Share

Bab 14

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-22 17:13:03
Bab 14

​Keheningan kamar utama kembali menguasai saat nafas mereka perlahan teratur.

Tante Meri masih melingkarkan lengan mulusnya ketat di dada telanjang Rehan, menyandarkan kepala di sana.

Tapi, bayangan Liona di rumah sakit membuat dada Rehan mulai terasa sesak.

Tanpa menunggu lebih lama, Rehan perlahan menggeser lengan Tante Meri, lalu bergerak hendak bangkit untuk mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.

​"Mau ke mana kamu?" suara Tante Meri terdengar dingin, menghentikan gerak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 98

    ​Tante Meri tersudut di samping meja rias, tangannya menahan dada tegap Rehan."Jangan di sini, Rehan... Liona ada di sebelah," bisik Tante Meri dengan panik.​Tanpa mempedulikan penolakan itu, Rehan menarik pinggang Tante Meri mendekat dan merengkuh tubuhnya erat.Bibir Rehan mendarat panas di bibir Tante Meri, membungkam ucapan wanita itu dalam lumatan yang penuh gairah.Awalnya Tante Meri berontak kecil, mendorong bahu Rehan dengan jemarinya yang gemetar.Tapi sentuhan dan desakan tubuh pemuda itu menghancurkan sisa pertahanannya. Dia tahu betul, kehangatan ini yang sebenarnya dia harapkan sejak tadi.​"Mmh..." erang Tante Meri pasrah, bisikan halusnya akhirnya lolos dari tenggorokan. Tangannya yang semula menolak perlahan naik, mengalung erat di leher Rehan.​"Pelan-pelan... Jangan bersuara, nanti Liona dengar..." Bisik Tante Meri parau di sela ciuman mereka yang memburu.​"Aku tahu, Tante. Tenang saja..." Balas Rehan berbisik di lekuk leher wanita itu.​Dengan gerakan yang sangat

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 97

    ​Rombongan kecil itu berjalan perlahan menyusuri area parkir rumah sakit.Rehan mendorong kursi roda Liona dengan hati-hati, sementara Winda berjalan sejajar di sampingnya membawa tas pakaian.Tante Meri melangkah paling depan dengan gaya anggunnya yang penuh wibawa.​Begitu tiba di samping mobil hitam yang terparkir rapi, Tante Meri merogoh tasnya, mengeluarkan kunci, lalu melangkah menuju pintu pengemudi.​Melihat hal itu, Rehan dengan cepat memotong langkah Tante Meri dan secara cekatan meraih kunci dari genggaman wanita itu.​"Biar saya saja yang menyetir, Tante," ujar Rehan.​Tante Meri tersentak kecil. Tangannya menggantung di udara seraya menatap Rehan tajam."Saya masih sanggup menyetir, Rehan."​"Tante kelihatan lelah. Bahaya kalau memaksa. Biar saya." Potong Rehan tanpa mengalihkan pandangannya.​"Ih, Rehan gaya banget mau jadi supir kita," goda Winda seraya terkekeh pelan.​Liona tersenyum manis dari kursi roda. "Tidak apa-apa, Win. Biar Mama tidak capek juga."​Rehan memba

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 96

    ​Sinar matahari sore yang mulai meredup menyinari langkah kaki Rehan saat memasuki halaman rumahnya.Rasa lelah begitu terpancar dari wajah pemuda itu setelah seharian berada di rumah sakit, tiap jengkal kecemasan dan ketegangan yang tak kunjung usai.​Aroma harum masakan rumah langsung menyambut indra penciumannya begitu Rehan mendorong pintu depan yang tidak terkunci.​"Rehan? Kamu sudah pulang, Nak?" sapa Bu Rahmi dari arah meja makan.Tangannya masih sibuk menata beberapa piring lauk yang asapnya masih mengepul hangat.​"Iya, Bu. Baru saja sampai," jawab Rehan seraya melepas jaketnya dan menyangkutkannya di kapstok dekat pintu.​Bu Rahmi menghentikan aktivitasnya, lalu berjalan menghampiri Rehan dengan raut wajah penuh kekhawatiran."Kamu itu tadi pagi pergi terburu-buru sekali, Han. Ibu sampai cemas. Ada masalah apa sebenarnya?"​Rehan memaksakan senyum tipis, berusaha mengikis gurat cemas di wajah sang ibu."Tidak ada apa-apa kok, Bu. Cuma ada urusan mendadak saja tadi pagi." Sa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 95

    ​Gema engsel pintu kamar perawatan yang tertutup rapat masih menyisakan keheningan tipis di dalam ruangan tempat Liona dirawat.Rehan duduk membisu di atas kursi kayu, tubuhnya membeku bagaikan patung dengan pandangan mata tertuju pada daun pintu tersebut.​Kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Tante Meri sebuah tawaran untuk bekerja di perusahaannya terus berputar-putar di dalam kepala Rehan.Penawaran itu menyuntikkan kebingungan sekaligus kerinduan yang membakar benaknya.​"Tante... kenapa Tante malah memberi tawaran seperti ini lalu pergi begitu saja?" bisik Rehan menjerit dalam hati seraya mengepalkan jemarinya kuat-kuat di atas pangkuan.​"Rehan?" panggil Liona pelan.​Rehan tersentak, tetapi tidak langsung menoleh.​"Rehan, kamu dengar aku tidak?" panggil Liona sekali lagi, kali ini mengikis jarak dan menggoyangkan lengan Rehan pelan untuk membuyarkan lamunan kekasihnya.​Rehan tersentak kaku, berusaha menutupi gejolak hatinya yang ingin menyusul Tante Meri. Dia memutar kep

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 94

    ​"Beneran kan, Han?" imbuh Aldo menegaskan pertanyaannya yang sempat menggantung di udara.Matanya menatap lurus ke dalam mata Rehan, menuntut kejujuran tanpa alibi.​"Ngomong apa sih kamu, Do? Sembarangan saja kalau nebak," elak Rehan dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.​"Kamu tak bisa bohong dari aku, Han. Raut muka kamu dari awal kerja sampai jam pulang ini cuma menunjukkan satu hal. Kamu lagi merindukan wanita itu." Ucap Aldo penuh dengan pemahaman. ​Rehan terdiam bisu. Sanggahan yang ingin dia lontarkan mendadak tertahan di ujung lidah.Di dalam benaknya yang paling dalam, Rehan memang sedang dilanda kebingungan yang teramat sangat.​Aldo menepuk bahu Rehan pelan, menyuntikkan nada bicara yang lebih bersahabat dan santai."Tapi jujur ya, Han... sangat wajar kalau perasaan itu muncul di hati kamu."​Rehan mendongak, menatap sahabatnya dengan alis berkerut tipis.​"Coba pikirkan. Wanita yang lagi dekat sama kamu sekarang itu mampu memberikan semua yang seorang pria but

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 93

    ​Puk!​Sebuah tepukan cukup keras di bahu seketika mengejutkan Rehan, membuyarkan seluruh lamunannya, dan hampir saja menjatuhkan sendok pengaduk kristal yang sedang dipegangnya.​"Astaga!" Kejut Rehan kaget.​dia menoleh cepat dan mendapati Aldo sudah berdiri di sisinya. Sahabatnya itu menyunggingkan senyum jahil, menatap Rehan dengan tatapan penuh penafsiran.​"Ngelamun terus dari tadi, Han! Aku perhatikan mata kamu celingukan terus ke arah lorong VIP. Kenapa? Lagi menunggu Tante Meri datang ya?" Tegur Aldo seraya menyenggol pinggang Rehan menggunakan sikunya.​"Ngomong apa sih kamu, Do? Aku cuma lagi sedikit pusing saja, bukan menunggu siapa-siapa." Elak Rehan seraya memalingkan wajah, berpura-pura sibuk mengelap permukaan meja bar yang sudah bersih. ​"Ah, masa iya? kayak ada yang hilang. Kelihatan jelas kok dari raut muka kamu,” bisik Aldo terkekeh pelan. ​"Aku beneran cuma capek, Do," cetus Rehan pendek.​"Capek atau kangen? Biasanya kalau Tante Meri datang, kamu langsung sigap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status