "Jadi... Tadi aku habis dari ruangan Pak Bima, suasananya nggak enak banget."Semua orang tiba-tiba berkumpul di meja Laras. Asupan pagi ini adalah menggosipkan Pak Bima di depan istrinya."Menurutku sih ya, mungkin karena ada juniornya tiba-tiba keluar. Kalian tahu kan sekarang ini lagi sibuk banget urusan resort," sahut Abigail. "Junior yang mana?" tanya Bastian"Siapa yah... Kalau gak salah namanya Gita Sekar.""Serius? Gita Sekar anak rantau itu?" Laras berseru heboh. Abigail mengangguk. "Sumpah! Kenapa keluar? Aku tuh sering papasan sama dia di lobby. Kelihatan betah banget kerja di sini."Bukannya langsung menjawab, Abigail malah tengok kanan kiri dahulu dan berbisik sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Denger-denger sih... Hamil duluan.""Haaaa?"Semua orang kecuali Bastian menutup mulutnya dengan tangan. Ral
"Kita sudah sepakat tidak membahas hal ini lagi, Tuan Reinhardt," ujar Raline tajam. "Kapan? Kita tidak pernah menyepakati apapun." Sang direktur menyeringai, menikmati wajah marah asistennya.Tak mau menanggapinya lebih jauh, Raline segera berdiri, mengambil tas dan semua berkas yang hendak ia bawa. "Tuan... Sudah waktunya kita pergi."'Ah, ini menyenangkan.' pikir Matthias.Asistennya yang setiap hari terlihat seperti robot itu akhirnya menunjukkan ekspresi lain. Menarik. Ia pun ikut bangun. Merapikan pakaiannya lalu mengikuti sang asisten dari belakang. Tapi, saat pintu lift hendak terbuka, Matthias menarik Raline dan menyudutkan tubuhnya ke tembok. "Apa yang anda lakukan?!"Kepala Matthias tertunduk. Dengan suara rendah ia berkata. "Raline... Kedepannya kita akan bersama sepanjang hari. Melakukan perjalanan bisnis dan menginap berhari-hari. Kau akan lebih sering melihat wajahku daripada suamimu.""Apa yang mau anda katakan?!" seru Raline kesal dan panik. Pria itu semakin deka
"Sayang... Ayo sarapan dulu."Suara Bima terdengar dari luar kamar. "Iya, tunggu sebentar."Dan Raline sudah siap dengan outfitnya hari ini. Atasan warna maroon tanpa lengan, celana putih tulang, dan kitten heels. Perfect. Wanita itu turun dengan perasaan lebih ringan setelah kemarin menangis sejadi-jadinya. Dan ia pun memutuskan untuk lanjut bekerja, menghadapi situasi tak mengenakan antara dirinya dan Matthias. "Aku udah bilang, jangan bikinin aku sarapan. Istirahat aja."Bima tersenyum, memberi ciuman selamat pagi pada istrinya yang cantik dan harum. "Nggak apa-apa. Aku bisa kok. Ibu masih tidur, jadi kita sarapan berdua yah."Raline menyantap sarapannya sambil sibuk membaca email yang Sebastian—sekretaris Matthias, kirimkan berisi jadwal pria itu seminggu kedepan."Mau aku anterin?" tawar Bima.Tanpa menoleh, Raline menjawab. "Nggak perlu. Kamu tidur lagi aja. Aku mau naik taksi."Percakapan sederhana dengan suasana damai bersama pasangan. Sebagai seorang yatim piatu dari pant
Pagi menyingsing lebih cepat. Malam panas terasa seperti mimpi, tapi jejak yang ditinggalkan keduanya sudah cukup menjelaskan semuanya. Matthias terbangun dengan keadaan bugar. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi Julius, tapi karena tak kunjung mendapat jawaban dia akhirnya menghubungi Jose. Namun, pria itu pun tak kunjung mengangkat panggilannya.Dengan kesal, Matthias membanting ponselnya ke atas selimut. Tatapannya kemudian teralih pada punggung Raline yang tak tertutupi apapun. Untung saja dirinya cukup sadar diri untuk tidak meninggalkan bekas apapun. Lama dalam keheningan, Raline bergerak tak nyaman lalu terbangun. Ingatan tadi malam terasa segar di kepalanya bagaikan sambaran petir. Tidak peduli pada kondisi pinggangnya, Raline langsung bangun. Matthias menatap tenang. "Mau minum?" tawarnya.Raline memegang selimut yang menutupi tubuhnya erat dan mengangguk kecil. Pria itu pun turun dari kasur dalam keadaan telanjang. Tak memperdulikan Raline yang malu dan s
"Sialan!"Matthias melempar gelas miliknya ke lantai. Bunyi pecahan kaca memekakkan telinga dan sisa wine berceceran di mana-mana.Sementara itu, otak Raline mengirimkan sinyal bahaya. Dia langsung mundur menjauh dari sang direktur yang mulai kehilangan akalnya. "Tuan... Saya harus pulang."Raline buru-buru mengambil barang-barangnya. Dia bukan orang bodoh. Tahu dengan pasti apa yang telah ia minum. Sebelum obat itu semakin meracuni pikirannya, Raline memilih kabur.Namun, saat ia hendak pergi, Matthias mencekal tangannya. Sungguh kesalahan yang fatal karena sekarang, rasa panas itu bahkan menjalar hingga ujung jarinya."Lepaskan saya!" Raline panik berusaha menyentak genggamannya. "Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sendiri. Hubungi suamimu, suruh dia menjemputmu."Membiarkan wanita yang tengah diliputi nafsu pulang sendirian sama saja menjerumuskan pada malapetaka. Meski kepalanya pusing, Matthias masih bisa berpikir rasional. Namun, berkali-kali dihubungi, Bima tak kunjung meng







