Share

12

last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-12 20:22:46

Malam itu, pesisir utara Jakarta tidak menawarkan belas kasihan. Angin laut bertiup kencang menembus celah-celah bangunan industri di kawasan Tanjung Priok, membawa serta aroma garam, karat besi tua, dan sisa polusi pabrik. Kawasan ini selalu mati setelah tengah malam. Deretan kontainer yang ditumpuk menjulang layaknya labirin besi dan pabrik-pabrik kosong yang gelap menjadi saksi bisu bagi hukum jalanan yang berkuasa di sini.

​Atlas duduk di balik kemudi Mustang-nya. Tangannya mencengker
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    Tidak ada keraguan. Tidak ada lagi sisa-sisa moralitas remaja atau batasan dunia terang yang selama ini mengurung Atlas Mahardika.​Saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada kelembutan klise layaknya romansa picisan anak sekolahan. Sentuhan itu adalah sebuah hantaman absolut. Sebuah proklamasi kepemilikan yang kasar, menuntut, dan dipenuhi oleh gairah gelap yang selama ini tertidur di dalam diri Atlas.​Mata Vea membelalak untuk sepersekian detik saat bibir pemuda itu melumat bibirnya. Udara di paru-parunya seakan dirampas secara paksa. Atlas tidak meminta izin; ia mengambil kendali sepenuhnya. Tangan kirinya menelusup kuat ke tengkuk Vea, menahan kepala gadis itu agar tidak bisa menghindar, sementara tangan kanannya yang tadi menangkup rahang kini turun, mencengkeram pinggang ramping Vea yang hanya terbalut keringat dan udara dingin.​Vea, pembunuh bayaran yang terbiasa mencabut nyawa tanpa berkedip, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasa dilumpuhkan.​Rasa

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Deru mesin V8 Bi-Turbo dari Audi RS7 itu menjadi satu-satunya suara yang mendominasi di dalam kabin kedap suara, membelah jalan tol Jagorawi dengan kecepatan yang membuat mobil-mobil lain tampak seperti siput yang merangkak mundur.​Tangan Atlas mencengkeram setir berlapis kulit Nappa hitam dengan kekuatan yang cukup untuk membengkokkan besi. Tulang-tulang di buku jarinya menonjol putih. Ia menatap lurus ke depan, matanya sedingin bongkahan es di tengah badai, sementara otaknya berputar merangkai kepingan-kepingan realitas baru yang baru saja menghancurkan hidupnya.​Ia baru saja lari dari sekolah. Ia membawa kabur seorang buronan mafia. Ia menodongkan senjata api curian ke arah pembunuh bayaran kartel. Dan yang paling gila dari semua itu? Atlas tidak merasakan setitik pun penyesalan.​Di kursi penumpang sebelah kiri, Vea Kendoveks duduk terdiam. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, matanya terpejam. Kaus hitam ketat yang membalut tubuhnya kini tampak semak

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Gagang besi berkarat itu berputar dengan lambat, menciptakan bunyi decit pelan yang terdengar bagaikan gesekan pisau di atas kaca dalam kesunyian ruang sempit tersebut.​Satu sentimeter. Dua sentimeter. Celah cahaya lampu neon dari lorong perlahan merayap masuk, membelah kegelapan yang menyelimuti Atlas dan Vea.​Di dalam sangkar beton yang pengap itu, waktu seolah berhenti berdetak. Atlas menahan napasnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang Beretta 92FS dengan mantap, larasnya terangkat lurus, membidik tepat ke arah celah cahaya yang semakin melebar. Jari telunjuknya sudah melingkar di atas pelatuk, siap memberikan tekanan seberat tiga pon yang akan mengirimkan timah panas menembus tengkorak siapa pun yang berani membuka pintu ini sepenuhnya.​Tidak ada keraguan di mata Atlas. Tidak ada sisa-sisa moralitas remaja sekolah menengah. Yang ada hanyalah insting purba seorang pria yang wilayahnya, wanitanya, sedang terancam.​Vea, sang putri mafia yang biasanya tak gent

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Adrenalin membanjiri pembuluh darah Atlas bagaikan bensin yang disiramkan ke atas kobaran api.​Ia berlari menyusuri koridor utama SMA Pelita Harapan Bangsa, menabrak bahu beberapa siswa yang langsung melontarkan protes, namun Atlas bahkan tidak menoleh untuk mengumpat balik. Pandangannya lurus, tajam, dan liar. Otaknya berpacu dengan kecepatan maksimal, memetakan setiap inci dari sekolah seluas tiga hektar ini.​Di mana dia? Di mana gadis keras kepala itu bersembunyi?​Sekolah ini adalah kerajaannya. Atlas tahu setiap titik buta kamera pengawas CCTV, setiap pintu darurat yang kuncinya rusak, dan setiap lorong sepi yang jarang dilewati guru. Jika Vea ingin menghindari konfrontasi terbuka yang bisa memicu pembantaian massal terhadap anak-anak sekolah, gadis itu pasti mencari lokasi yang terisolasi.​Sayap barat.​Napas Atlas memburu saat ia membelok tajam ke arah gedung sayap barat yang sedang direnovasi—tempat di mana ia mengurung Vea pagi tadi. Lorong itu menda

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Udara di lorong utama SMA Pelita Harapan Bangsa terasa lebih padat dari biasanya begitu bel istirahat pertama berdentang nyaring. Ratusan siswa berhamburan keluar dari ruang kelas, menciptakan gelombang kebisingan yang dipenuhi tawa renyah, gosip murahan, dan suara gesekan sepatu di atas lantai pualam yang mengilap.​Bagi dunia luar, tempat ini adalah surga bagi para pewaris takhta kekayaan Indonesia. Namun, pagi ini, di balik dinding-dinding kaca megah itu, sebuah pergeseran lempeng tektonik sosial tengah terjadi.​Atlas Mahardika berjalan di koridor utama dengan langkah lebar yang mendominasi. Di samping kanannya—persis berjarak satu jengkal dari tubuhnya—Vea Kendoveks melangkah dalam diam. Gadis itu tidak lagi pincang separah pagi tadi; efek adrenalin dan ketahanan fisik seorang tentara bayangan tampaknya mulai mengambil alih rasa sakit di bahu kirinya. Kendati demikian, setiap kali ada siswa yang tidak sengaja menyenggol bahunya terlalu dekat, tangan Atlas dengan reflek

  • Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia   .

    ​Riuh rendah suara siswa di koridor perlahan mereda saat Atlas dan Vea membelok ke sayap barat gedung sekolah—area yang sengaja dihindari sebagian besar murid karena sedang dalam tahap renovasi. Udara di sini terasa lebih dingin, berbau cat basah, debu semen, dan kesunyian yang mencekam. Jauh dari tatapan memuja sekaligus menghakimi dari anak-anak elit Pelita Harapan Bangsa. ​Sepanjang perjalanan, tangan kanan Atlas tidak pernah melepaskan cengkeramannya dari siku Vea. Cengkeraman itu tidak menyakiti, namun cukup tegas untuk mengunci posisi gadis itu agar tetap berada di dekatnya. Di sisi kirinya, tersembunyi dari pandangan dunia, lengan gadis itu menggantung kaku. ​Begitu mereka tiba di ujung lorong buntu yang berbatasan dengan tangga darurat menuju atap, Atlas tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, dan dengan satu gerakan cepat namun terukur, ia mendorong bahu kanan Vea hingga punggung gadis itu menabrak dinding beton yang belum dicat.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status