LOGINMahesa bergegas menuju kafe tempat di mana Tiara bekerja. Dia turun dari mobio sambil menenteng sebuah bunga di tangannya."Ada yang bisa dibantu?" Pelayan menyapa Mahesa dengan ramah.Mahesa menganggukkan kepala."Saya ing8n bertemu dengan istri saya, Tiara."Pelayan itu cukup kaget saat mendengar nama Tiara disebut. Namun, tak berlangsung lama pelayan itu memanggil Tiara.Sosok Tiara keluar dari arah dapur. Dia melihat Mahesa duduk di meja sambil tersenyum.Tiara membalas senyuman itu, rasanya dadanya berdetak dengan cepat. "Mas ... kamu ngapain di sini?"Mahesa berdiri, lalu menyodorkan bunga di tangannya. "Aku mau lihat istriku bekerja."Tiara terkekeh."Tapi ... kenapa bawa bunga segala?"Mahesa mengusap pipi Tiara."Karena aku pengen. Aku mau kasih semangat buat kamu."Mahesa tahu, benerapa waktu ke belakang Tiara sudah mendapatkan kesukitan batin dari nomor yang tak dikenal. Maka dari itu dia ingin membuat Tiara merasa bahagia.Tiara menunduk, menyembunyikan senyum malu-malu di bi
"Kamu menuduh Mami, Sa?" Karina melebarkan matanya, sambil bercak pinggang.Mahesa menghela napas."Mahesa mohon sama mami. Mami kan, yang melakukan ini?"Karina berdecih."Mami memang tidak merestui kalian, tapi ... Mami tidak akan melakukan hal itu."Mahesa mengangguk-angguk. "Kalau ini?" Mahesa mengeluarkan ponselnya, lalu dia perlihatkan kepada Karina mengenai chat dan foto dirinya dan juga Siska. Mata Karina sedikit membelalak, dan kembali merubah raut wajahnya.Karina menunjuk fotot tersebut. "Itu foto kamu sama Siska, kan? Terus urusannya sama Mami apa?"Mahesa mebgacak rambutnya frustasi."Mami buntutin Mahesa dan mencoba mempotret semua kegiatan Mahesa dan Siska, lalu mengirimkannya kepada Tiara. Iya kan?"Karina tertawa renyah, seolah tuduhan Mahesa sama sekali tidak masuk akal. Dia bahkan sempat menggelengkan kepala sambil melipat kedua tangan di depan dada.“Ya ampun, Mahesa. Kamu ini sudah besar, tapi masih saja berpikir macam-macam.” Karina mendecakkan lidah. “Memangnya Ma
"Tentu saja aku lembur." Mahesa mengerutkan keningnya. "Kamu enggak percaya sama Mas?"Tiara menggelengkan kepala."Bukan itu maksudnya, hanya saja ...."Mahesa menggenggam lengan Tiara."Katakan saja, ada apa? Aku tidak mau jika hubungan kita renggang hanya karena kesalahpahaman."Tiara menelan salvinya, keringat dingin membanjiri tangannya. "Baiklah Mas. Aku akan katakan yang sebenarnya."Mahesa mengangguk."Iya bilang aja."Tiara mengeluarkan ponseonya, lalu dia berikan pada Mahesa. Pria itu menerimanya dan beberapa detik kemudian wajahnya terkejut bukan main.Mahesa menatap layar ponsel Tiara lekat-lekat. Foto yang memperlihatkan dirinya sedang makan bersama Siska di restoran sushi terpampang jelas di sana. Bahkan, sudut pengambilan gambarnya membuat mereka terlihat begitu dekat. Seketika, wajah Mahesa berubah.“Ini ....” Mahesa memperbesar foto tersebut. “Kamu dapat dari mana?”Tiara menatapnya dengan dada berdebar. Dia tidak menyangka Mahesa justru menanyakan asal foto itu, bukan
Dia menunjukkan foto Mahesa dan Siska di restoran sushi. Nina menerimanya, lalu memperhatikan gambar tersebut dengan saksama.“Ini Mahesa?” tanyanya memastikan.Tiara mengangguk lemah. Nina terdiam beberapa saat. Dia tidak ingin langsung berprasangka buruk, tetapi ada sesuatu yang membuatnya ikut merasa tidak nyaman.“Dia bilang ke kamu kalau semalam mau makan bersama Siska?” Nina menunjuk foto tersebut.“Enggak.” Tiara menggeleng. “Dia cuma bilang pulang terlambat karena pekerjaan. Aku bahkan sudah menyiapkan makan malam untuknya, tapi akhirnya semua makanan itu aku bagikan ke tetangga.”Nina menghela napas panjang. “Ya ampun, Ra.”“Aku enggak tahu harus bagaimana. Aku ingin percaya sama Mas Mahesa, tapi kenapa dia enggak cerita?” Tiara mengusap sudut matanya. “Apa aku terlalu menuntut kalau cuma ingin dia pulang tepat waktu?”“Enggak, Ra. Kamu istrinya. Wajar kalau kamu ingin menghabiskan waktu bersama suamimu sendiri.” Nina mengusap bahu Tiara. “Tapi, jangan mengambil keputusan saa
Pagi harinya, Tiara kembali sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Seperti biasa, dia menyiapkan segala keperluan Mahesa sebelum pria itu berangkat bekerja.Namun, pagi ini tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambut Mahesa. Pria itu keluar dari kamar, lalu menghampiri istrinya yang sedang meletakkan piring di atas meja makan.“Pagi, Sayang.” Mahesa mengecup pelan kening Tiara.“Pagi, Mas.” Tiara menjawab singkat tanpa menoleh.Mahesa mengernyit. Dia menarik kursi, kemudian memperhatikan istrinya yang kembali sibuk di dapur.Mahesa menatap istrinya.“Ra, kamu masih marah sama aku?”Tiara menggeleng sambil membawa segelas air putih ke meja makan.“Enggak, Mas. Kenapa harus marah?”“Kalau enggak marah, kenapa dari tadi kamu diam saja?” Mahesa meraih tangan Tiara, berusaha membuat istrinya menatapnya.Tiara terdiam sesaat. Dia tidak ingin mempermasalahkan hal kecil, apalagi mengetahui Mahesa sedang berjuang mempertahankan usahanya. Namun, bukan berarti dirinya tidak membutuhkan perhatian
"Terima kasih, Siska. Aku tidak sangka kita akan berhasil mendapatkan gedung ini." Mahesa tersenyum lebar, tanpa sadar sambil menggenggam lengan Siska. Siska tersenyum tipis. Ada perasaan bahagia yang sulit dia sembunyikan. Bukan hanya karena mereka berhasil mendapatkan gedung yang diinginkan, tetapi juga karena perhatian Mahesa yang selama ini selalu dia harapkan. “Sa, kamu tahu enggak? Aku senang banget bisa membantu kamu,” ucap Siska pelan, dengan pipi yang terlihat memerah. Mahesa menoleh, lalu tertawa kecil. “Aku juga senang. Kalau bukan karena bantuan kamu, mungkin aku masih kesulitan mempertahankan usaha ini.” Siska menunduk sesaat. Genggaman tangan Mahesa di lengannya membuat jantungnya berdebar. Dia tahu pria itu sudah memiliki istri, tetapi perasaannya kepada Mahesa tidak pernah benar-benar hilang. “Kalau begitu, kamu harus traktir aku makan,” goda Siska, berusaha mencairkan suasana. Mahesa langsung mengangguk. “Boleh. Kamu mau makan apa? Kali ini aku yang baya







