Ivy terdiam. Ia menatap ke luar jendela kaca, melihat orang-orang yang berlalu-lalang dengan tergesa, seolah masing-masing dengan ego mereka sendiri. Pemandangan itu memicu memori yang sangat ia benci, seperti tentang seorang gadis kecil yang duduk di bangku taman panti asuhan, menatap gerbang besi setiap sore selama tiga tahun, berharap ayahnya datang dan mengatakan bahwa kecelakaan itu hanyalah mimpi buruk."Sudah berapa lama kau di sini?""Dua hari."Ivy mengernyit. "Dua hari? Lalu staf kafe ini membiarkanmu?""Aku sembunyi di toilet kalau mereka berkeliling." Anna mendongak, matanya berkaca-kaca. "Nyonya cantik, apa kau melihat mamaku?"Rasa sesak yang aneh menghantam dada Ivy. Ia bukan tipe wanita yang mudah tersentuh oleh drama kemanusiaan, tapi melihat Anna, ia menyaksikan bayangannya sendiri sepuluh tahun lalu, hancur, sendirian, dan tidak punya tempat untuk lari."Mamamu tidak akan datang, Anna," ucap Ivy dengan kejujuran yang kejam. "Di dunia ini, orang-orang yang pergi tida
آخر تحديث : 2026-10-15 اقرأ المزيد