Ujung jari telunjuk Juna tertahan di atas tombol gulir tetikus komputer. Matanya menatap barisan spreadsheet di layar monitor di depannya. Tatapannya bergerak ke kolom Ghosting, nanti dihubungi lagi, dan Tidak tertarik. Udara dari kisi-kisi AC di langit-langit meniup tengkuknya.Juna menatap nama Percetaka Berkah Agung di satu baris nama di baris nomor 42, lalu berpindah ke catatan Dikasih air mineral, belum butuh web di kolom keterangan."Ngapain bengong?" Rafi menepuk bahu Juna, tangannya memegang gelas kertas berisi kopi instan. Asap tipis mengepul di atasnya.Juna menoleh. "Mau follow up.""Ya telepon. Kenapa melongo kayak ayam belum dikasih makan?" Rafi menyesap kopinya."Takut ganggu," suara Juna pelan, jarinya beralih memutar ujung kabel telepon yang melingkar di atas meja. "Kemarin pas gue ke sana, dia lagi sibuk mindahin kardus tinta."Rafi terkekeh, menurunkan gelas kopinya. "Kalau takut ganggu orang, jangan jadi sales, Jun. Jadi penjaga kubur aja. Di sana nggak ada yang bak
Last Updated : 2026-09-07 Read more