Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. "Mas..." panggil Alya ragu. Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia
Terakhir Diperbarui : 2026-09-25 Baca selengkapnya