Compartir

Bab 30

Autor: Author Marr
last update Fecha de publicación: 2026-08-26 20:12:30

Keesokan harinya, aku datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Aku masih merasakan sisa-sisa malam yang panas bersama Nathaniel, dan aku tidak ingin ada yang curiga. Aku duduk di mejaku, menyalakan komputer, dan mulai mengatur jadwal Nathaniel untuk hari itu.

Tapi pikiranku terganggu. Ayahku masih di kota ini. Aku tahu dia akan datang ke kantor untuk bertemu Nathaniel. Dan aku tahu pertemuan mereka akan membahas bisnis—bisnis yang sekarang terasa seperti penghianatan bagiku.

Pintu ruang kerja
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 96

    Aku duduk di meja makan malam yang terlalu besar untuk tiga orang. Ayah di ujung meja, Ethan di sisi kirinya. Aku di sebelah kanan, tepat di depan kursi kosong yang biasanya diisi tamu.Mereka berdua diam.Bukan diam yang nyaman. Diam yang penuh kata-kata tidak terucap. Ayah memotong dagingnya dengan gerakan lambat, Ethan menggulir sesuatu di tablet sambil sesekali mengangguk pada ayah. Pembicaraan bisnis. Saham, merger, kerugian yang diderita perusahaan Voss sejak skandal meledak. Namaku tidak disebut, tapi setiap angka yang mereka bicarakan terasa seperti tamparan.Aku makan pelan. Nasi terasa hambar, sayuran seperti kapas. Sejak dikunci di kamar kemarin, nafsu makanku belum kembali sepenuhnya. Tapi aku memaksa diri. Ethan sempat melirikku tadi, memberi isyarat agar aku makan. Aku menurut.“Proyeksi kuartal depan turun 18 persen. Investor asing mulai menarik diri. Mereka menunggu pernyataan resmi dari keluarga," kata Ethan.Ayah mengangguk tanpa menoleh. “Kita keluarkan pernyataan m

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 95

    Derek memarkir mobilnya di basement gedung itu dengan kasar. Mesin dimatikan, tapi dia masih duduk diam beberapa detik, tangan mencengkeram setir. Seharian penuh dia bertemu pengacara, mencoba menarik dana yang dibekukan, mencoba menyangkal laporan korupsi. Semuanya buntu. Nama Whitmore yang dulu membuka setiap pintu kini menjadi tembok.Dia naik lift ke lantai 48. Pintu penthouse terbuka otomatis saat kartu aksesnya didekatkan tapi hanya untuk beberapa detik. Di dalam, suasana sudah berbeda. Tidak ada lampu menyala. Perabotan masih ada, tapi terasa kosong.Anita berdiri di koridor luar, bayi laki-laki itu digendong di dada, dibungkus selimut tebal. Wajahnya pucat, mata merah. Di sampingnya ada dua koper besar dan tas bayi.“Mereka datang pagi ini. Orang-orang dari pengadilan. Mereka bilang tempat ini disita. Aset perusahaan. Kita harus keluar sebelum sore.”“Apa?”“Penthose ini sudah bukan milik kita lagi. Mereka kasih waktu sampai jam enam," kata Anita.Derek mengusap wajahnya kasar

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 94

    Author'sNathaniel duduk di kursi belakang mobil yang sedang melaju kencang menuju gedung kantor pusat. Wajahnya tenang, tapi jari-jarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan tidak sabar. Dia mencoba nomor Sera untuk yang kelima kalinya pagi itu. Nada sibuk. Lalu pesan otomatis: nomor tidak aktif.Dia menghela napas, lalu menekan nama lain di daftar kontak. Harisson Voss.Layar ponsel menyala. Beberapa detik kemudian wajah Harisson muncul. Latar belakangnya ruang kerja di rumah, tirai masih tertutup.“Nathaniel,” sapa Harisson datar. Tidak ada basa-basi.“Kenapa nomor Sera tidak aktif? Aku sudah mencoba sejak tadi pagi. Apa yang kau lakukan?”Harisson menatap kamera tanpa berkedip. “Jangan menghubunginya lagi.”Nathaniel mengangkat alis. “Kekanakan sekali, kau mengunci anakmu sendiri di kamar dan mematikan nomornya? Kita bukan hidup di abad ke-19.”“Orang gila mana yang meniduri menantunya sendiri? Kau yang kekanakan. Kau yang tidak tahu malu. Kau seumuran denganku, kau seharusnya menjadi co

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 93

    Ponselku bergetar di atas meja nakas. Aku masih terbungkus selimut, tubuh telanjang masih hangat oleh sisa-sisa malam bersama Nathaniel, saat nama “Ethan” muncul di layar. Aku ragu sejenak sebelum mengangkatnya.“Sera.” Suara kakakku terdengar serak, seolah dia tidak tidur semalaman. “Pulang sekarang. Setidaknya jangan melarikan diri.”Aku duduk, selimut turun ke pinggang. “Aku tidak melarikan diri, aku hanya butuh waktu.”“Ayah sakit.”Dua kata itu membuat darahku seolah berhenti. “Apa?”“Ayah sakit, dokter bilang tekanan darahnya naik drastis sejak kemarin. Dia tidak mau dirawat di rumah sakit. Dia hanya diam di rumah. Pulang lah ke rumah sebelum semuanya lebih parah.”Aku menelan ludah. “Aku segera pulang.”Telepon terputus. Aku duduk mematung beberapa detik, lalu menoleh ke Nathaniel yang sudah berdiri di ambang pintu balkon, masih bertelanjang dada, rokok di jari.“Ethan bilang ayahku sakit. Aku harus pulang.”Nathaniel mematikan rokok, masuk, lalu mengangguk sekali. “Aku antar.

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 92

    SERA'S POV.Aku terjaga di antara seprai yang masih berantakan. Selimut tebal hanya menyisakan dada ke atas, menyisakan kulit telanjangku yang masih lengket oleh keringat dan sisa-sisa malam tadi.Aku menoleh pelan, menatap sekeliling kamar. Dindingnya berwarna krem hangat, perabotan kayu gelap yang minimalis tapi mahal. Ada vas bunga kosong di meja nakas, cermin besar di sudut, dan pintu kaca yang terbuka ke balkon. Bau rokok samar masuk bersama angin pagi.Nathaniel berdiri di luar, punggungnya menghadapku. Bahu bidangnya masih telanjang, celana longgar digantung rendah di pinggang. Asap rokok mengepul pelan dari jarinya, terbawa angin menuju pepohonan. Dia terlihat tenang, terlalu tenang untuk pria yang kemarin baru saja menghancurkan segalanya di ruang rapat.Aku menarik selimut lebih tinggi, menutupi dada. Tubuhku masih pegal, terutama di antara paha, pengingat jelas bahwa beberapa jam lalu aku membiarkan dirinya mengisi setiap bagian diriku tanpa ampun.Nathaniel mematikan rokok

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 91

    Mobil terus melaju menembus hujan yang semakin deras. Sera tidak bertanya ke mana mereka pergi. Dia hanya memegang tangan Nathaniel erat, seolah takut jika melepaskan, segalanya akan hilang lagi. Setelah hampir satu jam, mobil berbelok ke jalan kecil yang menanjang, dikelilingi pepohonan tinggi. Di ujung jalan itu berdiri sebuah villa modern bertingkat dua dengan dinding kaca dan kayu, tersembunyi dari dunia luar.Nathaniel memarkir mobil di bawah kanopi. Dia turun lebih dulu, membuka payung, lalu membuka pintu Sera. Hujan masih turun deras saat mereka berlari ke pintu utama. Nathaniel menekan kode di keypad, pintu terbuka, dan hangat udara di dalam langsung menyambut.Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah terputus.Sera masih basah. Rambutnya menempel di pipi, blus putihnya transparan di beberapa tempat karena hujan. Nathaniel menatapnya dalam cahaya redup ruang tamu villa tanpa berkata apa-apa, dia menarik Sera ke dalam pelukan dan menciumnya.Ciuman itu dalam, lapar, penuh rasa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status