Setelah memastikan seluruh kebutuhan medis dan kenyamanan ibunya terpenuhi di kamar rawat tersebut, Rehan melangkah keluar. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding lorong yang dingin, merogoh ponsel dari saku celana, lalu mengoperasikan jarinya mengetik pesan untuk Winda. Vonis mengerikan yang didengarnya tentang Liona terus menggema, menuntut kepastian yang melubangi benaknya. “Win, aku mau tanya jujur. Liona benar-benar kena Leukemia?” tulis Rehan pada pesan singkatnya Tak sampai satu menit, ponsel Rehan bergetar. Winda bukannya mengetik balasan, melainkan langsung menelepon. Rehan mengangkatnya cepat. "Han, kamu tahu dari mana soal Leukemia?" suara Winda terdengar panik dan menuntut di seberang telepon. "Setahuku belum ada yang kasih tahu kamu. Kamu tidak dengar dari Liona, kan?" Rehan menarik nafas panjang, memutar otak untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia menghabiskan malam bersama Tante Meri. "Bukan, bukan dari Liona," potong Rehan cepat, suaranya diatur
Last Updated : 2026-08-22 Read more