Malam itu aku habiskan di pelukan Nathaniel. Kami tidak banyak bicara, hanya berbaring bersama, merasakan kehangatan satu sama lain, dan membiarkan keheningan berbicara. Aku meletakkan kepalaku di dadanya, mendengar detak jantungnya yang tenang."Kau tidak menyesal?" Tanya Nathaniel, jari-jarinya menyusuri rambutku.Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah menyesal bersamamu."Dia mencium keningku. "Bagus. Karena aku juga tidak."Pagi hari, aku bangun sebelum Nathaniel. Aku berjalan ke kamarku dengan hati-hati, berganti pakaian, dan turun ke ruang makan. Di meja panjang, sarapan sudah tersaji, croissant hangat, selai stroberi, buah-buahan segar, dan kopi hitam.Tapi aku tidak sendirian.Derek sudah duduk di ujung meja, wajahnya kusut, matanya merah karena kurang tidur. Setelan abu-abunya kusut, seolah dia tidak berganti pakaian semalaman. Dia menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca antara kemarahan, kebingungan, dan sesuatu yang lain."Kau tidak datang tadi malam," katanya, suar
Last Updated : 2026-08-23 Read more