Share

Bab 2. Terjerat Dosa

Author: Magnolia Lily
last update publish date: 2026-08-04 10:45:31

"Sialan!"

Matthias melempar gelas miliknya ke lantai. Bunyi pecahan kaca memekakkan telinga dan sisa wine berceceran di mana-mana.

Sementara itu, otak Raline mengirimkan sinyal bahaya. Dia langsung mundur menjauh dari sang direktur yang mulai kehilangan akalnya. 

"Tuan... Saya harus pulang."

Raline buru-buru mengambil barang-barangnya. 

Dia bukan orang bodoh. Tahu dengan pasti apa yang telah ia minum. Sebelum obat itu semakin meracuni pikirannya, Raline memilih kabur.

Namun, saat ia hendak pergi, Matthias mencekal tangannya. Sungguh kesalahan yang fatal karena sekarang, rasa panas itu bahkan menjalar hingga ujung jarinya.

"Lepaskan saya!" Raline panik berusaha menyentak genggamannya. 

"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sendiri. Hubungi suamimu, suruh dia menjemputmu."

Membiarkan wanita yang tengah diliputi nafsu pulang sendirian sama saja menjerumuskan pada malapetaka. Meski kepalanya pusing, Matthias masih bisa berpikir rasional. 

Namun, berkali-kali dihubungi, Bima tak kunjung mengangkat panggilannya. Raline mengerang frustasi, sementara Matthias belum mau melepaskan genggamannya.

Seperti yang Jose katakan, Raline sangat cantik dan harum. Apalagi dengan pengaruh obat afrodisiak, kecantikan wanita itu meningkatkan drastis seperti bunga beracun yang tak sanggup Matthias sentuh. 

Pikiran tak waras menghantui keduanya. 

Raline menggenggam poselnya erat-erat seraya menatap mata biru Matthias dengan sayu. 

Sang direktur hampir meledak melihat tatapan asistennya. Tanpa sadar, tangannya sudah menyentuh wajah Raline yang terasa lembut. 

Raline menahan napas. Otaknya berteriak untuk menghindar tapi tubuhnya tak mau bergerak. 

"Saya akan pulang dengan taksi."

"Kau tidak sadar bagaimana penampilanmu sekarang? Bukankah lebih baik bersamaku daripada dengan supir taksi?"

"Apa yang Anda katakan!" teriak Raline marah. "Saya tidak seperti itu!"

Matthias terdiam, memandang wajahnya lebih dalam. 

"Saya harus pergi sebelum sesuatu yang salah terjadi."

Benar. 

Jika mereka bersama lebih lama lagi, hal buruk akan terjadi. Keinginan untuk saling menyentuh semakin kuat. Raline bahkan sudah berani meletakkan tubuhnya di dada Matthias. Nafasnya berat. 

"Ini tidak akan berhasil, Raline. Kita tidak bisa menghindar," bisik sang direktur. 

Ia tak pernah merasa sekotor ini karena menginginkan seseorang. Tubuh mereka semakin merapat sampai bisa merasakan hawa panas masing-masing.

"Tidak boleh! Saya punya suami." Raline hendak melepaskan diri, tapi pinggangnya langsung ditahan.

"Sebentar, Raline. Rasanya aku hampir gila."

Seluruh tubuhnya meremang. Aroma harum tubuh sang wanita terasa sangat sensual. Matthias mati-matian menahan dirinya supaya tidak menyentuh lebih jauh lagi.

Matthias memeluk dengan erat. 

Raline merasa tak berdaya berada dalam pelukan sang atasan. Tubuh dan pikirannya tak selaras. 

"Katanya air dingin bisa meredakan gejala afrodisiak. Aku akan melakukannya."

"Tidak boleh. Ini sudah malam, kau bisa sakit."

"Lalu kita akan menerimanya begitu saja? Saya tidak mau mengkhianati suamiku."

"Ini bukan pengkhianatan, Raline. Kita hanya tidak punya cara lain."

Tanpa mempertimbangkan ucapan Matthias, wanita itu mendorongnya menjauh sampai pelukan mereka terlepas. 

"Maaf tapi saya tidak bisa menyerah begitu saja."

Dengan langkah sempoyongan, wanita itu berlari menuju kamar mandi dan membiarkan air shower mengguyur tubuhnya. Lebih baik pulang dalam keadaan basah dan sakit daripada harus mengikuti hasrat terkutuknya.

Tapi ternyata tak berhasil. Air dingin tak bisa memadamkan api dalam tubuhnya. Raline menarik rambutnya dengan tangisan yang tertahan di sudut mata. 

Ia bahkan mencakar lengannya sendiri supaya tetap sadar. 

"Raline, cukup!"

Matthias datang. Dia mematikan shower dan menarik wanita itu menjauh. Hatinya mendidih melihat wajah Raline yang sudah biru karena kedinginan. 

"Lepaskan saya, Tuan! Saya yakin ini akan berhasil." Tatapannya sudah tak fokus, ia ketakutan. 

Matthias memandangnya iba. Ini pasti membingungkan untuknya. Tapi dosis obatnya terlalu kuat. Ia hampir kehilangan kendali. 

"Tenangkan dirimu, Raline. Obatnya akan bekerja semakin cepat jika kau panik."

Bagaimana tidak panik, dalam pikirannya hanya ada kemungkinan terburuk. 

Selama sebulan ini Raline mati-matian menjaga batas dengan atasannya, dia tak pernah menyangka seteguk wine akan menghancurkannya. 

Tatapan mereka kembali bertemu. Bibir plump Raline membuat tatapan Matthias terkunci. Kemejanya basah tapi dia malah kepanasan. 

"Sudah terlambat menghentikan ini."

Tangan dingin Matthias mengelus bibir Raline perlahan. Nafasnya tertahan. 

"Pasti ada cara." Raline menahan tangan sang atasan. "Anda bisa membuat saya pingsan dan mengunci saya di ruangan lain."

Matthias tertawa kecil. "Lebih baik pukul saja aku."

Raline menggigit bibirnya. Tangannya mengepal. Dia tak punya keberanian untuk memukul seorang Matthias von Reinhardt.

"Tidak bisa?" Matthias menyeringai kecil. "Jangan terlalu memikirkannya, Raline. Aku janji selamanya ini akan menjadi rahasia kita," bisiknya. 

Raline menahan tubuh sang direktur saat pria itu semakin mendekat. 

Nafas mereka semakin berat, hawa panas menjalar hingga menguburkan seluruh rasionalitas dan profesionalisme yang selama sebulan mengikat mereka. 

Dan ketika bibir Matthias terlihat lebih dekat, pikirannya kabur. Ia tak ingat siapa yang memulainya duluan, mereka akhirnya berciuman dengan sangat panas. 

"Tu-an ..." 

Raline mengerang dalam kegilaan saat sang direktur mulai berani meraba-raba tubuhnya. 

"Raline... Bibirmu sangat manis."

Ciuman mereka tak berhenti bahkan saat sang pria menggendong wanitanya keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. 

Satu persatu pakaian mereka terlepas. 

Dalam keheningan, mereka saling mengagumi tubuh masing-masing. Wajah sang wanita memerah sempurna sementara sang pria terpaku tanpa berkedip. 

"Tuan... Kita tidak boleh seperti ini. Hentikan!"

Matthias meraih tangan Raline yang hendak mendorongnya menjauh dan menciumnya. 

"Raline, bicaralah dengan jujur. Tubuhmu terlanjur basah karena menginginkan ku."

Raline meringis kecil saat pria itu menjilat jari-jarinya. 

"Kita akan menyesal," ujarnya dengan desahan kecil. 

"Tidak, kita tidak akan menyesal. Percayalah padaku, Raline Dara."

Sebuah ciuman menenggelamkan keraguan itu. 

Dalam sebuah penyatuan yang tak seharusnya terjadi, semua batas yang mengikat keduanya terlepas. 

Pada malam itu, kamar sang direktur yang biasanya dingin berubah panas seperti neraka. 

Satu tegukan wine berubah menjadi erangan yang saling bersahutan dan keduanya takkan bisa kembali ke hubungan yang sama lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 40. Kenapa Petrus Berkhianat

    Beberapa jam sebelumnya. "Sial! Wanita terkutuk itu... Aarrggghhh..."Petrus terdiam mendengar segala makian yang keluar dari mulut David. Tatapannya tertuju ke depan. Ke arah lautan gelap yang entah akan membawanya ke mana. Lautan di depannya terlihat seperti dirinya. Gelap. Tak berujung. Sudah bertahun-tahun dia mengikuti David Wadu sebagai 'kacung' paling setia. Namun, setiap kali dia melakukan kejahatan atas perintah pria itu, beban hatinya makin hari semakin bertambah. Petrus bahkan sampai tidak berani menjalin hubungan atau memiliki anak karena takut akan karma buruknya akan menimpa keluarganya kelak. Dan dari semua kejahatan yang ia buat, kali ini entah kenapa memukulnya begitu keras. Tatapan Raline... Menghantuinya. Sampai saat inipun tatapan itu masih terbayang di pikirannya. Petrus lantas memandangi tangannya sendiri, tangan ini... Berdarah-darah. Banyak orang yang hancur hidupnya karena tangan ini. "Pokoknya aku akan kembali. Aku akan mencari wanita itu dan membun

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 39. Perubahan Emosional

    Setelah mengerahkan seluruh tenaga, perahu itu berhasil mendarat di pesisir pantai. Matthias turun dan langsung mengangkat tubuh Raline dari dalam perahu. "Tuan... Biar saya saja yang membawanya," ucap tim keamanan. Kondisi Matthias sama mengkhawatirkannya seperti Raline. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. "Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri," ujarnya keras kepala. Namun, baru beberapa kali melangkah, tubuhnya terhuyung lalu terjatuh. "Tuan!"Dengan bantuan, ia lantas berdiri sementara Raline terlepas dari gendongannya. "Jangan memaksakan diri Anda lagi." Matthias mengeratkan bibirnya. "Pastikan kau membawanya dengan hati-hati lalu tutup tubuhnya," ucapnya dengan berat hati. Pria itu mengangguk dan pelan-pelan mengendong Raline. Tak jauh dari sana, seorang tim keamanan berlari menghampiri mereka. "Tuan... Anda baik-baik saja? Biar saja bantu."Kali ini Matthias tak keras kepala, dia membiarkan seseorang membantunya. "Bagaimana kondisi sekarang?" tanyanya kemudian.

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 38. Penyelamatan Raline

    "Tuan... Kita semakin dekat dengan lokasi yang dibagikan Nyonya Raline. Kita akan turun menggunakan Rope Ladder karena saya tidak menemukan tempat pendaratan," ucap sang pilot."Area tersebut terlalu padat oleh pepohonan.""Ya. Lakukan."Saat ini Matthias berada di dalam helikopter bersama beberapa orang dari tim keamanan proyek sementara Ando akan menyusul dengan bala bantuan. Matthias tidak ingin bertindak gegabah sendirian. Dia hanya punya satu nyawa sementara dia sama sekali tidak tahu berapa banyak lawan yang akan ia hadapi. Membawa orang sebanyak mungkin adalah langkah yang menurutnya paling rasional apalagi tubuhnya sedang terluka."Tuan... Anda tidak apa-apa? Biar kami saja yang turun. Anda terluka.""Aku masih bisa menahannya. Persiapkan diri kalian, kita akan mendarat."Mereka semua mengangguk serempak. Dari mulai kaca mata, masker wajah, dan radio khusus atau mikrofon yang menempel di leher untuk menyaring kebisingan suara mesin helikopter.Tangan Matthias mengepal sambi

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 37. Bertahan Dalam Lautan

    "A-apa kau bilang?"Matthias bangun terlalu cepat hingga kepalanya langsung berdenyut hebat. Dokter yang baru masuk ke sana segera menghampirinya dan membantunya duduk lagi."Tuan, jangan bangun dulu, luka di tubuh Anda masih..."Matthias mengangkat satu tangannya. Tatapan tajamnya terhenti pada Ando yang gemetar. "Di mana Raline sekarang?" Suara Matthias terdengar rendah sementara Ando hanya mampu menggeleng pelan. "Saya tidak tahu. David hanya menyuruh saya seperti itu, tidak memberitahukan rencana sebenarnya. Saya pun tidak terlalu mengerti kenapa dia menargetkan Nyonya Raline."Tangan Matthias refleks mencengkeram sisi tandu. Sambil menarik napas panjang, dia mendongak sambil berusaha berpikir jernih. "Tuan..." Ando bersuara lagi, kali ini sangat pelan. "Kita harus menyelamatkan Nyonya Raline, David adalah orang yang lebih gila dari yang kita pikirkan. Saya takut Nyonya Raline akan..."Matthias memejamkan matanya. Raline... Raline... Kepalanya dipenuhi oleh wanita itu. Bag

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 36. Pengakuan Ando

    "Kenapa lama sekali sadarnya?""Obat biusnya kebanyakan kali.""Cepat bikin dia sadar, Bos udah mau marah lagi."Mereka menoleh ke belakang, di mana David tengah duduk dengan ekspresi wajah ditekuk. "Mana bisa. Kita harus nunggu. Lihat... Kelopak matanya gerak-gerak."Benar saja, tak lama kemudian kedua mata Raline terbuka. Karena efek bius itu, tubuhnya terasa dua kali lipat lebih dingin dan perutnya mual. Matanya mengerjap pelan sambil mengumpulkan kesadaran karena otaknya mendadak linglung."Di mana ini?" lirihnya. "Bos dia sudah sadar!" teriak seseorang pada David. Dia yang telah menunggu hampir satu jam langsung berdiri sambil membuang dan menginjak rokoknya. Semua orang memberi jalan, membiarkan David berhadapan langsung dengan Raline yang saat ini terikat di sebuah sofa di dalam sebuah gudang nelayan terbengkalai dekat pelabuhan. David menarik dagu Raline lalu mencengkeramnya erat sampai wanita itu merintih kesakitan. "Tak kusangka aku dipermainkan oleh wanita sepertimu.

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 35. Pertempuran Sengit

    "Ah, omong-omong siapa nama bapak? Wajah Anda tidak asing." Raline duduk tenang di samping sang supir yang sedari tadi tak menoleh sedikitpun. Wajahnya kaku dan ada atmosfer aneh yang membuat Raline cemas tanpa sebab. "Saya Petrus. Kita memang pernah beberapa kali berpapasan di lokasi proyek." Petrus... Ia hafal beberapa orang dari tim proyek, tapi tak merasa ada nama Petrus dalam ingatannya. "Petrus... Anda bukan dari tim proyek, yah? Apa Anda ditempatkan di tempat lain?" Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. "Ingatan Bu Raline ternyata tajam yah." Petrus tertawa kecil. "Benar. Saya bukan dari tim proyek tapi berasal dari Darmawangsa. Anda mengenal David Wadu? Dia bos saya." Deg. "A-apa?" Alarm bahaya seketika berbunyi di kepalanya. "Jangan terlalu terkejut, Bu Raline. Saya bukan orang jahat." 'Mustahil,' pikir Raline. Firasatnya mengatakan yang sebaliknya. Ia merasa telah masuk ke dalam sebuah jebakan. "Apa yang kau inginkan? Turunkan aku sekarang!"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status