"Sudah! Cukup! Jangan ada yang bikin keributan lagi di sini!" bentak Dokter Bedah dengan suara menggelegar, memotong ancaman Devan dan amarah Bramantyo. "Dok, tapi pemuda ini...." "Bapak Bramantyo, tolong hargai nyawa anak Bapak!" potong Dokter itu cepat, menatap Bramantyo dengan mata menyalang. "Pasien di dalam butuh penanganan darurat, bukan tontonan percekcokan keluarga! Perawat, suruh tim medis fokus ke dalam sekarang!" "Baik, Dok!" sahut perawat wanita yang langsung berlari masuk ke dalam ruang operasi. "Kalian berdua, diam di sini dan jangan membuat kegaduhan!" perintah Dokter itu lagi sambil menunjuk Bramantyo dan Devan bergantian, lalu bergegas masuk menyusul tim medisnya. Begitu pintu ruang operasi kembali tertutup rapat, Arini runtuh. Ketakutan akan kehilangan Rian menguasai seluruh kesadarannya. Ia menangis histeris, terisak hingga suaranya pecah, sama sekali tak mempedulikan sindiran, tatapan tajam, atau cemoohan yang dilontarkan keluarga mantan suaminya. Bagi Arini,
Last Updated : 2026-09-22 Read more